MALANG, NETRALNEWS.COM - Kekayaan alam Indonesia memang melimpah serta memiliki banyak sumber daya manusia (SDM). Namun, sayangnya hal ini kurang bisa dimanfaatkan dengan baik, sehingga malah menjadi permasalahan yang harus ditangani oleh pemerintah Indonesia. Pada dasarnya, pemanfaatan sumber daya yang efektif akan mendorong perekonomian yang berkualitas. Salah satunya permasalahan adalah mengenai sumber daya manusia yaitu banyaknya pengangguran. Persoalan pengangguran memang tidak ada habisnya untuk dibahas. Di setiap negara pasti juga pasti memiliki jumlah pengangguran. Sebenarnya apa sih pengangguran itu? Dan mengapa pengangguran bisa menjadi salah satu pemicu lambatnya pertumbuhan ekonomi suatu negara? Penggguran adalah kelompok orang yang tidak memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan. Pengangguran bisa disebabkan oleh kurangnya ketrampilan yang dimiliki serta kurangnya lapangan pekerjaan bagi para angkatan kerja. Maka dari itu, pengangguran dianggap sebagai beban keluarga atau beban negara karena mereka tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya serta tidak bisa menghasilkan suatu produksi yang bermanfaat bagi orang lain. Pengangguran di Indonesia yang telah mencapai jutaan orang merupakan suatu permasalahan yang penting yang harus segera ditangani karena dampak pengangguran bisa menjadi sangat berbahaya bagi tatanan kehidupan. Fakta bahwa berbagai kejahatan sosial seperti pencurian, pelacuran, jual beli anak, dan anak jalanan merupakan dampak dari pengangguran. Dampak pengangguran yang luas terhadap tatanan kehidupan sosial telah menjadi kuman penyakit sosial yang relatif berbahaya dan berisiko tinggi yang mengakibatkan turunnya kualitas sumber daya manusia, martabat dan harga diri manusia. Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa angka pengangguran di Indonesia sendiri kini sudah mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tetapi meskipun begitu, bukan berarti masalah pengangguran ini sudah terselesaikan. Karena pada kenyataannya pengangguran di Indonesia masihlah sangat banyak. Masyarakat seringkali mengalami kesulitan untuk mencari pekerjaan yang sesuai karena kurangnya lapangan pekerjaan. Masyarakat dengan keterampilan rendah tentunya akan mengalami kendala yang lebih besar karena keterampilan yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. Menurut Badan Pusat Statistika (BPS), lulusan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK kembali menyumbang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi per Agustus 2022 sebesar 9,42% dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya. Secara umum Tingkat Pengangguran Terbuka pada Agustus 2022 sebesar 5,86% atau setara dengan 8,42 juta orang dari total angkatan kerja, yaitu sebesar 143,72 juta orang. Sehingga, tamatan SMK tercatat menjadi penyumbang tertinggi pengangguran di Indonesia. Di sisi lain, tingkat pengangguran terbuka terbesar kedua ditempati oleh jenjang SMA sebesar 8,57%, kemudian SMP 5,95%. Selain itu TPT dari jenjang Diploma IV, S1, S2, dan S3 menyumbang 4,80%, Diploma I/II/III menyumbang 4,59%. Sementara tingkat pengangguran terbuka yang paling rendah adalah pendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 3,59%. Peristiwa terjadi karena adanya oversupply, yakni lulusan SMK jurusan tertentu jumlahnya berlebih daripada yang lain. Faktor kedua, tidak sesuainya jurusan SMK dengan industri yang membutuhkan di wilayahnya. Karena tidak semua industri membutuhkan tambahan pekerja lulusan SMK untuk setiap tahunnya. Selain itu, banyaknya SMK berbanding lurus dengan banyaknya minat lulusan SMP yang melanjutkan ke sekolah kejuruan dengan harapan bisa langsung kerja. Tetapi pada kenyataanya hal tersebut tidak berbanding lurus dengan jumlah lowongan kerja yang tersedia. Karena sebelum menerima pekerja perusahaan akan melakukan training lagi, sama seperti menerima tenaga kerja lulusan non SMK. Hal ini juga yang mempengaruhi penerimaan lulusan SMK di dunia industri. Kemendikbud bersama pihak industri harus bersama-sama membuat aturan untuk kurikulum standar keahlian lulusan SMK. Maka dari itu, untuk mencegah permasalahan ini dibutuhkan hubungan kerja sama sekolah dengan kalangan industri perlu dilakukan. Sekolah akan menyiapkan siswa siap kerja sesuai standar perusahaan dan pihak industri akan menyerap lulusan SMK tersebut. Sehingga ada jaminan lulusan dari sekolah tersebut bisa bekerja di perusahaan yang menjalin kerja sama. Pembenahan sistem pendidikan di Indonesia juga harus dilakukan agar mutu pendidikan naik. Apalagi, sekolah vokasi seperti SMK yang memang dari awal diselenggarakan untuk mencetak lulusan siap kerja, seharusnya tidak ada lulusannya yang menganggur. Selain itu, juga perlu dilakukan pembinaan lulusan SMK untuk berwirausaha sesuai dengan keahlian. Baik dalam bentuk pelatihan pemasaran, serta permodalan. Sehingga diharapkan dengan dikeluarkannya data BPS ini bisa menjadi acuan untuk memperbaiki sistem pendidikan SMK. Penulis: Indy Rachmadhani