JAKARTA - Tren matcha meningkat pesat sepanjang 2024–2025, terlihat dari semakin banyaknya kafe di Jakarta yang menjual menu berbasis teh hijau Jepang ini dan ramainya unggahan matcha di media sosial setiap hari. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengapa matcha dianggap lebih sehat, apa saja kandungannya, dan siapa yang paling banyak mengonsumsinya? Pertanyaan tersebut muncul seiring berkembangnya gaya hidup sehat yang kini menjadi kebiasaan baru di berbagai kota besar. Matcha tidak hanya hadir sebagai minuman tradisional Jepang, tetapi berubah menjadi simbol gaya hidup modern yang diasosiasikan dengan kesehatan, fokus, dan estetika. Kombinasi warna hijau cerah dan tekstur creamy menjadikannya mudah viral, sementara kafe-kafe memanfaatkan momen ini dengan menambah menu matcha dalam berbagai varian. Popularitas ini mendorong semakin banyak orang mendalami manfaat matcha dan perbedaannya dengan teh hijau biasa. Banyak konsumen percaya bahwa matcha lebih sehat karena mengandung antioksidan tinggi. Matcha dibuat dari daun teh (Camellia sinensis) yang ditumbuk halus sehingga seluruh bagian daun ikut dikonsumsi. Tidak seperti teh seduh biasa yang hanya diekstraksi udara, matcha menghadirkan nutrisi lebih padat. Salah satu senyawa utama adalah katekin, terutama EGCG (Epigallocationchin Gallate), antioksidan kuat yang berperan dalam mengurangi radikal bebas dan mendukung kesehatan jantung. Selain itu, matcha kaya L-theanine, asam amino yang memberikan efek tenang dan meningkatkan fokus. Senyawa ini bekerja bersama kafein untuk menghasilkan energi yang lebih stabil tanpa efek “deg-degan” seperti kopi. Kombinasi keduanya sering menjadi alasan pekerja kantoran dan pelajar memilih matcha sebagai minuman harian untuk meningkatkan konsentrasi tanpa merasa gelisah. Fakta lain yang membuat matcha populer adalah proses produksinya yang unik. Sebelum dipanen, tanaman teh matcha dinaungi selama 2–4 minggu sehingga meningkatkan klorofil dan L-theanine. Proses ini membuat warnanya lebih hijau cerah dan rasanya lebih umami. Matcha terbaik berasal dari daerah Uji (Kyoto), Nishio, Yame, dan Kagoshima di Jepang, yang dikenal memiliki tradisi panjang dalam pengolahan teh. Matcha sendiri dibagi beberapa menjadi grade yang menentukan kualitasnya. Tingkat upacara merupakan tingkat tertinggi, dibuat dari pucuk daun paling muda dan ditujukan untuk diminum langsung tanpa campuran. Warnanya sangat cerah dengan rasa yang lembut dan tidak pahit. Kelas premium berada satu tingkat di bawah, masih halus namun sedikit lebih berumput. Barista grade dirancang untuk campuran susu sehingga rasanya lebih kuat dan tetap terasa ketika dibuat latte. Sementara itu, kuliner grade digunakan untuk hidangan penutup seperti kue, es krim, dan pastry karena warnanya lebih kusam dan rasanya lebih kompleks. Di luar perbedaan kadarnya, matcha juga mengandung berbagai senyawa penting lain seperti kafein, serat, vitamin C, vitamin A, vitamin E, serta mineral seperti magnesium, kalium, dan mangan. Kandungan ini membuat matcha dinilai lebih bernutrisi dibandingkan minuman teh lainnya. Sementara itu, klorofil yang tinggi berperan dalam membantu proses detoksifikasi alami tubuh. Meski begitu, para ahli gizi mengingatkan bahwa tidak semua produk matcha otomatis sehat. Banyak minuman matcha komersial di pasaran mengandung gula tinggi, sirup tambahan, hingga krimer yang dapat meningkatkan kalori dan lemak trans. Penambahan krimer ini sering ditemukan pada minuman instan atau varian matcha modern yang mengutamakan rasa manis. Konsumen disarankan memilih matcha tanpa gula tambahan atau menggunakan pemanis rendah kalori untuk menjaga manfaatnya. Di tengah meningkatnya minat, tren matcha juga mendorong munculnya produk-produk baru dari brand lokal, mulai dari matcha latte instan hingga camilan berbasis matcha dengan harga lebih terjangkau. Hal ini membuat matcha tidak lagi menjadi minuman khusus pecinta budaya Jepang, melainkan dapat dinikmati dari banyak lapisan masyarakat. Sebagian pengamat menilai tren matcha mencerminkan perubahan perilaku masyarakat perkotaan yang kini lebih sadar kesehatan. Pilihan minuman semakin beragam dengan fokus pada bahan alami, kandungan antioksidan, dan manfaat jangka panjang. Matcha hadir di tengah kebutuhan tersebut sebagai pilihan yang menawarkan rasa, estetika, sekaligus nilai kesehatan. Meski memiliki berbagai manfaat, konsumsi matcha tetap perlu diperhatikan. Kafeinnya memang lebih halus, namun tetap dapat berdampak pada kualitas tidur jika diminum berlebihan. Bagi kebanyakan orang, satu hingga dua gelas per hari sudah cukup untuk merasakan manfaat tanpa efek samping. Puncak dari tren ini menunjukkan bahwa matcha bukan sekadar minuman viral, tetapi bagian dari pola hidup yang mengutamakan tubuh dan pikiran lebih seimbang. Dengan memahami kandungan dan kualitasnya, konsumen dapat menikmati matcha secara lebih bijak di tengah derasnya arus tren minuman modern.