NETRALNEWS.COM - Di sebuah perdesaan, hiduplah seorang kakek, nenek, serta ibu dengan dua anaknya, Vidya yang masih duduk di bangku SMA dan Arya yang telah lulus SMA tiga tahun lalu. Ayah dan ibu mereka telah berpisah sejak lama. Saat ini, mereka bertahan hidup hanya dengan penghasilan Arya, sebab ibu mereka hanya berdagang gorengan di depan rumah, dan itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi kebutuhan sekolah adiknya. Matahari telah menampakkan diri di ufuk timur. Tepat hari ini, Arya memutuskan untuk merantau bersama temannya, Satya. Mereka hendak mengadu nasib dan mencari keberuntungan di kota orang. “Hati-hati, Arya, selama di kota orang. Jaga diri baik-baik,” ujar kakek dan nenek. “Jangan lama-lama ya, Mas, merantaunya. Nanti kalau aku sudah lulus sekolah, Mas pulang saja dan kerja di sini,” ujar Vidya. “Tidak apa-apa merantau. Anggap saja ini pengalaman baru bagimu, Nak,” ujar ibu Arya. “Iya, doakan ya, Kakek, Nenek, Vidya, dan Ibu. Aku berangkat sekarang,” kata Arya. Pada suatu malam yang ramai, setelah perjalanan selama dua hari, akhirnya Arya dan Satya tiba di kota. Mereka sangat kagum melihat gedung-gedung pencakar langit dan gemerlap lampu kota, hal yang tidak mereka dapatkan selama tinggal di desa. “Kita cari penginapan dulu, Satya. Sudah malam, besok pagi kita harus bertemu dengan Pak Budi,” ujar Arya. “Cari penginapan di mana, Arya? Sepertinya susah. Kita juga belum memesan penginapan sebelumnya. Kalau tidak ada penginapan, kita tidur di pom bensin atau masjid saja semalam,” ujar Satya. “Ya sudah, kita cari masjid terdekat saja. Sementara ini kita tidur di sana dulu,” ujar Arya. Ayam berkokok dan embun pagi mulai menetes di pepohonan. Arya dan Satya bergegas menuju tempat kerja dan menemui Pak Budi di ruangannya. “Selamat pagi, Pak. Saya Arya dan ini Satya. Kami yang waktu itu mengajukan diri untuk ikut bekerja dalam proyek pembangunan perumahan ini, Pak,” ujar Arya. “Oh, kalian. Iya, saya ingat. Kamu mulai bekerja hari ini. Di sini saya mandor kalian. Sebelumnya saya jelaskan dulu prosedur kerja di proyek perumahan ini. Proyek ini akan membangun kurang lebih seribu rumah dan direncanakan selesai dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Hari kerjanya enam hari, Senin sampai Sabtu, sedangkan Minggu libur. Gaji kalian Rp200.000,00 per hari. Kalau kalian ingin berutang, gaji kalian akan dipotong untuk membayar utang itu,” ujar Pak Budi menjelaskan. “Oh, baik, Pak. Saya setuju dengan semuanya,” ujar Satya. “Pak, saya mau bertanya. Apakah para pekerja disediakan tempat tinggal? Lalu, tempat tinggalnya bayar atau gratis, Pak?” tanya Arya. “Oh iya, terima kasih sudah mengingatkan. Pekerja di sini memang kebanyakan berasal dari luar kota, ada juga yang dari desa seperti kalian. Perusahaan kami menyediakan tempat tinggal gratis bagi para pekerja, tetapi listrik, air, dan keperluan lain kalian bayar sendiri. Masih ada satu tempat tinggal yang kosong. Nanti kalian berdua tempati yang itu,” ujar Pak Budi. “Oh iya, terima kasih, Pak,” ujar Arya. “Terima kasih banyak, Pak Budi,” ujar Satya. “Iya. Kalian langsung bekerja, ya. Namun, sebelum itu, temui dulu Pak Agus. Dia pengawas proyek di sini, jadi semua pekerja mengikuti arahannya. Terakhir, sistem kerja di sini adalah kontrak. Saya berikan kalian kontrak selama satu setengah tahun dulu,” ujar Pak Budi. “Baik, Pak. Ruangan Pak Agus di mana, ya, Pak?” tanya