3
Netral English Netral Mandarin
01:24 wib
Tercatat sebanyak 21,5 juta orang lansia akan mengikuti program vaksinasi Covid-19. Ada dua mekanisme vaksinasi Covid-19 pada lansia. BMKG memperingatkan sejumlah daerah di Jawa Barat yang berpotensi banjir atau banjir bandang dengan status siaga dan waspada mulai 24-25 Februari 2021.
Kepada 'Kadrun', DS: Sabar aja Kami Sudah Menang, Kalo Pengen Tarung Lagi Nanti...

Minggu, 14-Februari-2021 09:38

Kepada Kadrun, Denny sebut Sabar aja Kami Sudah Menang, Kalo Pengen Tarung Lagi Nanti...
Foto : Istimewa
Kepada Kadrun, Denny sebut Sabar aja Kami Sudah Menang, Kalo Pengen Tarung Lagi Nanti...
0

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -  Polemik "buzzer" yang dianggap membuat gaduh masyarakat Indonesia masih terus berlanjut. Pegiat media sosial Denny Siregar yang sering dituduh sebagai salah satu buzzer kembali angkat suara.

Menurutnya, saat ini buzzer pendukung Jokowi sudah menang. Bila pihak lawan ingin bertarung lagi, mereka diminta tunggu nanti di tahun 2024.

"Pesan saya untuk kampret dan kadrun yang sibuk cari celah untuk menghantam, "Sabar aja. Kami sudah menang. Menang di medsos dan jadikan Jokowi Presiden dua periode. Kalo pengen tarung lagi, nanti 2024. Tapi itu masih lama ya, sekarang kalian cukup ngemut bantal aja dulu liat foto2 kami berkeliaran.," kata Denny.

Catatan panjang Denny diunggah di akun FB, Sabtu malam (13/2/21) dengan judul "Ketika Kami Masih Ganteng."

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

KETIKA KAMI MASIH GANTENG..

Saya lupa ini mungkin sekitar tahun 2017an, kalau gak salah waktu bulan Ramadhan.Waktu itu karena lobby seorang teman, akhirnya kita para pegiat media sosial pendukung Jokowi, diundang ke istana.

Tentu senang lah. Akhirnya bisa ketemu pak Jokowi juga. Itu seperti cita-cita yang kesampaian. Dan akhirnya saya cari baju batik, baju yang jarang saya punyai  karena itu peraturan dari istana. Kami datang dari banyak kota, saya dari Surabaya..

Disanalah saya berkenalan dengan teman-teman lain yang tulisannya sering saya baca. Tapi banyak juga yang saya gak kenal. Ah, gak penting. Yang penting bisa salaman sama pak Jokowi.

Dan foto ini lagi beredar sekarang dengan bumbu "buzzer Jokowi yang dibayar". Saya ketawa ngikik, lha masak foto sama Presidennya aja gak boleh.

Yang paling asyik komentar dari seorang netizen, "Bersyukurlah Jokowi menang, karena foto yang beredar jadi ada beberapa yang kukenal.

Kebayang kalo Prabowo yang jadi Presiden, yang foto disana ada Gerung, Neno, Sarumpaet, Zon juga mungkin Jonru yang liat fotonya aja berasa pengen slepet pake karet celana dalam.."

Pesan saya untuk kampret dan kadrun yang sibuk cari celah untuk menghantam, "Sabar aja. Kami sudah menang. Menang di medsos dan jadikan Jokowi Presiden dua periode.

Kalo pengen tarung lagi, nanti 2024. Tapi itu masih lama ya, sekarang kalian cukup ngemut bantal aja dulu liat foto2 kami berkeliaran.

Btw, itu pada masih ganteng2. Kalau cuman adu ganteng2an ma Novel FPI mah, kami lawan.."

Ah, kangen kalian teman2. Seruput kopi dulu ah...Denny Siregar

Desakan Tertibkan Buzzer

Sebelumnya diberitakan, aktivitas buzzer atau pendengung di media sosial menjadi sorotan sejumlah tokoh publik. Kehadiran pendengung dengan akun anonim disebut meresahkan lantaran menyerang warganet yang kritis, mengeluarkan kata-kata kasar dan bahkan mengumbar permasalahan pribadi warganet.

Para tokoh publik itu berharap adanya gerakan untuk menertibkan buzzer di media sosial, khususnya para pendengung yang ingin memanfaatkan situasi tanpa ingin bertanggung jawab.

Salah satu tokoh masyarakat yang mengeluhkan kehadiran buzzer adalah Sudjiwo Tedjo. Budayawan ini berharap para buzzer ditertibkan.

“Tertibkan buzzer” dan “tertibkan buzzer penumpang gelap” itu beda .. itu bukan buzzer teriak buzzer. Kritik dan caci maki itu beda. Kritik isinya pendapat/sikap tanpa menyerang pribadi siapa pun. Twitmu harusnya: Tukang kritik tak mau dicaci maki," demikian unggahan  akun @sudjiwotedjo, Rabu (10/2/2021).

Senada dengan Sudjiwo Tedjo, Ketua Umum PP Muhammadiyah kantor Yogyakarta Haedar Nashir sehari sebelumnya memperingatkan bahaya buzzer. Bertepatan dengan Hari Pers Nasional kemarin, dia mengatakan bahwa pendengung merupakan musuh terbesar dunia pers.

"Musuh terbesar dunia pers saat ini, khususnya pers online melalui jalur media sosial, ialah para buzzer yang nirtanggungjawab kebangsaan yang cerdas dan berkeadaban mulia," jelas Haedar melalui akun Twitter @HaedarNs.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPR Benny K. Harman melalui unggahan di akun Twitter resminya, @BennyHarmanID, Selasa (9/2/2021), juga menyoroti cyber army atau pendengung yang kerap meneror netizen.

Dia menyoroti hal itu dengan membahas serangan buzzer kepada ekonom senior Kwik Kian Gie beberapa waktu lalu. Dia pun berharap para pendengung anonim itu ditertibkan.

"Ttg Kwik Kian Gie Yg Takut Kritik Rezim. Kita minta bubarkan saja cyber army karena kerap meneror netizen. Pelakunya anonim namun penyebaran konten2 mereka sering dibantu akun2 pribadi yg berafiliasi dgn pemerintah. Yg kritik rezim dibuly habis2an.Liberte!" tegas politisi Demokrat tersebut.

Reporter : Taat Ujianto
Editor : Taat Ujianto