JAKARTA -- SELOKAN itu harus dibersihkan supaya tidak menghambat aliran air. Ditemukan salah satu batu sandungan pemerintahan Willybrodus Lay dan Vicente Hornai Gonsalves sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belu pada periode 2025-2030, adalah Fridolinus Siribein yang saat ini masih menjabat Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Belu. Sebagai akibatnya, sudah lebih dari sepuluh tahun, warga Belu yang adalah pelanggan dan/atau konsumen air bersih dari PDAM Belu tidak terlayani dengan semestinya. Akhirnya warga membeli air tangki seharga dua ratus ribu rupiah dalam kota, dan empat ratus ribu rupiah di luar kota seperti wilayah Mandeu dan Nanaet Dua Besi dan daerah lainnya di Belu. Kita semua tahu bahwa air merupakan kebutuhan paling vital dan paling utama bagi semua makhluk hidup di bumi ini. Lalu, kenapa PDAM Belu tidak bertanggung jawab mengalirkan air bersih kepada warga Belu yang adalah pelanggan? Sampai kapan warga Belu harus membeli air bersih per tangki yang terbilang mahal? Dari penelusuran, penulis menemukan informasi dan akurasi data yang tertulis bahwa Fridolinus Siribein merupakan personil bekas peninggalan Agustinus Taolin dan Aloysius Haleserens yang saat itu masih menjabat Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belu pada periode 2021-2024. Fridolinus Siribein dilantik dan diambil sumpah sebagai Dirut PDAM Belu oleh Agustinus Taolin yang saat itu menjabat Bupati Belu dan melantiknya di Gedung Betelalenok yang terletak di Pusat Kota Atambua pada Senin, 8 November 2021. Jabatannya sebagai Dirut PDAM Belu dari 2021 sampai 2025. Pelantikan itu, tidak dihadiri Aloysius Haleserens sebagai Wakil Bupati Belu dikarenakan antara Agustinus Taolin dan Aloysius Haleserens kala itu, tidak lagi harmonis kepemimpinannya. Sebab, keduanya tidak lagi sejalan saat itu. Keduanya saling gontok-gontokkan dan mulai mengatur jarak untuk merebut pengaruh dan kekuasaan pasca akan lengsernya kepemimpinan mereka kala itu. Bahkan, kala itu, tersiar kabar tidak mengenakkan dari terali besi, keduanya saling mengancam satu sama lain jika saling mengumbar aib ke publik sebelum dan pasca berakhirnya kepemimpinan mereka. Tidak disampai di situ saja. Keduanya bongkar pasang personil untuk menjaga kenyamanan mereka bilamana kalah dalam pemilihan kepala daerah tahun setelahnya menjabat. Bongkar pasang personil itu tidak dalam kalkulasi matang, asalkan setiap pejabat yang akan ditunjuk dan dipilih dan dilantik kala itu untuk menduduki jabatan, mudah dikibuli walaupun miskin pengetahuan dan ilmu. Yang mereka butuhkan adalah kemampuan menjilat. Mengapa Frido Siribein yang Dilantik Jadi Dirut PDAM Belu Kala Itu? Secara prestasi, Fridolinus Siribein tidak punya. Tapi, kemampuan menjilat nomor pertama dan kelas wahid. Itu yang disukai Agustinus Taolin saat itu sebagai Bupati Belu untuk menunjuk dan melantiknya menjadi Dirut PDAM Belu. Kemampuan menjilat ini paling disukai Agustinus Taolin kala itu untuk menggenapi kuota saja supaya orang-orang dekatnya Aloysius Haleserens saat itu tidak diberi kesempatan. Secara personal, antara Frido Siribein dan Agus Taolin tidak punya ikatan emosional yang baik dan matang. Kala itu, tidak ada kecermatan pembacaan Agustinus Taolin terhadap Fridolinus Siribein. Rekam jejak dan/atau masa lalu pun, tidak pernah tahu dan tidak pernah terpikirkan oleh Agustinus Taolin. Karena tipikal Agustinus Taolin adalah bukan masa lalu, tapi kemampuan menjilat dan kedipan mata bahwa setiap perintahnya ada nilai. Bahwa setiap perintahnya harus dijalankan untuk merusak dan menutupi jalan orang lain supaya tidak boleh melaju kencang dan tidak boleh bersinar kepemimpinan selanjutnya setelah masanya berakhir sebagai orang satu nomor satu di Belu. Bila ditilik lebih dalam, Frido Siribein punya masa lalu yang tergolong busuk yaitu kala itu hadirnya WEIN GROUP di Belu. Frido termasuk salah satu pengurus yang ikut menggelapkan dana-dana dari para anggota yang terhimpun dalam WEIN GROUP saat itu. Pertanggung jawaban penghilangan dana-dana saat itu pun hingga