JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Gagasan besar untuk mendirikan sebuah menara megah di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) kini tampak seperti mimpi yang menguap. Proyek yang dikenal sebagai BUMN Tower dirancang sebagai gedung pencakar langit setinggi 778 meter dengan 138 lantai kini tersendat tanpa kejelasan kapan akan dilanjutkan. Konsep awal BUMN Tower menimbulkan optimisme besar. Struktur yang akan menjadi salah satu tertinggi di dunia ini dijanjikan sebagai ikon baru IKN, sekaligus simbol kemajuan dan investasi di Indonesia. Akan tetapi, dalam perkembangan terkini, kemungkinan realisasinya semakin samar. Pihak berwenang, termasuk Otorita IKN, menyatakan belum mendengar kabar lanjutan terkait pembangunan menara tersebut. Salah satu tantangan utama muncul dari aspek pendanaan, izin, dan tata ruang yang harus dirampungkan. Sebagai proyek berskala luar biasa, BUMN Tower membutuhkan koordinasi tinggi antara badan usaha milik negara, pemerintah daerah, dan regulator tanah serta lingkungan. Namun hingga kini, belum ada pengumuman resmi tentang pelaksanaan konstruksinya. Lebih jauh lagi, kondisi pasar properti internasional dan lokal yang tengah mengalami tekanan ikut memperkeruh situasi. Investor dan pengembang global kini lebih berhati-hati dalam menyuntik modal ke proyek super tinggi, sementara biaya konstruksi dan teknologi juga terus naik. Dalam konteks ini, sebuah menara setinggi 778 meter dengan profil “ikon nasional” menjadi beban risiko yang cukup besar. Meski begitu, manfaat yang dijanjikan dari BUMN Tower sangatlah besar: selain sebagai landmark kota baru, menara tersebut bakal menyediakan ruang kantor, hotel, observatorium, dan fasilitas multiguna yang dapat menghidupkan kawasan IKN dari sisi ekonomi dan pariwisata. Idealnya, menara ini akan menjadi magnet investasi dan simbol kebangkitan infrastruktur Indonesia. Tapi kenyataannya, saat ini semua itu masih berada di atas kertas. Pengamat menyebut bahwa tanpa kepastian timeline, proyek-ikon seperti ini bisa berada dalam status “tertunda panjang” hingga diperkirakan sebagai simbol ambisi yang belum terwujud. Bahkan, beberapa pihak menyebut bahwa BUMN Tower kini telah memasuki fase ghost project proyek yang diumumkan dengan megah namun kalah cepat dengan kendala eksekusi. Apa arti kondisi ini bagi IKN? Pertama, kehilangan momentum branding kota baru sebagai pusat pemerintahan dan bisnis. Kedua, potensi investasi yang semestinya mengalir lewat proyek semacam ini menjadi tertunda, sehingga efek multiplier-ekonomi juga ikut melambat. Ketiga, jika proyek tak kunjung bergerak, kepercayaan publik dan investor terhadap komitmen pembangunan skala besar bisa terkikis. Sebagai penutup, ambisi untuk mendirikan bangunan setinggi 778 meter memang memukau tetapi tantangan operasionalnya tak kalah besar. BUMN Tower mungkin saja masih disimpan dalam rencana, namun sejauh ini ia lebih menjadi kenangan akan proyek spektakuler yang belum juga dimulai. Agar visi tak terus menjadi sekadar janji, dibutuhkan keberanian memperjelas roadmap, alokasi anggaran yang realistis, dan konsistensi dalam pelaksanaan. (Disari dari berbagai sumber)