JAKARTA - Kegiatan ini dilakukan oleh Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Fakultas Ekologi Manusia yang bernama GenKaburAjaDulu, diketuai oleh Fauzan Maulana dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat beserta empat anggotanya, yakni Helmi Falah dari Departemen Statistika dan Sains Data, Naufal Akmaluqyan Muhammad dari Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fatimatul Nasywa Adzkya dari Departemen Ekonomi Syariah, dan Aenur Rizqi Awaliyah dari Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Berdasarkan diskusi, tren #KaburAjaDulu dipandang oleh peserta sebagai simbol keresahan sekaligus harapan. AR berpendapat, tagar ini mencerminkan kekecewaan masyarakat terhadap kondisi sosial ekonomi di Indoensia. “Masyarakat sudah bekerja, menempuh pendidikan tinggi, keluar biaya besar, tapi lapangan kerja belum mencukupi. Sementara di luar negeri, peluangnya lebih luas,” ujarnya. Senada dengan hal tersebut, CA dan KA lebih menyoroti aspek ekonomi. CA melihat potensi karier di luar negeri lebih besar, terutama dalam bidang desain dengan gaji yang lebih layak. KA menambahkan bahwa mencari magang di Indonesia kerap sulit, bahkan banyak yang tidak dibayar, sehingga generasi muda merasa kurang dihargai. Adapun dari segi aspirasi generasi muda, RA beranggapan bahwa #KaburAjaDulu justru bisa menjadi sinyal positif bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem. “Pendapat kita sebagai masyarakat hampir diabaikan, kabur aja dulu ini bertanda positif untuk pemerintah bisa memperbaiki tatanan,” ucapnya. KI juga menambahkan, makna tagar ini bergantung pada masing-masing individu; ada yang sekadar bercanda, ada pula yang serius ingin mengembangkan diri di luar negeri untuk kemudian kembali membangun Indonesia. Pada akhir sesi FGD, para peserta menyampaikan sejumlah rekomendasi. Usulan yang mengemuka antara lain perbaikan kurikulum pendidikan agar relevan dengan industri, peningkatan kualitas magang, pemerataan kesempatan beasiswa, hingga reformasi sistem rekrutmen agar lebih transparan dan bebas nepotisme. Harapannya, dengan adanya FGD ini, suara Generasi Z tentang tren #KaburAjaDulu dapat menjadi perhatian bersama agar terciptanya kebijakan atau ruang-ruang berkembang yang lebih layak. Dengan begitu, generasi muda tetap bisa melihat Indonesia sebagai tempat yang menjanjikan tanpa harus “kabur” ke luar negeri.