Satya dan Arya. “Ruangannya persis di sebelah ruangan saya. Kalian ke sana sekarang.” Setelah mengobrol panjang lebar dengan Pak Budi, Arya dan Satya segera menuju ruangan Pak Agus untuk menanyakan tugas yang dapat mereka kerjakan. “Permisi, selamat pagi, Pak. Saya Satya dan Arya,” ujar Satya dan Arya sambil memasuki ruangan Pak Agus. “Mari masuk, silakan duduk. Kalian pekerja baru di sini, ya?” ujar Pak Agus. “Benar, Pak. Kami pekerja baru di sini,” ujar Arya dan Satya. “Baik. Kalian sekarang langsung ke proyek, ya. Bantu pekerja yang lain. Kamu, Satya, bertugas mengerjakan pemasangan atap dan plafon,” ujar Pak Agus. “Baik, Pak. Saya sanggup,” ujar Satya. “Lalu kamu, Arya, bekerja di bagian pembangunan fondasi rumah.” “Baik, Pak. Saya mengerti,” ujar Arya. “Oke, silakan langsung dikerjakan. Kalian bergabung dengan yang lain, ya,” ujar Pak Agus. Setelah itu, Arya dan Satya segera bergabung dengan pekerja lainnya dan memulai kegiatan hari itu. “Batu bata ini langsung dipasang di sini, Mas?” tanya Arya kepada rekan kerjanya. “Iya, Bang. Letakkan di sana, tetapi ukur dulu batanya supaya presisi. Setelah itu, lanjut bantu menggali tanah untuk fondasi rumah sebelahnya, ya,” ujar rekan Arya. “Siap, Mas. Aman,” ujar Arya. Di sisi lain, Satya juga mulai bekerja pada tugas yang diberikan Pak Agus. “Kamu pekerja baru di sini, ya?” tanya pekerja lain kepada Satya. “Iya, Mas. Saya baru bergabung hari ini. Mohon arahannya, Mas, apa saja yang bisa saya kerjakan,” tanya Satya kepada rekan kerjanya. “Tugasmu selama di sini memasang atap. Hari ini target kita enam rumah harus terpasang,” ujar rekan kerja Satya. “Siap, Mas,” ujar Satya. Sore hari tiba. Jingganya langit membuat suasana proyek makin indah. Setelah tiba di tempat tinggal, Arya baru teringat bahwa dirinya belum mengobrol dan mengetahui kabar keluarga di desa. Ia pun melakukan panggilan video kepada adiknya. “Halo, Vidya, bagaimana kabarmu?” tanya Arya. “Baik, Mas. Mas sendiri bagaimana kabarnya di sana?” ujar Vidya. “Mas baik, Vidya. Bagaimana kabar Ibu, Kakek, dan Nenek?” tanya Arya. “Mereka semua baik, Mas. Ini Ibu mau bicara denganmu,” ujar Vidya. “Halo, Arya, bagaimana kabarmu? Kamu sehat, kan?” tanya ibu Arya. “Sehat, Bu. Ibu sendiri sehat?” tanya Arya. “Sehat, Nak. Bagaimana suasana kota dan pekerjaanmu? Berapa gajinya?” tanya ibu Arya. “Bagus, Bu. Di kota suasananya selalu hidup dan ramai, apalagi kalau malam seperti ini. Oh iya, Bu, aku dan Satya bergabung di proyek pembangunan perumahan. Hari kerjanya enam hari, Senin sampai Sabtu. Di sini juga diterapkan sistem kerja kontrak, jadi aku dan Satya dikontrak bekerja selama satu setengah tahun saja. Soal gaji, lumayan, Bu, Rp200.000,00 per hari,” ujar Arya menjelaskan. “Tidak apa-apa, Nak. Kamu tabung saja uang itu. Lalu, tempat tinggalnya bagaimana? Kamu indekos atau bagaimana?” tanya ibu Arya. “Tidak, Bu. Aku tidak indekos. Di sini semua pekerja disediakan tempat tinggal gratis, jadi para pekerja hanya membayar listrik dan air,” ujar Arya. “Tidak apa-apa, Nak. Lumayan, uangmu bisa lebih hemat karena tidak perlu membayar tempat tinggal. Ya sudah, begitu saja, ya, Nak. Kamu segera tidur. Sudah hampir pukul setengah delapan ini,” ujar ibu Arya. “Iya, Bu. Nanti dulu tidurnya. Sebentar lagi aku mau keluar melihat suasana malam hari,” ujar Arya. Bosan hanya berdiam di tempat tinggal, Arya memutuskan mencari udara segar