JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ferdinand Hutahaean Bongkar Pigai Kabur Debat kini menjadi topik paling panas karena Ferdinand Hutahaean Bongkar Pigai Kabur Debat mengungkap sisi lain sang menteri. Kesaksian Ferdinand Hutahaean Bongkar Pigai Kabur Debat ini sangat menohok lantaran Ferdinand Hutahaean Bongkar Pigai Kabur Debat memberikan bukti sejarah perilaku Natalius Pigai. Fenomena Ferdinand Hutahaean Bongkar Pigai Kabur Debat kian liar karena Ferdinand Hutahaean Bongkar Pigai Kabur Debat menyentuh harga diri pejabat publik di mata rakyat. Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ferdinand Hutahaean, melontarkan kritik pedas yang mengguncang ruang publik pada hari Jumat, 27 Februari 2026. Pernyataan ini muncul sebagai respon atas sikap Menteri HAM Natalius Pigai yang hingga kini belum memberikan kepastian mengenai tantangan debat terbuka melawan Guru Besar UGM, Prof Zainal Arifin Mochtar atau Prof Uceng. Ferdinand secara berani menyatakan bahwa perilaku menghindar dari perdebatan ilmiah bukanlah hal baru bagi sosok Pigai di panggung politik nasional. Rahasia Podcast Akbar Faizal Terungkap Dalam keterangannya, Ferdinand mengungkit sebuah pengalaman pribadi yang sangat membekas ketika dirinya dan Pigai diundang ke dalam acara podcast milik mantan anggota DPR, Akbar Faizal. Ferdinand menjelaskan bahwa saat itu Natalius Pigai awalnya bersedia untuk hadir dalam forum diskusi yang diselenggarakan melalui kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored tersebut. Namun, situasi mendadak berubah drastis ketika Pigai mengetahui secara nyata bahwa lawan diskusi atau sparing partner yang akan dihadapinya adalah Ferdinand Hutahaean. "Dulu Akbar Faizal itu mengundang saya dan Pigai di podcastnya beliau, tapi begitu Pigai tau bahwa saya sparing partner debatnya di sana, akhirnya dia tidak mau melanjutkan diskusi dan memilih pulang," ungkap Ferdinand pada hari Jumat, 27 Februari 2026. Kesaksian ini memperkuat asumsi publik bahwa sang Menteri cenderung memilih lawan bicara yang dianggapnya tidak akan mampu mematahkan klaim-klaim pribadinya. Strategi 'Lari-lari Cantik' di Mata Politikus Ferdinand mengaku sama sekali tidak terkejut melihat Pigai yang kini tampak membisu terhadap tantangan terbuka yang disiarkan di stasiun televisi nasional. Ia menyebut Pigai sedang melakukan strategi 'lari-lari cantik' demi menghindari siapapun yang dianggap memiliki kapasitas intelektual cerdas untuk mendebat pemikirannya. "Jadi saya tidak kaget kalau Pigai lari-lari cantik menghindari siapapun yang dia pikir orang cerdas yang akan mendebat dia, makanya dia tidak mau," tegas Ferdinand dengan nada yang sangat enerjik. Ferdinand menilai bahwa Pigai lebih senang tampil di depan mikrofon untuk sekadar mengklaim diri paling paham mengenai persoalan hak asasi manusia tanpa mau diuji secara nyata. Kritik Tajam Terhadap Kinerja Kementerian HAM Selain menyoroti masalah keberanian berdebat, Ferdinand juga mempertanyakan kontribusi nyata Natalius Pigai selama menjabat sebagai orang nomor satu di Kementerian HAM. Ia memandang bahwa kementerian tersebut seharusnya sudah mulai melahirkan regulasi atau ketentuan hukum yang memperkuat perlindungan hak warga negara di Indonesia. Publik berharap agar anggaran yang dikelola kementerian tersebut, bahkan jika diasumsikan bernilai Rp 1 (Satu Rupiah) atau nominal besar lainnya, dapat memberikan dampak bagi rakyat. Hingga hari ini, Ferdinand mengaku belum mendengar adanya kebijakan monumental atau aturan tertulis yang dikeluarkan oleh kementerian tersebut terkait penegakan HAM secara sistematis. "Sampai sekarang saya tidak pernah mendengar Natalius Pigai itu mengeluarkan sebuah ketentuan atau aturan dari Kementerian HAM terkait HAM di Indonesia," tambahnya lagi. Sindiran Hanum Salsabiela dan Analogi Imam Ghazali Polemik ini pun kian berwarna dengan hadirnya komentar dari drg Hanum Salsabiela yang menuding Pigai lebih memilih pencitraan dengan menjenguk korban ketimbang meladeni tantangan intelektual. Hanum menyindir inkonsistensi Pigai yang berpindah-pindah platform digital mulai dari Facebook ke X hingga akhirnya menjanjikan debat di televisi yang tak kunjung terealisasi. Pegiat media sosial ini bahkan mengutip kategori orang menurut Imam Ghazali, yaitu sosok yang tidak tahu namun merasa tahu dan tidak mau diberi tahu oleh orang lain. "Dikasih tahu nggak mau tahu, maunya kasih tahu kalau dia tahu, yah mbulet dewe tho," sindir Hanum Salsabiela dalam unggahan viralnya di media sosial.