JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pebulutangkis tunggal putri andalan Indonesia Gregoria Mariska Tunjung gagal ke babak final Olimpiade Paris 2024 setelah ditaklukkan pemain peringkat 1 dunia asal Korea Selatan An Se Young. Gregoria kalah lewat pertarungan sengit tiga gim melawan An Se Young yang berakhir dengan skor skor 21-11, 13-21, 16-21 pada babak semifinal yang berlangsung di Porte de La Chapelle Arena Paris, Minggu (4/8/2024). Dengan hasil ini, maka Gregoria masih memiliki kesempatan untuk memperebutkan medali perunggu yang akan dipertandingkan pada Senin (5/8/2024). Perjuangan Gregoria yang terhenti di babak semifinal memastikan Indonesia tanpa wakil di partai final Olimpiade Paris 2024. Pasalnya, lima wakil Indonesia lainnya telah tersingkir lebih awal dari pesta olahraga terbesar di dunia itu. Dua wakil di tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie tersingkir lebih awal, yakni pada babak penyisihan fase grup. Kekalahan Ginting dan Jojo menjadi sejarah kelam bagi tunggal putra Indonesia di Olimpiade. Sebab untuk pertama kalinya tidak ada satu pun tunggal putra yang melewati babak grup. Nasib serupa dialami ganda putri Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti yang juga gugur di fase grup. Apri yang sebelumnya di Olimpiade Tokyo 2020 berpasangan dengan Greysia Polii berhasil mengukir sejarah sebagai ganda putri Indonesia pertama yang sukses merebut medali emas di Olimpiade, kini bersama Siti seolah tak berkutik dari lawan-lawannya di Paris. Begitu pula dengan ganda campuran Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari yang juga angkat koper lebih awal karena tak mampu melewati fase grup. Kegagalan Rinov/Pitha juga menciptakan rekor buruk karena untuk pertama kalinya Indonesia tanpa wakil ganda campuran di perempat final Olimpiade. Sejak sektor ganda campuran pertama kali dipertandingkan di Olimpiade pada tahun 1996 hingga Olimpiade 2020 Tokyo, Indonesia selalu meloloskan wakil ke babak perempat final. Indonesia sempat menaruh harapan dari sektor ganda putra Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto untuk bisa meraih medali. Sayang, harapan tersebut sirna setelah ganda putra peringkat ketujuh dunia itu terhenti di babak perempat final. Kekalahan Fajar/Rian memperpanjang rekor buruk ganda putra Indonesia yang gagal menyumbang medali sejak Olimpiade 2012 di London. Setelah Olimpiade London, belum pernah lagi ada pasangan ganda putra Indonesia yang bisa menembus tiga besar. Dengan hasil buruk tim Merah Putih ini, membuat tradisi emas bulutangkis Indonesia di Olimpiade kembali terputus. Tradisi emas sempat terputus pada Olimpiade London 2012, di mana saat itu tim Indonesia pulang tanpa medali. Indonesia yang dulunya dikenal sebagai rajanya bulutangkis dunia karena selalu mencetak juara, kini tinggal kenangan.