dengan berjalan kaki sekaligus mencari makan malam. “Aku mau pergi nih. Kamu mau titip makan malam, Satya?” tanya Arya. “Boleh. Aku titip nasi goreng, ya. Terserah yang mana, yang penting porsinya banyak,” ujar Satya. “Oke. Pakai uangku dulu saja, ya. Nanti kamu ganti sekalian dengan ongkos antarnya,” ujar Arya sambil bercanda. “Iya, aman itu. Sudah sana, cari nasi gorengnya,” ujar Satya. Setelah mendapatkan makanan untuk dirinya dan Satya, Arya memutuskan melewati taman kota. Di sana banyak orang yang sedang bermain bersama teman dan keluarganya. Tidak hanya itu, di sana juga terdapat banyak penjual makanan dan minuman. Arya pun melihat seorang perempuan duduk sendirian di taman kota itu. Tidak lama kemudian, ia mulai suka berjalan-jalan ke taman kota. Taman itu kini menjadi tempat favorit yang selalu ia kunjungi setiap malam. “Ini nasi gorengmu. Mana uang gantinya?” ujar Arya. “Hehehe, besok saja, ya. Aku utang dulu, nanti kubayar setelah gajian,” ujar Satya. “Hadeh, kebiasaan. Ya sudah, tidak apa-apa,” ujar Arya. “Makasih, ya,” ujar Satya. “Eh, tadi aku melihat ada perempuan yang duduk sendirian di taman kota. Aneh sekali, kan? Di sana semua orang pasti punya teman mengobrol, tetapi dia sendirian,” tanya Arya. “Biasa saja, sih. Banyak juga orang di kampung yang duduk sendirian di kebun tengah malam,” ujar Satya sambil bercanda. “Hehe, iya juga,” ujar Arya. Hari itu, seperti biasa, Satya dan Arya mulai bekerja di proyek pembangunan perumahan. Namun, kali ini Satya melakukan kesalahan fatal sehingga ia mendapat surat peringatan dari Pak Budi. “Teman kamu di mana, Arya? Kemarin dia memasang lima plafon rumah, tidak ada yang benar. Kelimanya rusak dan jatuh ke lantai. Sekarang dia tidak masuk? Dia minta diberi surat peringatan atau langsung dipecat?” ujar Pak Budi. “Waduh, maaf, Pak Budi. Sekarang dia sedang sakit, Pak. Mungkin besok sudah mulai masuk kerja lagi. Saya yang menjamin Satya tidak akan berbuat kesalahan lagi selama bekerja, Pak,” ujar Arya. Jingga senja telah mewarnai langit, tanda para pekerja dapat pulang dan beristirahat untuk memulai kembali pekerjaan esok pagi. Setelah itu, Arya segera menemui Satya. “Kamu bagaimana, sih? Kok bisa ceroboh begitu? Tadi Pak Budi menegurku dan menceritakan semua yang kamu lakukan kemarin,” ujar Arya. “Iya, maaf. Kemarin aku banyak pikiran. Keluarga di rumah meminta kiriman uang untuk tambahan biaya sekolah adikku. Aku bilang ke mereka, ‘Minggu depan dulu, ya,’ tetapi mereka malah langsung menutup telepon,” ujar Satya. “Iya, aku tahu penderitaan yang kamu alami, tetapi semua itu jangan sampai mengganggu pekerjaanmu, Satya,” ujar Arya. “Iya, Arya. Sungguh, ini yang terakhir kalinya aku melakukan kesalahan di tempat kerja. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan apa pun,” ujar Satya. “Ya, memang ini harus yang terakhir kalinya kamu ceroboh seperti itu. Tadi Pak Budi menanyakan kenapa kamu tidak masuk kerja, tetapi aku beralasan kamu sedang sakit. Dia juga bilang kalau kamu melakukan kesalahan lagi, kamu akan diberi surat peringatan atau bisa langsung dipecat,” ujar Arya. “Waduh, bagaimana ini, Arya? Aku tidak mau dipecat,” ujar Satya. “Ya, seperti yang kamu katakan tadi, kamu tidak akan melakukan kesalahan lagi. Jadikan saja itu pedomanmu selama bekerja di sini,” ujar Arya. Tidak ingin Satya larut dalam kesalahannya, Arya mengajaknya berjalan-jalan ke taman kota. “Ayo, aku