JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Sinode GMIT Pdt Dr Merry Kolimon turut angkat bicara terkait sekolah jam 5 pagi yang digadangkan Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) 2018-2023 Viktor Bungtilu Laiskodat. Merry memohon, gubernur bisa melakukan kajian sebelum kebijakan sekolah jam 5 pagi dilakukan. Tidak hanya itu, Merry juga mohon, dilakukan sosialisasi pada masyarakat sebelum kebijakan yang sedang jadi sorotan itu dijalankan. Meski demikian, dia percaya bahwa tindakan itu dilakukan gubernur karena terlalu sayang dengan NTT. "Kami percaya, gubernur punya hati terlalu sayang dengan NTT. Kami sudah jadi saksi-saksinya di NTT," ujar Merry, saat Sinode GMIT. Mendengar sambutan itu, Gubernur NTT tidak tinggal diam. Dia tegaskan, sudah melakukan rapat dan diskusi dengan kepala sekolah, kepala dinas dan pihak terkait di Provinsi NTT. Dia mempertanyakan, mengapa uang NTT yang begitu banyak, dilawan dengan sekolah swasta yang datang dari Jakarta. Sepengetahuannya, Jakarta punya investasi sekitar 3 persen yang dibawa dari Provinsi NTT. "Kok tidak ada yang tembus UI, UGM, ITS? Ada kepala sekolah yang bilang, habis suruh katong menari terus," ujar Gubernur NTT, dikutip dari video Instagramnya, Selasa (28/2/2023). Gubernur NTT tegaskan, kebijakan sekolah jam 5 pagi tidak diperuntukkan untuk semua sekolah di NTT. Kebijakan itu diperuntukkan untuk dua sekolah yakni SMA 1 dan SMA 6, yang dinilai sebagai sekolah yang unggul dalam pengetahuan dan karakter. "Dua sekolah ini harus, karena kita punya kekurangan. Tidak bisa NTT dipersepsikan disamakan dengan Jakarta atau Finlandia. NTT dengan kekurangan infrastruktur, sumber daya, kecuali uang," tegas dia. Uang untuk dinas pendidikan diungkap ada 50 persen dari APBD Provinsi NTT. Angka tersebut jauh melebihi presentase yang diarahkan. "Siap-siap untuk anak SMA 1, kalau tidak kuat tarik pulang sudah. Karena harus jalan terus. Kedua, SMA 6 akan berjalan terus jam 5 pagi," kata dia. NTT juga akan bekerjasama dengan lembaga yang bisa mencentak anak-anak agar tembus ke perguruan tinggi negeri ternama atau bahkan ke luar negeri. Harapannya, lembaga yang akan bekerjasama bisa mengajar hingga kemampuan siswa NTT setara dengan standar siswa di Jakarta. Menurutnya, harapan ini juga memerlukan dukungan dari orang tua. Tujuannya untuk mempersiapkan anak-anak mereka menjadi pemimpin masa depan. "Yang tidak mau, tidak dipaksa. Yang tidak mau monggo (silahkan) ke sekolah lain," tegas dia.