BANYUMAS- Di generasi Indonesia saat ini, pendidikan seksual menjadi suatu hal yang tabu untuk dibahas. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih awam dan acuh terhadap pendidikan seksual. Mereka lebih memilih menutup mata daripada menelan edukasi. Bahkan, pemberian pendidikan seksual dianggap menjadi hal yang menyimpang untuk anak-anaknya, sebab mayoritas masyarakat Indonesia masih berpikir bahwa pendidikan seksual hanya mempelajari cara melakukan hubungan seks. Padahal pendidikan seksual mempelajari segala sesuatu tentang seks, seksual, dan seksualitas. Isu ini berbanding terbalik dengan sejarah kuno Indonesia. Saat masa kolonial, terdapat tradisi orang tua menitipkan anak laki-lakinya yang akan menikah untuk diajarkan tentang kehidupan rumah tangga dan pendidikan seks oleh guru perempuan yang disebut Gowok. Gowok adalah profesi “guru” yang melibatkan aktivitas sensual dalam tugas utamanya. Tradisi Gowok lahir dan berkembang di masyarakat Banyumas, Jawa Tengah. Gowok umumnya dilakukan oleh perempuan berusia antara 23 hingga 30 tahun yang belum menikah. Gowok akan menyediakan pelayanan tentang tata cara memperlakukan istri, baik secara fisik maupun mental. Interaksi antara Gowok dengan anak laki-laki disebut “Gowokan”. Salah satu bagian proses Gowokan adalah hubungan seks, hal ini penting bagi anak laki-laki yang akan melangsungkan pernikahan sehingga kedua belah pihak calon pengantin dapat memperoleh kepuasan bersama. Laki-laki yang sedang dititipkan kepada Gowok berlangsung selama lima hari hingga sepekan. Tujuan dari tradisi Gowok adalah pembekalan bagi anak laki-laki yang akan menjadi kepala rumah tangga supaya paham dan menguasai ilmu tentang seluk beluk tubuh perempuan hingga cara memuliakan perempuan. Oleh sebab itu, sebelum menjadi sepasang suami-istri, laki-laki harus mendapatkan ilmu terutama tentang hubungan seks supaya tidak merasa malu pada malam pertama bersama pengantin barunya. Riwayat hidup tradisi Gowok bisa populer dikalangan masyarakat Jawa adalah saat perempuan kelahiran Tiongkok bernama Goo Wok Niang bersama Laksamana Cheng Ho tiba ke tanah Jawa tahun 1415-an. Mereka berkunjung ke pulau Jawa Tengah tepatnya di Banyumas dan membuka praktik mengenai berbagai komplikasi seks dan rumah tangga yang disediakan untuk anak laki-laki menjelang pernikahan. Nama “Gowok” tercipta karena lidah masyarakat Jawa tidak bisa mengucapkan Goo Wok Niang, karena itulah tradisi ini kerap disapa tradisi Gowok. Gowok akan melayani anak laki-laki bagaikan suami dan bertindak sebagai istri serta menantu, seperti memasak makanan untuk suami dan keluarganya, mengantarkan istri kondangan, menyiapkan makanan suami, mengantarkan suami ke tempat kerja, mengurus pakaian sampai harta milik suaminya. Praktik Gowokan yang dilakukan oleh Goo Wok Niang kian dikenal dan menjadi tradisi di masyarakat Banyumas. Namun, tidak banyak perempuan yang bisa menjadi Gowok, karena keahliannya adalah mengendalikan diri dalam menghadapi hawa nafsu. Gowokan dituntut untuk membangun hubungan emosional agar calon pengantin laki-laki dapat memahami arahan dalam pernikahan, sedangkan Gowok harus bersikap profesional untuk tidak menjalin asmara dengan calon pengantin laki-laki diluar lingkup pendidikan dan batas kesepakatan. Sistematis menggunakan jasa Gowok adalah ketika lamaran diterima dan tanggal pernikahan telah ditetapkan, keluarga calon pengantin laki-laki dan perempuan dapat menentukan kandidat Gowok untuk memberikan pembimbingan kepada calon pengantin laki-laki. Setelah disepakati, keluarga menghubungi Gowok yang telah ditentukan dalam kesepakatan dan melakukan negosiasi. Gowok dilarang melayani laki-laki dewasa atau laki-laki yang sudah menikah. Proses