(FRIENDSHIP) ‘Teman, Orang Romawi, Saudara Sebangsa, dan Kekasih.’ Biarkan kebencian murni semacam itu tetap menopang Cinta kita, agar kita bisa menjadi Hati nurani bagi satu sama lain, Dan menumbuhkan simpati kita Terutama dari sana. Kita akan saling memperlakukan satu sama lain layaknya dewa, Dan segala keyakinan yang kita punya Pada kebajikan dan kebenaran, kita limpahkan Kepada masing-masing, dan menyerahkan kecurigaan Kepada para dewa di dunia bawah. Dua bintang yang menyendiri— Tata surya tak terukur yang jauh Berputar di antara kita; Namun oleh cahaya kesadaran kita, kita Ditakdirkan pada satu kutub. Apa perlunya mengacaukan cakrawala? Cinta sanggup menanti; Karena tak ada waktu yang terlalu terlambat baginya Yang menyaksikan akhir dari sebuah kewajiban, Atau memberikan permulaan bagi yang lainnya. Itu tak akan melayani kegunaan apa pun, Lebih dari sekadar rona bunga-bunga; Hanya tamu yang merdeka Yang sering mengunjungi naungannya, Yang mewarisi peninggalannya. Tak ada ucapan, meski lembut, yang dimilikinya; Namun keheningan yang lebih lembut dibagikan Kepada kawanannya; Di malam hari ia menghibur, Di siang hari ia memberi selamat. Apa yang diucapkan lidah kepada lidah? Apa yang didengar telinga dari telinga? Oleh ketetapan takdir Dari tahun ke tahun, Ia berkomunikasi. Jurang perasaan menganga tanpa jalan; Tak ada jembatan kata-kata remeh, Atau lengkungan dengan rentang paling berani, Yang dapat melompati parit yang mengelilingi Manusia yang tulus. Tak ada tontonan palang dan gembok Yang bisa menahan musuh di luar, Atau lolos dari ranjau rahasianya, Yaitu dia yang masuk dengan keraguan Yang menarik garis batas. Tak ada penjaga di gerbang Yang bisa membiarkan sahabat masuk; Namun, seperti matahari, di atas segalanya Ia akan menaklukkan kastel itu, Dan bersinar di sepanjang dindingnya. Tak ada apa pun di dunia ini yang kutahu Yang bisa luput dari cinta, Karena pada setiap kedalaman ia turun ke bawah, Dan pada setiap ketinggian di atas. Ia menunggu, sebagaimana langit menunggu Hingga awan-awan berlalu, Namun terus bersinar dengan tenangnya Bersama hari yang abadi, Sama halnya ketika mereka pergi, Maupun ketika mereka menetap. Cinta itu tak tertembus,— Musuh bisa dibeli atau ditipu Dari niat permusuhan mereka, Namun ia berlalu tanpa bisa diredakan Ia yang bertekad pada kebaikan hati. (TRUE KINDNESS) Kebaikan sejati adalah kedekatan ilahi yang murni, Tidak didasarkan pada pertalian darah manusia. Ia adalah sebuah roh, bukan hubungan darah, Yang lebih mulia dari sekadar keluarga dan kedudukan. (TO THE MAIDEN IN THE EAST) Rendah di ufuk timur Terletak matamu yang melirik; Dan meski cahayanya yang anggun Tak pernah terbit dalam pandanganku, Namun setiap bintang yang mendaki Di atas dahan-dahan bengkok Dari bukit di seberang sana, Menyampaikan kehendak lembutmu. Percayalah aku mengetahui pikiranmu, Dan bahwa angin sepoi membawa Harapan-harapan terbaikmu, Sebagaimana harapanku mereka bawa kepadamu; Bahwa suatu awan yang penuh perhatian Sempat berhenti di tengah kerumunan Di atas kepalaku, Sementara hal-hal lembut diucapkan. Percayalah burung-burung murai bernyanyi, Dan bahwa bunga-bunga lonceng berdenting, Bahwa rerumputan menghembuskan aromanya, Dan hewan-hewan tahu apa maksudnya, Pepohonan melambai menyambut, Dan danau-danau membasuh tepiannya, Ketika pikiran bebasmu Berkelok menuju tempat peristirahatanku. Saat itu malam musim panas, Udara berhembus dengan lembut Sementara awan yang menggantung rendah Masih menutupi langit timurmu; Kilauan diam kilat, Yang mengejutkan mimpiku yang kantuk, Terasa seperti kilatan Di bawah bulu matamu yang gelap. Dari sana datanglah matahari, Namun segera jalurnya usai, Terbit menuju hari yang biasa Di sepanjang jalannya yang berdebu; Namun tengah harimu menyempurnakan Hanya panas fajar yang menghangatkan, Tak pernah terbenam, Untuk menyegerakan penyesalan yang sia-sia. Arahkan matamu yang termenung Ke langit barat; Dan ketika bintang malam Berkelap-kelip dari kejauhan Pada garis pegunungan, Terimalah itu sebagai pertanda Bahwa aku ada di dekatmu, Dan memikirkanmu di sini. Aku akan menjadi Merkurius-mu, Dan engkau Cytherea (Venus) bagiku, Dikenali dari wajahmu Bumi akan mempelajari tempatku; Sedekat di bawah cahayamu Aku akan melewatkan malam, Dengan sinar yang berpadu Memimpin jalan ke arah barat. Aku akan terus berusaha menjadi Seolah engkau bersamaku; Jalan apa pun yang kutempuh, Itu semua demi dirimu, Di lereng yang landai dan luas, Seolah engkau berada di sisiku, Tanpa ada sehelai akar pun Yang dapat menyandung kaki lembutmu. Aku akan melangkah dengan irama lembut, Dan memilih tempat yang paling rata, Dan dengan hati-hati mencelupkan dayung, Serta menghindari pantai yang berkelok, Dan mengemudikan perahuku perlahan Di tempat teratai air mengapung, Dan bunga-bunga kardinal Berdiri di pelimbahan hutannya.