JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Miyu tak pernah menyangka kehidupannya sebagai mahasiswa baru di Universitas Osaka akan berubah menjadi mimpi buruk. Ia sangat antusias ketika diterima di salah satu universitas ternama di Jepang. Dengan semangat baru, ia meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke kota Osaka, sebuah kota besar dan dinamis di wilayah Kansai. Sejak awal, Miyu mencari apartemen yang dekat dengan kampus dan murah. Ia akhirnya menemukan sebuah kompleks apartemen bernama Higatoshi Residence, yang terletak hanya beberapa blok dari kampus. Apartemen ini adalah bangunan lama, terbuat dari beton dan berwarna kusam, dengan koridor panjang dan sempit. Tetapi, harga sewanya sangat terjangkau untuk seorang mahasiswa seperti Miyu, dan lokasi yang strategis membuatnya tidak berpikir dua kali. Ia segera pindah ke sana tanpa menyadari apa yang akan menunggunya. Kamar Miyu, 201, berukuran kecil namun cukup nyaman. Sehari-hari, ia mulai sibuk dengan kuliah, tugas-tugas, dan pekerjaan paruh waktu. Namun, tak lama setelah menetap di apartemen, Miyu mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Di malam hari, ia sering mendengar suara-suara samar yang berasal dari langit-langit atau dinding kamarnya, seolah-olah ada seseorang yang berjalan atau menggeser barang-barang. Padahal, Miyu tahu kamar di sebelahnya kosong, dan ia jarang melihat penghuni lain di koridor. *** Suatu malam, Miyu terbangun oleh suara yang lebih keras. Kali ini, seperti suara seseorang yang mengetuk-ngetuk pelan dinding kamarnya. Miyu duduk di tempat tidur, matanya membelalak dalam gelap. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu mungkin suara dari pipa atau tetangga yang baru pindah. Namun, perasaan tak nyaman mulai tumbuh di dalam dirinya, semakin hari semakin tak terelakkan. Miyu memutuskan untuk bertanya pada pengelola apartemen, seorang pria paruh baya bernama Takahiro-san, tentang kamar sebelah dan penghuni lainnya. Di meja resepsionis yang terletak di lantai dasar, ia bertanya dengan nada setengah bercanda, “Apakah kamar sebelah saya ada penghuninya? Saya sering mendengar suara-suara aneh di malam hari.” Takahiro-san menatapnya dengan pandangan datar, tapi ada sesuatu di balik sorot matanya yang membuat Miyu tidak nyaman. “Kamar di sebelahmu kosong,” jawabnya singkat. “Sudah lama tidak ada yang tinggal di sana.” “Sudah lama? Tapi kenapa saya mendengar suara?” tanya Miyu, suaranya bergetar sedikit. Takahiro-san menghela napas panjang, seolah enggan menjelaskan. “Kompleks ini... memang terkadang ada suara-suara. Apartemen ini tua, dan pipa-pipa di dinding kadang-kadang membuat bunyi. Tidak perlu khawatir.” Jawaban itu terasa tidak memuaskan, tapi Miyu mencoba meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, situasinya memburuk. Di malam-malam berikutnya, suara-suara itu semakin sering terdengar. Tidak hanya bunyi langkah atau ketukan di dinding, tetapi juga suara-suara berbisik yang samar. Miyu tidak bisa memahami apa yang dibisikkan, tapi suaranya jelas. Suara itu sering datang saat ia berada di ambang tidur, seperti bayangan yang menyelinap di ujung kesadarannya. *** Suatu malam, Miyu terbangun dengan perasaan aneh. Udara di dalam kamarnya terasa lebih dingin dari biasanya. Ia menggerakkan tubuhnya perlahan, menoleh ke arah pintu kamar, dan terkejut melihat bayangan gelap berdiri di sana. Sosok itu samar, tetapi jelas-jelas berbentuk