JAKARTA, NETRALNEWS.COM- Penguatan literasi politik perlu dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) jika melihat data apatis politik beberapa tahun terakhir. Dengan kata lain, urgensi ada di kalangan muda mudi yang apatis terhadap politik. Saya sebagai generasi muda, mau tidak mau bersuara dengan tulisan ini. Sebab, belum ada fasilitas khusus surat ditujukan kepada KPU. Perlu disadari kalau ini salah satu masalah kolektif yang perlu dilakukan oleh kita semua di bagian lapisan, secara efektif yaitu melakukan aktivitas literasi politik. Hasil pada tahun 2021 mencatat bahwa tingkat kepercayaan anak muda terhadap partai politik (Parpol) rendah, data tercatat di angka 32,67&. Fakta tersebut disampaikan oleh KPU August Mellaz, kekhawatiran kerendahan pada generasi muda hanya tercatat 32.67%, kalau partai politik. Bagaimana dilakukan oleh generasi milenial, gen z, padahal mereka memiliki aktivitas pasif terhadap politik. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia dihadapkan dengan ramainya debat Capres-Cawapres, tidak menampik kemungkinan masyarakat telah punya pilihan ideal versinya. Sejauh ini masyarakat hanya sekadar dapat depat informasi debat dari media yang diselenggarakan. Namun, dengan banyak media online di sekitar kita masyarakat masuk ke ranah-ranah media sejenis tik-tok. Masyarakat ketika membicara debat Capres dan Cawapres referensi dari TikTok, Instagram, YouTube, dan twitter. Platform tersebut menjadi sasaran empuk para buzzer-buzzer tak bertanggung jawab, seperti memotong video dengan kepentingan paling bisa dipercaya. Jadi dengan mudah diterima oleh masyarakat narasi melalui platform tersebut. Hasil riset pengguna media sosial masyarakat Indonesia membuat kita tercengang dikarenakan data tersebut. Pada tahun 2023, Good Stats Data mencatat telah tercatat jumlah pengguna media sosial di Indonesia mencapai 167 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 78% dari jumlah total pengguna internet di Indonesia yang mencapai 212,9jt. Data tersebut memberi bukti kalau dunia media itu akan menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan oleh orang-orang pemegang ingin menguasai psikis masyarakat untuk bisa memilih pilihannya. Hal ini sejalan dengan kejadian yang dirasakan oleh masyarakat, bahwa masyarakat dari kacamata satu sangat bisa menerima perbincangan media. Selain itu, tak mudah bisa hati-hati juga karena akan menjadi ancaman sekaligus menyenangkan. Kemampuan masyarakat menerima berita dan informasi seperti kilatan flash online dipotretkan. Karena setiap saat secara bersamaan masyarakat akan melakukan sesuatu, melakukan sesuatu, entah bekerja di pasar tradisional, pasar elektronik, atau dengan kata lain masyarakat melakukan kegiatan secara bersamaan akan melakukan menerima hal lain. Salah satunya ialah berita dan informasi. Jika mencermati aktivitas akhir-akhir ini, aktivitas ganda (rerata buka pekerjaan word, bersamaan buka email, dan kadang juga dengerin music sambil membaca buku, atau kerja lainnya). Aktivitas ganda secara tidak langsung terjadi di kehidupan sehari-hari kita. Salah dua aktivitas kita, ketika berselancar di media sosial, secara bersamaan juga menerima notifikasi dari platform di media ‘a’ atau juga di media ‘b’ ada di layar komputer kerja. Adapun kita dapat melakukan. Sependek hemat saya, ialah dengan memperluas literasi politik secara massif perlu dilakukan. Aktivitas tersebut tidak sekadar datang ke kampus-kampus. Bukan tidak efektif membuat narasi politik di kampus, tapi terkadang terjebak pada transpolitika. Karena di kampus perlu dicurigai ada indikasi kepentingan dibuat kampanye sangat renyah, maka butuh hati-hati kalau kampus mendatangi para politisi. Paling dikhawatirkan itu masyarakat mendapat pandangan buruk lantaran berbeda pandangan. Salah satu opsi paling bisa dilakukan. Berkumpullah para buzzer KPU untuk membuat narasi serentak dengan tujuan memberikan pemahaman atas sehatnya demokrasi kita ketika menjelang Pilpres 2024. Jangan sampai masyarakat enggan bahkan distras kepada negara karena merasa sangat banyak pertikaian argumentasi penuh dengan sentimentil. Semestinya perlu disadari kalau media selama ini yang menjadi patron sudah tidak dapat dipercayai. Literasi Politik Literasi politik tidak hanya sekadar menjadi kepentingan musiman dapat dimanfaatkan oleh beberapa kelompok saja, khususnya hanya dimanfaatkan oleh para partai politik—yang punya berbagai cara untuk memenangkan—yang dibela. Jika itu terjadi demokrasi tidak begitu sehat lagi. Berkumpulah para pegiat literasi kampus lalu memberikan narasi politik. Hal ini perlu ada tujuan pada sebuah pandangan mengenai narasi politik yang muncul, sehingga dapat dijadikan satu referensi penting kepadanya. Jika memandang narasi penting dalam dunia kampus begitu empuk penyasarnya. Pemangku kebijakan di desa dan kota bisa memberikan sosialisasi, bahwa pendidikan tidak hanya membicarakan moral, tapi juga perlu memberikan narasi penting literasi politik. Kemudian bisa dicerna dengan mudah, sebab mahasiswa akan lebih mudah mencapai pemahaman atau kesadaran sekaligus kesabaran kolektif. Solusi untuk KPU bisa memberikan kepercayaan kepada masyarakat, bahwa semua masyarakat bisa ikut terlibat aktif pada pemilu 2024 nanti, ketika dimulai. Jadi jangan sampai ada masyarakat pasif. Apalagi Golput dengan tanpa dasar. Apalagi dasarnya hanya kontra dengan pandangan secara subjektif—yang dibela kebenarannya. Maka perlu melakukan sosialisasi literasi politik, dengan melakukan sosialisasi secara sabar kolektif. Karena masyarakat perlu memberi jawaban atas kebutuhan masyarakat. Namun perlu dilakukan dengan cara sederhana maka melakukan aktivitas aktif di kalangan sosial secara masif. Hal ini dapat menyasar kampanye.