traktir makan di taman kota. Di sana suasananya ramai. Mungkin dengan begitu kamu bisa melepaskan semua bebanmu,” ujar Arya. “Sudah malam ini, sudah pukul setengah sembilan,” ujar Satya. “Tidak apa-apa. Sekarang kan malam Minggu, besok kita libur. Ayo, supaya hari Senin nanti kamu bisa fokus lagi bekerja,” ujar Arya. “Ya sudah, ayo,” ujar Satya. Gemerlap lampu taman kota menerangi tempat itu. Arya kembali melihat perempuan itu duduk di bangku taman, tetapi ia mengabaikannya karena tujuan utamanya saat ini adalah mengajak Satya menghilangkan stres berlebihan yang sedang dialaminya. “Ayo, kamu mau makan apa? Ada soto ayam, bakso, nasi goreng, dan mi ayam,” ujar Arya. “Boleh dua menu berbeda, Arya?” ujar Satya bercanda. “Kamu ini. Uang nasi goreng kemarin saja belum dikembalikan, hari ini minta dua menu lagi,” ujar Arya. “Hehe, aku nasi goreng dan bakso, ya, Arya,” ujar Satya. “Oke. Minumnya apa?” tanya Arya. “Es jeruk dan air putih,” ujar Satya. Sambil makan di taman kota, Arya kembali bercerita kepada temannya bahwa tadi ia melihat perempuan itu lagi. “Tadi aku melihat dia lagi, lho,” ujar Arya. “Siapa?” tanya Satya. “Perempuan yang kemarin kuceritakan kepadamu, yang duduk sendirian di taman kota itu. Masa lupa, sih?” ujar Arya. “Oalah, iya, iya, baru ingat. Kamu melihat dia lagi? Kok aku tidak melihatnya, ya? Padahal aku juga ingin bertemu dengannya,” ujar Satya. “Aduh, kamu ini malah bercanda,” ujar Arya. “Kenapa, sih? Santai saja, dong. Kenapa kamu kelihatan gelisah terus kalau bertemu perempuan itu? Kamu suka dia?” tanya Satya. “Kenal namanya saja belum, kok bisa-bisanya suka,” ujar Arya. “Begini saja. Besok, atau kapan pun terserah, kamu ke sini lagi dan coba langsung dekati dia. Duduk di sebelahnya, lalu tanya siapa namanya dan tinggal di mana,” ujar Satya. “Kalau cuma menyuruh, Kakek dan Nenekku juga bisa, Satya. Tidak, deh. Aku mau melupakan perempuan itu saja,” ujar Arya. “Belum mulai sudah tumbang. Coba saja, kan tidak ada biaya pendaftaran, masa kamu tidak mau,” ujar Satya bercanda. “Lupakan saja. Ya sudah, ini uangnya. Kamu bayar makananmu sekalian makananku,” ujar Arya. Akhir pekan telah berakhir dan hari Senin tiba, hari ketika dua sekawan itu kembali menjalankan tugasnya. Pada hari itu, Arya dipercaya Pak Budi untuk memimpin para pekerja lain membuat sepuluh fondasi rumah dalam waktu enam hari. Kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Ia bekerja dengan tekun dan teliti. “Pak, hari ini baru dua rumah yang selesai difondasi. Besok perkiraan tiga rumah, dan keseluruhan sepuluh rumah akan selesai dalam enam hari, Pak,” ujar Arya kepada Pak Budi. “Baik, kerja bagus. Kalau kamu menyelesaikan tugas ini sebelum hari keenam, kamu akan mendapat bonus,” ujar Pak Budi. “Terima kasih, Pak. Oh iya, bagaimana pekerjaan Satya, Pak? Apakah dia tidak membuat kesalahan lagi?” tanya Arya. “Tidak. Mungkin dia sudah belajar dari kesalahan sebelumnya. Tadi saya lihat Satya rajin bekerja, dan kata rekan kerja lainnya, dia sudah paham dan bisa mengerjakan tugasnya sendiri,” ujar Pak Budi. “Baik, Pak. Syukurlah kalau begitu. Saya ikut senang kalau Satya bekerja dengan baik,” ujar Arya. Setelah itu, seperti biasa, pada malam hari Arya kembali ke taman kota dan bertemu lagi dengan perempuan itu. Hati Arya bergejolak ingin menghampiri dan mengajaknya berkenalan, tetapi ia belum sempat dan belum memiliki keberanian untuk