Di sini, di tanah yang belajar mengeja keheningan malam pernah melipat janji dan mimpi Jejak-jejak luka terpahat di dada ibu pertiwi di mana doa dan duka berpadu tanpa suara September menatap dengan mata yang gamang menyimpan jejak jemari yang kehilangan genggaman dan langkah-langkah yang terhenti di garis takdir. Bayang-bayang masa lalu berdiri sebagai saksi bahwa sejarah bukan sekadar jejak yang tersapu angin Ada jerit yang tak selesai dalam ingatan, ada luka yang menolak lupa Namun di atas puing-puing kepedihan itu kita menenun kembali benang-benang harapan Menjaga lentera perdamaian agar tak padam dirayapi malam. Biarlah sejarah menjadi dinding kaca: tempat kita bercermin tentang arti menjaga jiwa Agar persaudaraan tak lagi patah oleh rasa curiga Dan tanah ini tetap menjadi rumah bagi kasih yang abadi.