JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Kelas menengah perlu memiliki strategi yang adaptif dan terukur, demikian dikatakan Luke Ariefiandi, Head of Strategic Communications and Brand UOB Indonesia. UOB Indonesia menggelar diskusi bertajuk “How Can the Middle Class Build Resiliency in Economic Volatility” yang membahas implikasi dinamika ekonomi global dan kebijakan nasional terhadap kelas menengah, sekaligus strategi finansial untuk memperkuat ketahanan ekonomi di tengah volatilitas, Senin,(02/326). Luke menekankan bahwa kelas menengah memiliki peran strategis sebagai motor konsumsi domestik dan penopang stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, penguatan literasi dan perencanaan keuangan menjadi kunci agar segmen ini mampu bertahan di tengah tekanan global. “Ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perubahan arah kebijakan moneter negara maju, berdampak langsung pada daya beli dan perencanaan keuangan masyarakat. Kelas menengah perlu memiliki strategi yang adaptif dan terukur,” ujarnya. Hadir sebagai narasumber, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat bauran kebijakan fiskal dan struktural guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan inklusif. Menurutnya, ketahanan kelas menengah sangat berkaitan dengan penciptaan lapangan kerja, pengendalian inflasi, serta keberlanjutan program perlindungan sosial. “Kelas menengah harus didorong agar tidak rentan turun kelas saat terjadi guncangan. Pemerintah berupaya menjaga stabilitas harga, memperluas akses pembiayaan UMKM, dan memperkuat sektor riil agar fondasi ekonomi tetap kokoh,” jelasnya. Sementara itu, ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, memaparkan bahwa volatilitas ekonomi global diperkirakan masih berlanjut seiring perlambatan pertumbuhan di sejumlah negara dan dinamika suku bunga global. Indonesia dinilai memiliki fundamental yang relatif kuat, namun tetap perlu waspada terhadap risiko eksternal seperti pelemahan permintaan ekspor dan arus modal. Dari sisi individu dan rumah tangga, Enrico menekankan pentingnya diversifikasi sumber pendapatan, pengelolaan utang yang sehat, serta investasi yang disesuaikan dengan profil risiko. “Kelas menengah perlu membangun dana darurat yang memadai, menjaga rasio utang terhadap pendapatan, dan mulai berinvestasi secara disiplin untuk tujuan jangka panjang,” paparnya. Diskusi juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan keuangan, termasuk pemanfaatan layanan perbankan dan investasi yang semakin mudah diakses. Dengan perencanaan yang matang dan dukungan kebijakan yang tepat, kelas menengah diharapkan mampu memperkuat daya tahan ekonomi sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan nasional yang berkelanjutan. Melalui forum ini, UOB Indonesia berharap dapat mendorong dialog konstruktif antara regulator, pelaku industri, dan masyarakat dalam merumuskan langkah konkret agar kelas menengah tetap tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global.