mendekatinya. Akhir pekan pun tiba. Sesuai janji Pak Budi, Arya mendapat bonus uang sebagai apresiasi karena telah berhasil memimpin rekan kerja lain membuat sepuluh fondasi rumah. Setelah menerima bonus itu, Arya tidak lupa memberikan makanan dan minuman kepada rekan kerja yang telah membantunya. Ia juga tidak lupa mengirimkan sebagian bonus itu kepada keluarganya di desa. “Vidya, maaf Mas baru memberi kabar lagi. Ini ada sedikit uang yang baru saja Mas transfer untukmu. Titip salam untuk Ibu, Kakek, dan Nenek, ya,” ujar Arya kepada adiknya lewat pesan singkat. Dinginnya malam Minggu tidak menghalangi Arya untuk kembali berjalan-jalan ke taman kota. Kali ini ia telah mengumpulkan tekad untuk bertemu dan mengobrol langsung dengan perempuan itu. Tidak lama kemudian, ia menemuinya yang sedang memberi makan kucing jalanan. Tanpa basa-basi, Arya langsung menghampiri perempuan tersebut. “Ih, lucu ya kucingnya. Kalau di desa, kucing seperti ini dijuluki kucing mujair,” ujar Arya kepada perempuan itu. “Bukan cuma di desa. Di kota juga, kalau kucing bermotif begini pasti disebut kucing mujair,” ujar perempuan itu. “Kamu senang sekali ya dengan kucing?” tanya Arya. “Enggak juga, sih. Ini cuma kebetulan ada si Mujair, dan tadi waktu ke taman aku sempat beli makanan kucing,” ujar perempuan itu. “Oalah, begitu. Kalau boleh tahu, namamu siapa?” tanya Arya kepada perempuan itu. “Namaku Sinta,” ujarnya kepada Arya. “Oalah, namanya bagus. Kenalkan, aku Arya,” ujar Arya. Setelah mengetahui nama perempuan itu, Arya kembali ke tempat tinggalnya dan menceritakan semuanya kepada Satya. “Hehehe, namanya Sinta,” ujar Arya. “Apa, sih? Sinta siapa? Siapa dia?” tanya Satya. “Perempuan taman kota itu. Tadi aku mengobrol dengannya,” ujar Arya. “Ya sudah, lanjutkan. Langsung saja ungkapkan perasaanmu kepadanya. Tanyakan dia mau jadi pacarmu atau tidak,” ujar Satya sambil bercanda. “Hahaha, tidak segampang itu, sepertinya,” ujar Arya sambil bercanda. Sejak mengenal perempuan itu, setiap malam Arya selalu bertemu dengannya. Kali ini Arya ingin mengenal Sinta lebih dekat, sehingga ia mengajaknya makan malam bersama di sekitar taman kota. “Kamu lagi, kamu lagi. Bosan aku,” ujar Sinta kepada Arya. “Hehehe. Bagaimana kalau kita makan di warung Pak Joko? Di sana ada bebek goreng yang enak, Sin,” ujar Arya. “Oh, yang itu. Aku juga sudah pernah makan di situ. Ya sudah, ayo, tidak apa-apa, tetapi kamu yang bayar, ya,” ujar Sinta. “Iya, dong, jelas. Ayo,” ujar Arya. Selama makan bersama, mereka saling bertanya tentang hal-hal yang belum pernah mereka tanyakan sebelumnya. “Kamu asli sini, Sinta?” tanya Arya. “Iya, aku asli sini, Arya. Rumahku persis di belakang taman kota, makanya aku sering ke sini, apalagi kalau malam hari, soalnya di sini ramai, berbeda dengan suasana rumahku. Di rumahku banyak orang, tetapi kurang interaksi sehingga terasa sepi,” ujar Sinta. “Oalah, pantas kamu sering sekali ke sini,” ujar Arya. “Iya. Kalau kamu dari mana?” tanya Sinta. “Aku dari desa, Sin. Di sini aku merantau. Sekarang aku bekerja di proyek pembangunan perumahan. Kalau kamu sendiri bekerja di mana?” tanya Arya. “Aku menjaga toko roti Bu Yani. Tempatnya di seberang, di sebelah kantor polisi, di Jalan Kusuma Bangsa itu,” ujar Sinta. “Oalah, iya, iya. Ya sudah, aku antar kamu pulang, ya. Sekarang sudah malam sekali,” ujar Arya. “Iya, boleh,” jawab Sinta. Sesampainya di depan gang rumah