TANGERANG, NETRALNEWS.COM - Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) Musa Rajekshah menyoroti penyebab lonjakan harga tiket yang dinilai masih sering terjadi tanpa penjelasan yang jelas kepada masyarakat. Menurut Musa, meskipun persoalan kenaikan tarif penerbangan belakangan ini terjadi akibat kenaikan harga avtur, namun fenomena kenaikan tersebut sebenarnya sudah kerap terjadi di periode-periode sebelumnya. “Harga penerbangan tiket yang melonjak yang kita tidak tahu apa penyebabnya kalau sekarang ini memang karena avtur harga yang naik," ucap Musa dilansir situs resmi DPR RI, Senin (25/5/2026). "Tapi sebelum-sebelumnya juga harga tiket naik. Ini juga yang selalu menjadi pertanyaan,” tambahnya dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI ke kantor AirNav Indonesia di Kompleks Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta, Tangerang, Banten akhir pekan lalu. Musa menegaskan Komisi V ingin memastikan pemerintah memiliki mekanisme pengawasan yang jelas terhadap batas kenaikan harga tiket pesawat agar masyarakat tidak terus dibebani tarif yang tidak terkendali. “Kami (Komisi V) berharap bisa mengawasi dan pemerintah khususnya pemerintah yang berhubungan bisa melihat berapa sih ambang batas atas kenaikan tiket atau batas bawah kenaikan harga tiket,” tegas Musa. Legislator dari daerah pemilihan Sumatera Utara I itu juga menyoroti fenomena masyarakat yang memilih penerbangan transit melalui Malaysia atau Singapura karena tarifnya dinilai lebih murah dibanding penerbangan langsung domestik menuju Sumatera. “Ya kita berulang kali ya, saya khususnya karena dapil di Sumatera Utara mengalami hal yang memang kita lihat penerbangan penuh kita pindah ke jalur. Ngambil internasional terdekat Malaysia-Singapura ternyata lebih murah,” kata Musa. Menurut Musa, kondisi tersebut menjadi ironi karena masyarakat justru harus menggunakan jalur internasional untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau. Ia mempertanyakan faktor-faktor yang menyebabkan disparitas tarif tersebut, mulai dari biaya ground handling hingga harga avtur di dalam negeri. “Ini juga yang kita selalu bertanya, yang belum dapat jawabannya. Apakah ground handling kita beda harga atau karena harga avtur kita memang beda dengan harga tetangga,” imbuh Musa. Musa menilai pemerintah perlu menghadirkan transparansi dalam pengaturan tarif penerbangan agar fluktuasi harga dapat dipahami publik dan tidak menimbulkan keresahan, terutama pada momentum tingginya mobilitas masyarakat menjelang hari besar keagamaan. “Tapi kalau umum pun ada perbedaan, berapa persen sih seharusnya? Ternyata harga ini kan fluktuasinya. Kita sendiri enggak tahu bagaimana pengaturan harga ini. Kami tetap konsen untuk harga tiket ini bisa terawasin dan bisa betul-betul,” tutur Musa. Musa juga mengingatkan maskapai penerbangan agar tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan bisnis, melainkan tetap memperhatikan keterjangkauan harga tiket bagi masyarakat. “Maskapai penerbangan ini tidak semata-mata untuk bisnis penerbangan, tapi juga melihat harga tiket ini tidak sesuka hati itu naik harga tiket ini,” pungkas politisi Partai Golkar tersebut.