JAKARTA - Penggunaan QRIS melonjak tajam seiring digitalisasi pembayaran di Indonesia — tetapi bersama pertumbuhan itu muncul pula peningkatan kasus penipuan yang memanfaatkan QR palsu, bukti transaksi palsu, atau rekayasa sosial. Pelaku menargetkan pedagang ritel kecil hingga konsumen dengan berbagai modus yang terus berkembang. Fakta dan Data Pusat penanganan pengaduan penipuan transaksi keuangan (IASC) yang dibentuk OJK telah menerima ratusan ribu laporan sejak beroperasi — laporan IASC tercatat mencapai ratusan ribu aduan ( >135.000 laporan sampai akhir Mei 2025; dan angka laporan terus bertambah setelahnya). Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan mencapai ratusan ribu, dengan nilai kerugian yang dilaporkan mencapai triliunan rupiah. OJK/ IASC melaporkan bahwa sejak diluncurkan (periode Nov 2024–Agustus 2025) jumlah laporan penipuan di sektor jasa keuangan sangat besar — ratusan ribu laporan (contoh: 225.281–238.552 laporan pada rentang Agustus 2025, tergantung update). Ini menunjukkan frekuensi aduan yang sangat tinggi setiap harinya. Bank Indonesia melaporkan lonjakan volume & nilai transaksi QRIS pada 2025 — volume transaksi melonjak secara signifikan, yang berarti lebih banyak titik kontak dan peluang bagi penipu. (Contoh: lonjakan volume transaksi QRIS dua digit hingga ratusan persen perbandingan year-on-year di beberapa laporan 2025). Kasus konkret: beberapa kasus penipuan QRIS muncul di berbagai daerah (mis. oknum yang menunjukkan bukti pembayaran QRIS palsu di toko helm, puluhan juta hingga ratusan juta rupiah kerugian dalam beberapa kasus), menegaskan modus nyata di lapangan. Pemerintah/lembaga keuangan (OJK, BI) & pelaku ekosistem pembayaran aktif mengimbau kewaspadaan dan sudah melakukan pemblokiran rekening/entitas ilegal serta membangun kanal pengaduan. Namun pemberantasan butuh kerja sama pedagang, konsumen, dan penyedia jasa. Modus penipuan QRIS yang sering terjadi Sticker swapping / mengganti QR asli dengan QR palsu — menempel QR palsu di atas QR merchant. Bukti transaksi palsu — pelaku menunjukkan bukti bayar yang diedit agar tampak transaksi berhasil padahal belum. Kasus OKNUM menunjukkan modus ini dipakai untuk menipu pedagang. Permintaan scan QR lewat ponsel pelaku (bukan QR merchant) — pelaku minta pedagang scan QR yang ternyata mengarahkan pembayaran ke rekening penipu. Penipuan via telepon/chat yang meminta scan atau konfirmasi QR — rekayasa sosial untuk membuat korban panik atau percaya. 12 Cara praktis (untuk pedagang & pembeli) agar terhindar dari penipuan QRIS Untuk pedagang: Pasang QRIS resmi & tidak menutupinya — gunakan QRIS yang langsung diterbitkan/dipasang oleh penyedia jasa pembayaran resmi. Bank Indonesia mewajibkan penyedia jasa pembayaran berizin. Periksa label/ID merchant bila perlu. Kunci QR pada tempat tetap — jangan biarkan QR mudah diganti; letakkan di tempat yang pengunjung lihat dan sulit dijangkau untuk ditimpa. Periksa bukti masuk di aplikasi penjualan, bukan cuma bukti foto — pastikan pembayaran benar-benar masuk ke aplikasi/mesin kasir atau notifikasi resmi dari aplikasi penyedia. Jangan menerima bukti transfer berupa screenshot dari pelanggan — buka aplikasi penyedia pembayaran untuk verifikasi mutasi/konfirmasi, bukan hanya melihat gambar. Pasang CCTV yang jelas menghadap kasir/QR — membantu bukti saat terjadi sengketa. Untuk pembeli: 6. Periksa alamat & nama merchant di aplikasi sebelum bayar — pastikan data merchant sesuai dengan yang ditampilkan pegangan toko. 7. Hindari scan QR yang dibawa ke ponsel orang lain — baca tujuan merchant di layar aplikasi Anda sebelum mengkonfirmasi. 8. Jangan panik saat diminta scan ulang oleh orang yang mengaku pihak tertentu — konfirmasi secara langsung ke merchant. 9. Gunakan fitur notifikasi real-time dari bank/digital wallet — aktifkan push notification agar tahu saat dana keluar. 10. Periksa nomor rekening tujuan bila tersedia (untuk transfer yang menunjukkan identitas penerima) — jika ragu, batalkan transaksi. Langkah tambahan & institusional: 11. Laporkan segera ke pihak bank/penyedia pembayaran dan IASC/OJK jika jadi korban — semakin cepat dilaporkan, semakin besar kemungkinan pemblokiran rekening penipu. IASC menerima ratusan ribu laporan dan bekerja memblokir rekening yang terkait. 12. Edukasi staf & pelanggan — poster singkat di kasir tentang cara verifikasi pembayaran membuat pelaku sulit beraksi.