JAKARTA - Industri penerbitan Tiongkok melihat peluang yang kian besar di Indonesia. Sejumlah penerbit nasional mulai menjajaki kerja sama pembelian hak cipta, pengadaan buku dari Tiongkok, hingga pemanfaatan teknologi percetakan. Di sisi lain, ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap buku berbahasa Mandarin juga terus bertumbuh. Dalam Indonesia International Book Fair 2026, penerbit Indonesia Gema Insani melakukan pembahasan dengan perusahaan penerbitan Tiongkok, Beijiao Tongqu, terkait rencana akuisisi hak terbit beberapa buku sains untuk anak. Sejumlah judul yang dibahas antara lain buku bertema astronaut dengan berbagai fitur interaktif. Manajer Pemasaran dan Hak Cipta Gema Insani, Ecky, mengatakan kedua pihak sebelumnya telah bertemu dalam sejumlah ajang internasional di Shanghai dan Kuala Lumpur sebelum melanjutkan diskusi di Jakarta. "Saat ini kami dalam tahap finalisasi. Ada beberapa judul yang kami minati untuk diterbitkan di Indonesia, khususnya buku anak-anak," ujar Ecky kepada Xinhua. Menurut dia, daya tarik utama buku-buku tersebut terletak pada fitur interaktif yang masih belum banyak ditemukan di pasar Indonesia. Beberapa di antaranya berupa mekanisme buka-tutup (flip-flap), elemen tiga dimensi (3D), bagian yang dapat digeser, hingga komponen berbahan tali. Selain inovasi produk, kemampuan industri percetakan Tiongkok juga dinilai mampu memberikan keuntungan dari sisi efisiensi biaya produksi. "Tiongkok memiliki banyak inovasi yang bagus. Dan kami sedang berupaya membeli hak ciptanya," kata Ecky. Ia menambahkan bahwa kedua perusahaan masih mempertimbangkan lokasi pencetakan buku, apakah dilakukan di Indonesia atau di Tiongkok. Kerja sama yang dijajaki tersebut menunjukkan hubungan antara penerbit Indonesia dan Tiongkok tidak lagi terbatas pada penjualan buku semata. Kolaborasi kini mencakup lisensi hak cipta, adaptasi konten, hingga peluang pengembangan dan produksi bersama. Ecky menilai pameran buku internasional juga menjadi sarana bagi penerbit Indonesia untuk memperkenalkan karya-karya lokal ke pasar global. Sementara itu, minat terhadap buku berbahasa Mandarin mulai terlihat di kalangan pembaca Indonesia. Salah satunya datang dari Elvina, mahasiswi di Jakarta yang telah mempelajari bahasa Mandarin sejak duduk di bangku SMA. Ia mengunjungi pameran tersebut untuk mencari karya sastra dan berbagai bahan bacaan dalam bahasa Mandarin. "Saya sebenarnya sangat senang karena akhirnya saya bisa memiliki akses untuk membeli dan melihat lebih banyak buku berbahasa Mandarin," ujar Elvina. Bagi Elvina, buku-buku tersebut tidak hanya berguna sebagai sarana meningkatkan kemampuan bahasa, tetapi juga memiliki nilai koleksi tersendiri. Ia menilai buku asal Tiongkok menawarkan tampilan visual yang menarik dengan ilustrasi yang beragam dan warna yang lebih cerah. Di sisi lain, penerbit Tiongkok terus memperkuat kemitraan jangka panjang dengan pelaku industri penerbitan di Indonesia. Manajer Umum Beijiao Children Joy Education & Technology, Chen Changhai, mengatakan perusahaannya telah aktif di Indonesia selama beberapa tahun terakhir dan telah menghadirkan lebih dari 400 judul baru buku anak-anak. "Kami melihat pasar penerbitan Indonesia, khususnya penerbitan buku anak-anak, memiliki potensi besar dan perkembangannya sangat dinamis," ujar Chen. Menurutnya, hubungan kerja sama antara penerbit kedua negara kini berkembang dari sekadar transaksi hak cipta menjadi kolaborasi riset dan pengembangan. Kondisi tersebut menunjukkan semakin luasnya peluang bagi industri penerbitan Indonesia dan Tiongkok untuk menciptakan serta mendistribusikan konten lintas negara.