saat saya mengerjakan artikel ini, tidak pernah terselesaikan dengan semestinya. Jika mau jujur berkata, masih banyak bekas anggota WEIN GROUP di Belu yang tentunya masih menginginkan kembalinya uang mereka yang telah dirampok oleh mereka sebagai pengurus WEIN GROUP di Belu saat itu dengan sangat rakus. Mental perampok masih terpelihara sampai saat ini karena mereka dilahirkan dari rahim bermasalah. Kasus WEIN GROUP ini telah terjadi beberapa tahun lalu. Tapi, kebusukan itu tidak pernah sirna begitu saja. Memaafkan pengurus bermental perampok di WEIN GROUP mungkin bisa. Tapi, melupakan tidak bisa. Karena tanggung jawab moral. Kenapa Agustinus Taolin tunjuk dan pilih Fridolinus Siribein Menjabat Dirut PDAM Belu? Karena Agus Taolin tahu betul dan menyadari betul bahwa salah satu titik paling krusial yang mudah membuat marah seluruh warga Belu adalah air bersih. Karena masalah ketiadaan air bersih di Kabupaten Belu, sudah terjadi terus-menerus dari tahun ke tahun dan tidak ada solusi yang tepat. Sehingga sampai artikel ini dikerjakan penulis, warga Belu masih saja dan terus mengeluh ketiadaan air bersih. Sebab, ketiadaan air menjadi kebutuhan paling vital dan menjadi kebutuhan paling utama dari lainnya. Frido Siribein mampu melakukan permintaan Agus Taolin. Maka, Frido Siribein merupakan keputusan yang tepat bagi Agus Taolin untuk melantiknya menjadi Dirut PDAM Belu. Frido solusinya karena bisa diandalkan untuk menghambat kinerja pemerintahan selanjutnya. Bagaimana Nasib Frido Siribein di Pemerintahan Willy Lay dan Vicente Gonsalves? Memang terlihat dan terbaca dalam suatu pembacaan yang utuh dan kritis bahwa Fridolinus Siribein bersama para pengikut yang adalah bekas peninggalan Agustinus Taolin sebagai mantan Bupati Kabupaten Belu masih dalam posisi kuat dan belum tersentuh oleh kepemimpinan Willybrodus Lay dan Vicente Hornai Gonsalves sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belu periode 2025-2030 saat ini. Supaya pemerintahan Willybrodus Lay dan Vicente Hornai Gonsalves tidak mendapat hambatan besar dari bayang-bayang kepemimpinan sebelumnya, dibutuhkan keberanian dan nyali besar untuk segera dicopot dari jabatannya supaya tidak menjadi batu sandungan bagi Willy dan Vicente. Memang butuh energi besar untuk mencopot satu per satu personil bekas peninggalan pemerintahan sebelumnya supaya lebih efektif dan efisien. Sehingga program kerja-program kerja yang telah dan akan dieksekusi oleh Willy dan Vicente tidak mengalami hambatan besar. Termasuk perubahan anggaran pada 2026 sampai 2030 pun berjalan lancar karena batu sandungan sudah dicopot. Jumlah populasi warga Kabupaten Belu dari data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan terjadi peningkatan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2024 adalah 231.452 jiwa (data diakses pada hari Jumat, tanggal 12 September 2025, jam 08.03 WIB). Selain itu, dari data yang diperoleh menyebutkan jumlah desa di Kabupaten Belu sebanyak 69 desa yang tersebar di 12 kecamatan dan 12 kelurahan. Bendungan Rotiklot dibangun Pemerintah Belu melalui PT Nindya Karya (Persero) dan PT Universal Suryaprima (KSO) dari dana APBN tahun 2015-2018 senilai Rp 497 miliar. Kala itu, Presiden Jokowi yang meresmikan Bendungan Rotiklot pada Senin, 20 Mei 2019 di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak. Daya tampung Bendungan Rotiklot sebesar 3,30 juta meter kubik dengan luas genangan 29,91 hektare dan tampungan efektif 2,33 juta meter kubik. Dengan peningkatan jumlah penduduk di Kabupaten Belu sesuai data dari BPS, sudah membuktikan bahwa kebutuhan air bersih lebih besar jumlahnya karena air bersih merupakan kebutuhan paling vital dan paling utama. Pemerintah Belu di rezim Willy dan Vicente tidak boleh menyepelekan kasus ketiadaan air bersih tersebut. Siapa yang tidak marah bila kebutuhan air bersih dari pelanggan tidak terpenuhi oleh PDAM Belu? *** (OPINI ditulis oleh Dr. Felixianus Ali, S.I.Kom., M.I.Kom., M.AP, yang adalah warga asli Belu). *Disclaimer: Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab Penulis