JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Harga emas kembali bergerak naik pada perdagangan Kamis (1/10/2026), ditopang data inflasi Amerika Serikat yang keluar lebih rendah dari perkiraan pasar. Kondisi ini mengurangi ekspektasi investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada pertemuan Oktober mendatang. Data inflasi AS periode Agustus tercatat meningkat lebih landai dibanding proyeksi awal. Dampaknya langsung terasa ke probabilitas kenaikan suku bunga The Fed bulan Oktober, yang turun menjadi 31 persen, dari sebelumnya 45 persen sesaat sebelum data dirilis, bahkan sempat berada di angka 69 persen sepekan sebelumnya. Mengacu data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (1/10/2026) berada di posisi US$4.177,76 per troy ons, menguat 0,52 persen. Penguatan ini menjadi angin segar setelah harga emas sempat terjun cukup dalam pada perdagangan Rabu sebelumnya. Tren positif berlanjut hingga Jumat (2/10/2026), dengan harga emas kembali naik tipis 0,1 persen ke level US$4.182,17 per troy ons. Ekspektasi Suku Bunga Jadi Penopang, tapi Ada Pengganjal Director of Metals Trading High Ridge Futures, David Meger, menilai turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi faktor utama yang menopang pergerakan pasar logam mulia belakangan ini. Namun, laju penguatan emas tidak sepenuhnya mulus. Lonjakan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun yang menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua dekade terakhir turut membebani harga emas. Penguatan dolar AS secara bersamaan juga membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang memegang mata uang selain dolar, sebuah dinamika klasik yang kerap menahan laju kenaikan harga logam mulia meski sentimen suku bunga sedang mendukung. Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat periode September yang dijadwalkan terbit Jumat, sebagai salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya. Proyeksi Jangka Panjang Justru Dipangkas Di tengah penguatan jangka pendek ini, HSBC justru mengambil sikap lebih hati-hati dengan memangkas proyeksi rata-rata harga emas untuk 2026 dan 2027, masing-masing menjadi US$4.490 dan US$4.825 per troy ons. Lembaga tersebut memperkirakan tekanan terhadap harga emas masih akan berlanjut dalam jangka pendek, sebelum pasar akhirnya menemukan titik keseimbangan baru. Sementara itu, harga perak justru mencatatkan penguatan yang lebih tajam dibanding emas. Mengacu data Refinitiv, perak ditutup di level US$60,85 per troy ons pada Kamis (1/10/2026), melesat 0,73 persen, dan masih melanjutkan tren positifnya pada Jumat (2/10/2026) dengan kenaikan 0,35 persen ke posisi US$61,06 per troy ons.