JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apa yang ada di benak kamu kalau mendengar kata "terapi"? Ya, mungkin salah satu yang terlintas adalah upaya penyembuhan suatu penyakit. Tapi tahukah kamu, rupanya ada terapi yang menyenangkan dan tidak terkesan menakutkan yakni membatik. Hal ini sudah dibuktikan oleh Founder Rumah Batik Palbatu, Budi Dwi Haryanto dan beberapa anak pejuang kanker, salah satunya Restu. Melalui batik, para pejuang kanker belajar untuk membuat motif, dilatih untuk berpikir dan berimajinasi. Para pejuang kanker bisa juga membuat sketsa di atas kertas dan memindahkannya ke kain melalui proses canting dengan lilin atau malam yang melatih kesabaran, ketenangan dan fokus. Pada saat proses mewarnai, pejuang kanker perlu melibatkan rasa dan ketika selesai bisa melihat keindahan hasilnya. Apabila sudah dikeringkan, bisa dilihat hasilnya secara menyeluruh dan timbul rasa bangga dan senang. "Jadi ada sebuah yayasan kanker, kemudian mengirimkan pejuangnya ke kami. Dulunya saya punya Program Sedekah Batik atau sekarang disebut Beasiswa Batik untuk anak berkebutuhan khusus. Nah program beasiswa ini yang kami berikan kepada mereka (para pejuang kanker juga)," ujar Founder Rumah Batik Palbatu, Budi Dwi Haryanto pada Netralnews. Pernyataan itu disampaikan Hary di sela-sela acara Relief Indonesia Festival 2022, yang diselenggarakan PT Relief Indonesia Gemilang bertajuk "Harmoni Indonesia-ku". Acara telah sukses diselenggarakan di Gandaria City pada 15-21 Agustus 2022, bersamaan dengan suasana Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-77. "Saya ingin anak muda seperti Restu, sebagai pejuang kanker juga mengenal proses batik. Harapannya, bisa jadi penerus kita, penerus warisan budaya. Jadi yang ingin belajar batik ayo," kata dia bersemangat.