Gowokan berlangsung di rumah Gowok atau Gowok yang akan menghadiri rumah calon pengantin laki-laki untuk memberikan edukasi seputar kehidupan rumah tangga dan hubungan seks. Jika Gowok sudah menyetujui, pihak keluarga memberikan mahar sesuai yang akan diberikan kepada calon pengantin perempuan. Lalu, calon pengantin laki-laki diserahkan kepada Gowok dengan sejumlah upah berupa uang atau lainnya yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Kemudian, calon pengantin laki-laki diserahkan kepada Gowok secara utuh. Setelah pendidikan selesai, Gowok akan melaporkan hasil bimbingannya kepada orang tua anak laki-laki tersebut. Jika Gowok gagal memenuhi tanggung jawabnya sebagai pengajar, wajib mengembalikan mahar sesuai yang telah diberikan. Gowok akan menerima upah dari orang tua yang menitipkan anak laki-lakinya dengan tarif sekitar 0,25 gulden hingga 0,35 gulden per hari saat masa itu. Orang tua yang menitipkan anak laki-lakinya kepada Gowok berasal dari keluarga terpandang sehingga mereka memiliki cukup uang untuk menggunakan jasa Gowok. Akan tetapi, orang tua juga bisa memberikan non uang berupa beras, kelapa, dan lain-lain sebagai transaksi. Sebelum menerima upah, Gowok mendapatkan kontrak kesepakatan yang berisi tuntutan dan larangan saat memberi edukasi sehingga Gowok tidak bisa gegabah dalam bertindak. Hasil yang didapatkan setelah “nyantrik” dengan Gowok adalah pengantin laki-laki mahir dalam urusan seksual pada malam pertama dan akan mengajarkan istrinya tentang cara melakukan hubungan seks yang menyenangkan. Eksistensi tradisi Gowok yang asli sudah tidak lagi berkembang di abad ke-21. Seiring majunya generasi dan disokong oleh kemajuan teknologi, esensi Gowok atau Gowokan sudah tidak sakral seperti dahulu karena media cetak maupun elektronik sudah mengenal keberadaan Gowok sehingga tradisi Gowok akan menimbulkan tanggapan negatif bagi masyarakat Indonesia sebagai tradisi yang tidak sesuai dengan norma. Gowok akan dianggap sebagai prostitusi kuno karena kriterianya yang mirip dengan prostitusi zaman sekarang. Bahkan, masyarakat Banyumas tidak menganggap keberadaan tradisi Gowok sebagai salah satu kebudayaannya, karena menciptakan kesan kehidupan seks yang tidak pantas. Alasan itulah yang menyebabkan tradisi Gowok tidak bisa bertahan hingga saat ini. Di sisi lain, tradisi Gowok juga memiliki pandangan positif yaitu, kesadaran orang tua mengenai pendidikan seksual terhadap anaknya, kemapanan anak laki-laki mengenai dunia rumah tangga sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, dan pengetahuan anak laki-laki terhadap seluk beluk perempuan. Kebudayaan Gowok tidak akan reinkarnasi sebagai cara orang tua memberikan edukasi seks dan rumah tangga. Oleh karena itu, orang tua zaman sekarang harus bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak-anak mereka agar generasi kedepannya bisa paham dan peduli terhadap pengetahuan seksual. Referensi Dyah Siti Septiningsih. 2010. Gowokan, Persiapan Pernikahan Laki-laki Banyumas. Jurnal Nasional UMP. https://jurnalnasional.ump.ac.id/index.php/PSYCHOIDEA/article/view/230 Achmad Fadilah. 2022. Considering Gowok Cultural Traditions as Prostituion is a Logical Fallacy. Jurnal Dinamika Hukum UNSOED. https://dinamikahukum.fh.unsoed.ac.id/index.php/JDH/article/view/3238 Rizky Kusumo. 2023. Menengok Sejarah Gowok Tradisi Mengenal Seluk Beluk Tubuh Perempuan Jawa. Good News From Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/08/11/menegok-sejarah-gowok-tradisi-mengenal-seluk-beluk-tubuh-perempuan-di-jawa Eris Kuswara. 2022. Gowok Sebuah Tradisi Tabu yang Pernah Ada di Masyarakat Jawa. Koropak. https://koropak.co.id/17236/gowok-sebuah-tradisi-tabu-yang-pernah-ada-di-masyarakat-jawa