manusia, berdiri di ambang pintu, diam mengawasi. Dengan terengah-engah, Miyu segera menyalakan lampu. Dalam sekejap, sosok itu menghilang, seolah-olah tak pernah ada di sana. Miyu duduk terdiam di tempat tidur, tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu itu bukan halusinasinya—ia benar-benar melihatnya. Keesokan harinya, Miyu tidak tahan lagi. Ia mencari tahu lebih banyak tentang apartemen Higatoshi. Ia mulai bertanya pada beberapa mahasiswa lain yang tinggal di kompleks yang sama, namun banyak yang tidak mau bicara terlalu banyak tentang apartemen tersebut. Ada rasa takut yang melingkupi mereka ketika menyebut nama Higatoshi. Akhirnya, Miyu mendengar cerita dari seorang senior bernama Nao, yang tinggal di kompleks yang sama sejak tahun kedua kuliah. “Kamu tinggal di kamar 201, ya?” tanya Nao dengan ekspresi serius. Miyu mengangguk. Nao mendesah, tampak berat untuk melanjutkan. “Ada cerita yang beredar di antara penghuni lama apartemen ini. Beberapa tahun lalu, ada seorang mahasiswa laki-laki bernama Shinichi yang tinggal di kamar 201... di kamar yang sama denganmu. Suatu malam, dia ditemukan tewas di dalam kamarnya, dalam keadaan yang misterius. Polisi bilang dia bunuh diri, tapi banyak yang tidak percaya. Beberapa saksi mendengar suara-suara aneh dari kamarnya sebelum kematiannya.” Miyu merasa darahnya membeku mendengar penjelasan itu. “Sejak kematian Shinichi,” lanjut Nao, “banyak penghuni yang melaporkan hal-hal aneh di kamar 201. Sebagian besar dari mereka akhirnya pindah karena tidak tahan dengan gangguan-gangguan itu.” Merasa panik, Miyu berusaha mencari tahu lebih lanjut tentang Shinichi. Ia bahkan mencari arsip berita lokal dan menemukan artikel pendek yang mengonfirmasi cerita Nao—seorang mahasiswa memang meninggal secara misterius di kamar 201 beberapa tahun lalu. Tapi detail kematiannya masih kabur, dan tidak ada penjelasan pasti yang ditemukan. Malam itu, Miyu memutuskan untuk membereskan barang-barangnya. Ia merasa tak bisa lagi tinggal di kamar itu setelah mengetahui kisah Shinichi. Namun, sebelum ia sempat menyelesaikan pengepakan, sesuatu terjadi. Saat Miyu tengah merapikan buku-bukunya ke dalam kardus, lampu di kamarnya tiba-tiba padam. Suasana menjadi gelap gulita, dan hanya cahaya bulan yang samar menembus tirai jendelanya. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki lagi—lebih keras dari sebelumnya—berasal dari dalam kamarnya. Miyu berbalik dengan cepat, matanya terbelalak dalam kegelapan. Di sana, di sudut ruangan dekat pintu, sosok gelap yang sama muncul kembali. Kali ini, sosok itu tampak lebih jelas—seorang pria muda dengan wajah pucat dan mata kosong. Ia hanya berdiri di sana, tanpa bergerak, menatap lurus ke arah Miyu. Dengan jantung berdegup kencang, Miyu mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Kakinya terasa seolah tertanam di lantai, tak mampu bergerak. Sosok itu perlahan-lahan mulai melangkah ke arahnya, suara langkahnya menggema di seluruh ruangan. Setiap gerakan sosok itu membuat udara semakin dingin dan berat. Miyu merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya, sementara sosok itu semakin mendekat. Dalam kepanikan, Miyu meraih ponselnya dan menyalakan senter. Begitu cahaya menyala, sosok itu menghilang seketika, meninggalkan Miyu yang terguncang hebat. Esok harinya, Miyu meninggalkan apartemen tanpa menoleh ke belakang, dan dalam waktu singkat, ia menemukan tempat tinggal baru.