(THE AURORA OF GUIDO) Dewa siang memacu keretanya menaiki lereng, Mengekang kuda-kudanya yang meringkik dengan tangan mantap; Bulan yang enggan pergi meraba-raba melewati bayangan barat, Sementara Pagi memancarkan cahayanya di atas laut dan daratan. Kastil-kastil dan kota-kota di dekat lautan yang bergema Bersenandung dengan segala kesibukan kehidupan; Nelayan membentangkan layarnya kembali; Dan prajurit yang diutus menantikan pertempuran. Angin sepoi pagi menyibak dedaunan poplar; Ombak yang menggulung memantulkan cahaya tak kasat mata; Laut yang terlelap berdesir oleh dorongan hari, Sementara di atas bukit barat, malam yang kantuk beringsut mundur. Burung-burung laut mencelupkan paruhnya ke dalam buih Samudra, Berputar jauh di atas ombak yang bergejolak,— . . . . . . (SYMPATHY) Baru-baru ini, aduhai! Aku mengenal seorang pemuda yang lembut, Yang seluruh raut wajahnya dicetak dalam cetakan Kebajikan, Bagaikan seseorang yang dirancang sebagai mainan Kecantikan, Namun setelahnya diperlengkapi sebagai benteng pertahanannya sendiri. Di setiap sisi ia seterbuka siang hari, Sehingga kau bisa melihat tak ada kekurangan kekuatan di dalamnya; Karena tembok dan pelabuhan selalu hanya berfungsi Sebagai kedok kelemahan dan dosa. Jangan katakan bahwa Caesar telah menang, Dengan kerja keras dan pertikaian yang menyerbu Rumah Ketenaran; Dalam arti lain, pemuda ini sungguh mulia, Dirinya adalah sebuah kerajaan ke mana pun ia melangkah. Tak ada kekuatan yang dikerahkan untuk meraih kemenangannya, Saat segalanya adalah hasil yang datang dengan sendirinya; Karena ke mana pun ia pergi tak ada yang lain yang perlu dilihat, Semuanya adalah bagian dari tuan mereka yang luhur. Ia menyerbu laksana kabut musim panas yang halus, Yang dengan tenang memperlihatkan lanskap segar pada mata kita, Dan melahirkan revolusi tanpa satu gumaman pun, Atau sekadar gemerisik sehelai daun di bawah langit. Demikianlah aku dibuat terbuai lengah oleh hal ini, Aku nyaris lupa untuk mengakui penghormatanku; Namun kini aku dipaksa untuk tahu, meski terasa berat, Aku mungkin akan lebih mencintainya, andai rasa cintaku tak sebesar itu. Setiap saat ketika kami saling mendekat, Rasa hormat yang kaku justru menahan kami lebih jauh lagi, Sehingga kami seolah berada di luar jangkauan satu sama lain, Dan merasa kurang saling mengenal dibandingkan saat pertama bersua. Kami berdua adalah satu selama kami bersimpati, Karenanya kami tak mampu melakukan tawar-menawar yang paling sederhana sekalipun; Dan apa gunanya, kini setelah kami menjadi bijaksana, Jika ketiadaan justru merancang jarak ini? Keabadian mungkin takkan mengulang kesempatan ini; Namun aku harus menapaki jalanku sendiri, Dalam ingatan sedih bahwa kita pernah bertemu, Dan menyadari bahwa kebahagiaan itu telah pergi tak bisa kembali. Sejak saat ini cakrawala akan menyanyikan elegiku, Karena elegi tak punya subjek lain untuk dinyanyikan; Setiap alunan musik di telingaku akan berdentang Laksana lonceng kematian akan kepergian dirinya. Bergegaslah dan rayakan tragediku; Bergemalah dengan irama yang pantas, hai hutan dan padang; Kesedihan dalam hal ini jauh lebih berharga bagiku Daripada segala keriaan yang ditawarkan di kesempatan lain. ——— Apakah sudah terlambat untuk memperbaiki kehancuran ini? Jarak, sesungguhnya, dari cengkeramanku yang lemah telah merenggut Kulit yang kosong, dan menggenggam lalang yang tak berguna, Namun di tanganku, gandum dan intisarinya tetap tertinggal. Jika aku semata mencintai kebajikan yang ada pada dirinya, Meski ia hanya tercium di udara pagi, Kita akan tetap menjadi kenalan yang paling sejati, Dan tak ada manusia fana yang akan mengetahui simpati yang lebih langka dari ini.