JOHANNESBURG - Kebijakan tarif terbaru yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah produk ekspor Afrika Selatan berpotensi menekan daya saing perdagangan negara tersebut serta memperlambat pertumbuhan ekonomi yang saat ini masih bergerak moderat. Penilaian tersebut disampaikan ekonom dari Universitas Afrika Selatan (University of South Africa), Simphiwe Madikizela. Dalam wawancara dengan Xinhua, Madikizela menegaskan bahwa hambatan perdagangan tidak menguntungkan bagi Afrika Selatan, terutama ketika perekonomian nasional masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan laju pertumbuhan. Pada 24 Juli, AS menerapkan tarif tambahan sebesar 12,5 persen terhadap sejumlah produk ekspor Afrika Selatan berdasarkan Pasal 301. Kebijakan itu muncul di tengah memburuknya hubungan kedua negara pada masa pemerintahan Donald Trump, termasuk terkait gugatan Pretoria terhadap Israel di Mahkamah Internasional (ICJ) serta perbedaan pandangan mengenai sejumlah kebijakan domestik dan luar negeri. Menurut Madikizela, dampak tarif akan berbeda di setiap sektor, namun secara umum eksportir Afrika Selatan diperkirakan menghadapi penurunan daya saing harga, berkurangnya margin keuntungan, dan potensi penurunan volume ekspor. Ia menilai sektor pertanian dan manufaktur menjadi yang paling rentan terdampak. Kedua sektor tersebut selama ini sangat bergantung pada ekspor komoditas seperti buah jeruk, wine, kacang-kacangan, serta komponen otomotif ke pasar internasional. Madikizela menjelaskan bahwa perusahaan yang memiliki margin keuntungan tipis kemungkinan harus menanggung sebagian biaya tambahan akibat tarif tersebut. Sementara perusahaan lain mungkin akan meneruskan beban biaya kepada pembeli, yang berisiko membuat produk mereka kalah bersaing dibandingkan barang dari negara lain yang tidak dikenai tarif serupa. Kebijakan terbaru ini menambah tekanan setelah sebelumnya AS memberlakukan tarif sebesar 30 persen pada Agustus tahun lalu. Tarif tersebut telah memengaruhi rantai pasok dan mengganggu aktivitas perusahaan-perusahaan yang berorientasi ekspor. Ia menambahkan bahwa dampak ekonomi jangka panjang akan sangat ditentukan oleh lamanya kebijakan tarif tersebut diterapkan. Semakin lama kebijakan berlangsung, semakin besar pula potensi tekanan terhadap sektor ekspor dan industri dalam negeri. Dari sisi makroekonomi, penurunan pendapatan ekspor dapat memengaruhi neraca perdagangan Afrika Selatan dan memberikan tekanan terhadap nilai tukar rand apabila volume ekspor mengalami penurunan signifikan. Selain itu, melemahnya ekspor berpotensi menghambat produksi manufaktur dan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), terutama jika pelaku usaha memilih menunda ekspansi atau mengurangi kapasitas produksi akibat ketidakpastian pasar. Madikizela juga mempertanyakan kepastian hubungan dagang antara Afrika Selatan dan Amerika Serikat. Menurutnya, meskipun Afrika Selatan telah menjalin hubungan ekonomi yang cukup intens dengan AS, negara tersebut tetap menghadapi tambahan hambatan perdagangan berupa tarif baru.