Sinta, Arya berencana mengajak Sinta berkeliling kota naik motor keesokan harinya. “Eh, besok kita jalan-jalan, kamu mau tidak?” tanya Arya. “Hm, besok, ya? Boleh, tetapi sekitar pukul delapan aku pulang, ya, soalnya aku lanjut kerja shift malam. Toko roti yang kujaga buka 24 jam,” jawab Sinta. “Oke, besok aku tunggu di taman kota saja, ya,” ujar Arya. “Ya sudah, nanti aku ke sana,” jawab Sinta. Kedekatan Arya dan Sinta tidak mengganggu pekerjaan mereka. Tidak hanya itu, Arya juga masih selalu ingat kepada keluarganya di desa. Setiap bulan ia mengirimkan uang kepada mereka dengan senang hati. Sore hari tiba, dan ia kembali menunggu Sinta di taman kota. “Hai, Arya! Maaf ya, aku terlambat, hehe,” ujar Sinta. “Hai! Iya, santai saja. Ayo, kita berangkat sekarang,” ujar Arya. Di perjalanan, ia sempat berhenti untuk membeli bunga bagi Sinta. Setelah itu, ia memberanikan diri mengungkapkan perasaan yang telah lama dipendamnya, perasaan yang muncul sejak ia bertemu dengan Sinta setiap malam di taman kota. Sambil berkendara, ia langsung mengungkapkan perasaannya kepada Sinta. “Sinta, kita memang baru kenal, tetapi entah kenapa, kalau melihatmu aku selalu senang dan selalu ingin dekat denganmu. Maukah kamu menjadi pacarku?” tanya Arya. “Iya, aku mau, Arya. Pandangan pertamaku kepadamu sangat berbeda. Kamu terlihat lebih dewasa daripada orang-orang seusiamu. Aku mau jadi pacarmu,” ujar Sinta. “Wih, beneran kamu menerimaku? Aku tidak sedang bermimpi, kan?” tanya Arya. “Ya tidak lah, Arya. Aku sayang sekali kepadamu. Aku berharap kita bisa selalu bersama mulai sekarang, berjuang bersama, dan menghadapi segala rintangan bersama-sama. Hidup, memiliki anak, dan menua bersamamu, Arya,” ujar Sinta. “Wah, tidak, tidak. Pasti ini mimpi,” ujar Arya. “Lho, bukan. Ini sungguhan, Arya. Sudah, kamu fokus saja mengemudikan motornya,” ujar Sinta. “Ya sudah, aku percaya.” Setelah itu, Arya terbangun dari koma panjangnya. Ia tidak mengingat apa pun selama ini. Ia bingung karena di kamar itu ada keluarganya, Satya, Pak Budi, Pak Agus, dan rekan kerja yang lain. “Aku kenapa? Kok aku ada di rumah sakit sekarang?” tanya Arya. “Kamu sekarang berada di rumah sakit, Arya. Kejadiannya cukup rumit jika dijelaskan saat ini. Kamu akan mengetahui kejadian sebenarnya nanti setelah dinyatakan sembuh dan bisa pulang. Intinya, pada hari pertama kamu masuk kerja, sore hari setelah jam kerja selesai, ada tembok perumahan yang roboh dan menimpamu. Keadaannya cukup parah karena waktu itu kamu tidak memakai alat keselamatan kerja, seperti helm dan lainnya,” ujar Pak Budi. “Akhirnya, Nak! Kami semua panik. Kamu koma selama satu bulan, lho. Untung kamu sadar lagi,” ujar ibu Arya. “Syukurlah kamu baik-baik saja. Sudah, besok kita kembali ke desa saja. Kita bertani di sana,” ujar Satya. “Tapi di mana perempuan itu? Di mana Sinta? Aku mau menemuinya, Satya,” ujar Arya. “Semua itu tidak ada, Arya. Kamu juga jangan terlalu banyak bergerak, ya. Semua itu hanya mimpimu selama koma. Kamu akan segera membaik dalam beberapa minggu ke depan. Untuk orang tua Arya, jangan sampai terlambat memberinya obat agar dia cepat pulih,” ujar dokter rumah sakit itu. Perjalanan Arya dan Satya di kota orang ternyata tidak memenuhi harapan mereka. Kadang-kadang kita mengira bahwa apa yang sedang kita jalani dalam hidup ini benar-benar nyata dan sedang terjadi. Namun, hal itu tidak berlaku bagi semua orang.