(NATURE) Oh, Alam! Aku tak berhasrat Menjadi yang tertinggi dalam paduan suaramu,— Menjadi meteor di angkasa, Atau komet yang melesat di tempat tinggi; Hanya angin sepoi yang berembus Di antara gelagah di tepi sungai yang rendah; Berikan aku tempatmu yang paling tersembunyi Di mana aku bisa memacu hembusanku. Di padang rumput yang sunyi dan tertutup Biarkan aku mendesah pada sebatang gelagah, Atau di dalam hutan, dengan gemerisik dedaunan, Membisikkan datangnya malam yang tenang: Berikan aku pekerjaan yang hening untuk kulakukan,— Asalkan—tetap berada di dekatmu! Karena aku lebih memilih menjadi anak Dan muridmu, di hutan belantara, Daripada menjadi raja manusia di tempat lain, Dan budak kekhawatiran yang paling berkuasa: Memiliki satu saat dari fajarmu, Daripada berbagi tahun-tahun kota yang sepi. (INSPIRATION) Apa pun yang kita serahkan pada Tuhan, Tuhan kerjakan, Dan memberkati kita; Pekerjaan yang kita pilih menjadi milik kita sendiri, Tuhan biarkan begitu saja. ———— Jika dengan kepala tegak angkuh aku bernyanyi, Meski semua Dewi Seni meminjamkan kekuatannya, Dari cintaku yang miskin akan segala hal, Bait itu menjadi lemah dan dangkal seperti sumbernya. Namun jika dengan leher tertunduk aku meraba Mendengarkan di belakangku mencari akal budiku, Dengan iman yang melampaui harapan, Lebih cemas menahannya daripada memajukannya; Menjadikan jiwaku kaki tangan di sana Untuk nyala api yang disulut hatiku, Maka bait itu akan abadi— Waktu tak bisa membengkokkan baris yang Tuhan tulis. Selalu pertunjukan umum dari segala hal Mengapung dalam tinjauan di depan benakku, Dan membawa cinta serta penghormatan yang begitu sejati, Sehingga kadang aku lupa bahwa aku buta. Namun kini datang tak dicari, tak terlihat, Obat ilahi yang jernih, Dan aku, yang sebelumnya hanya mengandalkan indera, Menjadi peka, dan seperti Tuhan, menjadi waspada. Aku beroleh pendengaran, yang tadinya hanya punya telinga, Dan penglihatan, yang tadinya hanya punya mata, Aku menghidupi momen, yang tadinya hanya menjalani tahun, Dan memahami kebenaran, yang tadinya hanya tahu ilmu pengetahuan. Aku mendengar melampaui batas suara, Aku melihat melampaui batas pandang, Bumi, langit, dan lautan baru di sekeliling, Dan di hariku sang surya memucatkan cahayanya. Sebuah harmoni yang jernih dan purba Menembus jiwaku melewati segala kebisingannya, Seperti melalui melodi puncaknya,— Lebih jauh di belakang mereka, lebih dalam di dalam. Kilatnya lebih cepat dari petir, Suaranya lebih keras dari guntur, Ia memperluas ranah rahasiaku Kepada semua, dan membiarkanku sendiri di tengah keramaian. Ia berbicara dengan otoritas yang begitu kuat, Dengan nada yang begitu tenang dan agung, Hingga Waktu yang malas berlalu begitu saja, Dan meninggalkanku berdua dengan Keabadian. Kini terutamanya adalah jam kelahiranku, Dan hanya kini puncak kehidupanku, Inilah bunga dari kekuatan kedewasaan, Inilah akhir kedamaian dan awal pergolakan perang. Ia datang pada siang terik musim panas, Di dekat dinding abu-abu atau tempat acak mana pun, Mengacaukan Waktu, menghina bulan Juni, Dan menjengkelkan hari dengan wajah congkaknya. Ia menciptakan wangi di sekitar ranjangku, Lebih kaya dari rempah-rempah tanah Arab, Sehingga jiwaku mencium kehidupannya dan membangunkan Tubuh ini di bawah karpetnya yang harum. Begitulah Sang Dewi, sang perawan surgawi, Bintang yang memandu jalan fana kita, Yang menunjukkan di mana inti kehidupan sejati bersemayam, Tepung gandumnya yang halus, dan kekuatan abadinya. Dengan satu embusan napas ia menyelaraskan semesta, Dan juga hati manusiaku yang papa, Dengan satu dorongan menggerakkan tahun-tahun Berputar, dan memberi denyut nadiku pemicunya. Aku takkan ragu untuk selamanya, Takkan goyah dari iman yang teguh, Karena meski tatanan dunia dijungkirbalikkan, Tuhan tak pernah menarik kembali firman yang pernah Ia ucapkan. Aku takkan meragukan cinta tak terkatakan Yang tak bisa dibeli oleh nilai atau keinginanku, Yang merayuku saat muda, dan merayuku saat tua, Dan hingga malam ini telah membawaku. Ingatanku akan kudidik Untuk mengetahui satu-satunya kebenaran bersejarah, Mengingat hingga tanggal terakhir Satu-satunya masa muda yang sejati dan abadi. Asalkan inspirasimu sudi diberikan, Tak peduli melalui bahaya apa pun hal itu dicari, Aku akan menyelami neraka atau mendaki ke surga, Dan tetap menganggap murah apa yang telah dibeli oleh cinta. ———— Ketenaran tak dapat menggoda sang penyair Yang termasyhur di hadapan Tuhannya, Mahkota daun salam pun tak jadi hadiah Bagi ia yang telah mendapat anggukan Sang Pencipta.