FUZHOU - Inisiatif "Dua Negara, Taman Kembar" atau Two Countries, Twin Parks (TCTP) antara Tiongkok dan Indonesia menjadi salah satu fokus utama dalam Pameran Investasi dan Perdagangan Internasional Tiongkok (CIFIT) ke-26 yang berlangsung pada awal September. Kehadiran zona pameran khusus, agenda pencocokan investasi yang terarah, serta sejumlah proyek baru yang ditandatangani mencerminkan semakin eratnya hubungan investasi dua arah kedua negara dan transformasi kerja sama industri menuju model klaster yang lebih terintegrasi. Paviliun Indonesia menempati lokasi strategis di Aula 6 kawasan kerja sama global CIFIT. Luas area pameran tersebut meningkat dua kali lipat menjadi 12.000 meter persegi. Di aula yang sama, Zona Fungsional Yuanhong di Fuzhou bersama Kawasan Industri Batang menampilkan pameran khusus bertema "Dua Negara, Taman Kembar". Besarnya potensi kemitraan itu tercermin dari data perdagangan dan investasi. Indonesia saat ini menjadi mitra dagang terbesar Provinsi Fujian di kawasan ASEAN sekaligus tujuan investasi luar negeri utama provinsi tersebut. Sejak 2023, nilai ekspor dan investasi langsung Fujian ke Indonesia terus meningkat setiap tahun. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, nilai perdagangan Fujian dengan Indonesia mencapai 74,8 miliar yuan (1 yuan = Rp2.675) atau sekitar 10,5 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.965). Nilai tersebut tumbuh 11,9 persen secara tahunan (year on year) dan menyumbang hampir sepertiga dari total perdagangan Fujian dengan negara-negara ASEAN. "Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia sekaligus sumber investasi utama," ujar Ling Ji, Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok yang juga menjabat Wakil Perwakilan Perdagangan Internasional Tiongkok. Ling menjelaskan bahwa sejak peluncuran program "Dua Negara, Taman Kembar", kedua negara menjalankan prinsip konsultasi luas, kontribusi bersama, dan manfaat bersama. Menurut dia, pendekatan itu melahirkan model kerja sama berupa "dua taman, dua pengelolaan, dua rencana, dukungan dua arah, dan investasi dua arah." Pada 9 September, sekitar 200 perwakilan pemerintah, lembaga keuangan, asosiasi bisnis, kawasan industri, dan perusahaan dari kedua negara menghadiri konferensi promosi investasi TCTP. Dalam forum tersebut, para peserta menilai kawasan-kawasan industri yang dibangun telah menjadi pintu masuk bagi perusahaan Tiongkok untuk memperluas pasar di Indonesia, sementara modal dan sumber daya dari Indonesia juga terus mengalir ke Tiongkok. Wakil Direktur Komite Pengelola Zona Fungsional Yuanhong di Kawasan Baru Fuzhou, Zhong Jiangwei, mengatakan kedua pihak telah membentuk pola pembagian kerja industri yang jelas. Produk perikanan dan pertanian Indonesia diproses pada tahap awal di dalam negeri sebelum dikirim ke Yuanhong untuk pengolahan lanjutan. Di sisi lain, produk manufaktur Tiongkok dan komoditas sumber daya Indonesia diperdagangkan secara rutin dalam kedua arah. "Kerja sama mendalam semacam ini akan sangat mendorong komplementaritas, berbagi sumber daya, dan hasil yang saling menguntungkan bagi kedua pihak," tuturnya. Bagi kalangan pelaku usaha, dukungan kebijakan yang tersedia menjadi faktor penting dalam ekspansi bisnis. Chairman Fuhua (Indonesia) Textile, Zheng Chunguang, mengungkapkan bahwa Semarang dipilih sebagai lokasi investasi karena tiga pertimbangan utama, yakni ekosistem kelembagaan yang mendukung konektivitas industri, infrastruktur yang memadai, serta kebijakan saling menguntungkan yang dihadirkan melalui program "Dua Negara, Taman Kembar". Selain itu, Indonesia dinilai memiliki kebutuhan besar terhadap kain rajut elastis fungsional kelas atas yang selama ini masih terbatas pasokannya. Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah keberadaan komunitas diaspora Tionghoa yang telah lama berkembang di wilayah tersebut. Perusahaan itu melakukan survei dan pembelian lahan pada 2023, memulai pembangunan fasilitas pada 2024, serta mengoperasikan tahap pertama proyek pada 2025. Zheng menyebut operasional tahap pertama berjalan stabil, sedangkan pengembangan tahap kedua dan ketiga kini tengah dipersiapkan. Sementara itu, General Manager Fujian Miaotianhui Food Co., Lin Zhengrong, menyampaikan bahwa perusahaannya bersama sejumlah mitra telah membangun rantai industri kelapa yang lengkap, mulai dari serpih kelapa, santan, air kelapa hingga minyak kelapa. "Musim panas merupakan musim puncak bagi industri minuman, produksi dan penjualan sama-sama meningkat pesat," tutur Lin Zhengrong, general manager Fujian Miaotianhui Food Co. Menurut Lin, pola kerja sama yang menggabungkan bahan baku Indonesia, pengolahan lanjutan di Yuanhong, dan pemasaran global mampu meningkatkan nilai tambah produk pertanian Indonesia sekaligus menjamin pasokan bahan baku berkualitas tinggi bagi produsen Tiongkok. Kerja sama konkret juga terus bertambah melalui berbagai kesepakatan baru. Pada 9 September, Anjoy Foods Group menjalin usaha patungan dengan Salim Group dari Indonesia untuk membangun fasilitas produksi makanan beku di Indonesia. Kolaborasi tersebut akan memadukan teknologi, merek, dan standar operasional Anjoy dengan jaringan distribusi serta pengalaman lokal Salim Group. Basis produksi itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia sekaligus memperluas jangkauan ke kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika. Indonesia, "perekonomian terbesar di Asia Tenggara dengan populasi berusia muda," menawarkan ruang pertumbuhan yang luas bagi makanan beku dan halal, tutur Liu Mingming, chairman Anjoy, yang menyebut proyek tersebut sebagai "langkah penting dalam menerapkan strategi globalisasi Anjoy." Pada hari yang sama, sejumlah perusahaan dari kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman dalam kegiatan promosi investasi khusus. Kesepakatan tersebut mencakup pengembangan kawasan industri, logistik dan rantai pasok lintas batas, kendaraan roda dua listrik, pembangunan pusat data, hingga industri budaya. Salah satu perusahaan yang turut menjalin kerja sama adalah Wanxinda, pengembang kawasan industri sains dan teknologi di Indonesia, yang menandatangani sejumlah perjanjian dengan mitra asal Tiongkok. Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, Ali Murtopo Simbolon, menilai fokus kerja sama kini tidak lagi sekadar memperbesar volume perdagangan maupun investasi. "Tantangannya tidak lagi terletak pada cara memperluas skala perdagangan dan investasi, tetapi pada bagaimana membuat kemitraan kita lebih mendalam, lebih efisien, dan lebih didorong oleh teknologi," ujar Ali Murtopo Simbolon. Menurut Ali, kolaborasi Indonesia dan Fujian berpotensi berkembang lebih jauh dalam bidang ekonomi digital. Dia juga berharap kemitraan kedua pihak dapat diperluas ke sektor kesehatan mental, pendidikan, pertanian, hingga pembangunan kota pintar. Di sisi lain, pengembangan infrastruktur penunjang terus dipercepat. Zhong mengungkapkan bahwa platform layanan dua arah Tiongkok-Indonesia saat ini sedang dibangun, termasuk melalui kehadiran pusat sertifikasi halal dan pos layanan luar negeri. Selain itu, pembangunan Kawasan Industri Subang China Wuyi di Indonesia juga terus berjalan. Jalur pelayaran langsung yang menghubungkan Fuqing dengan Surabaya maupun Jakarta tengah dipersiapkan menggunakan kapal kontainer berkapasitas 600 TEU. Kehadiran rute tersebut diproyeksikan memangkas waktu pengiriman menjadi kurang dari 10 hari sekaligus menurunkan biaya logistik per kontainer lebih dari 10 persen.