—Catatan penerjemah: A Modest Proposal adalah esai dark satire provokatif yang ditulis oleh Jonathan Swift pada tahun 1729 untuk menyoroti penderitaan rakyat miskin di Irlandia akibat perlakuan Kerajaan Inggris Raya dan para tuan tanah. Materi asli mengandung gaya bahasa hiperbolis dan alegori kanibalisme fiktif, sehingga materi ini ditujukan bagi pembaca dewasa dan harus dipahami dalam konteks sejarah sastra satire. Seluruh gagasan dalam tulisan ini bersifat ironi dan kritik sarkastik, serta tidak dimaksudkan untuk dibaca secara harfiah— Saya sudah menyimpang terlalu jauh dari pokok bahasan, sehingga saya akan kembali ke topik semula. Saya pikir usulan yang saya ajukan ini memiliki keuntungan yang nyata, banyak, serta sangat penting. Pertama-tama, sebagaimana telah saya perhatikan, usulan ini akan secara signifikan mengurangi jumlah kaum Papist* yang membanjiri negeri kita setiap tahunnya, yang menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan penduduk sekaligus musuh paling berbahaya bagi kita. Mereka sengaja tetap tinggal di negeri ini dengan rencana untuk menyerahkan kerajaan kepada sang Pretender**, seraya berharap dapat mengambil keuntungan dari kepergian begitu banyak kaum Protestan yang saleh —orang-orang yang memilih untuk meninggalkan tanah air mereka daripada harus tinggal dan membayar persepuluhan yang bertentangan dengan hati nurani mereka kepada seorang pendeta Episkopal. Kedua, para penyewa yang kurang mampu akan memiliki aset berharga milik mereka sendiri —aset yang menurut hukum dapat disita sebagai jaminan utang— untuk membantu membayar sewa kepada tuan tanah, mengingat tanaman dan ternak mereka telah lebih dulu disita, sementara uang adalah sesuatu yang tidak mereka miliki. Ketiga, mengingat biaya pemeliharaan 100.000 anak berusia dua tahun ke atas tidak mungkin dihitung kurang dari sepuluh shilling per anak setiap tahunnya, maka kekayaan negara akan bertambah sebesar 50.000 poundsterling per tahun, belum termasuk keuntungan dari hidangan baru untuk meja makan para kaum berada yang memiliki selera tinggi di kerajaan ini. Selain itu, uang akan berputar di kalangan kita sendiri, karena komoditas tersebut sepenuhnya merupakan hasil budidaya dan produksi kita sendiri. Keempat, mereka yang terus-menerus melahirkan anak, selain memperoleh keuntungan delapan shilling sterling per tahun dari penjualan anak-anak mereka, juga akan terbebas dari beban biaya penghidupan anak-anak tersebut setelah tahun pertama. Kelima, hidangan ini juga akan mendatangkan banyak pelanggan ke kedai-kedai di mana para pemiliknya tentu akan cukup bijak untuk mencari resep terbaik guna mengolahnya hingga sempurna; dan dengan demikian, tempat usaha mereka akan ramai dikunjungi oleh para pria terpandang yang menghargai selera kuliner yang tinggi; dan seorang juru masak yang cakap, yang paham cara memuaskan para tamunya, akan meracik hidangan tersebut agar harganya menjadi semahal yang mereka inginkan. Keenam, hal ini akan menjadi motivasi bagus untuk menikah, suatu hal yang biasanya didukung oleh bangsa-bangsa bijak melalui pemberian imbalan, atau diwajibkan melalui hukum dan sanksi. Langkah ini akan meningkatkan perhatian dan kasih sayang para ibu terhadap anak-anak mereka, karena mereka yakin akan adanya jaminan hidup bagi bayi-bayi malang tersebut —yang disediakan oleh publik— sehingga kehadiran anak justru mendatangkan keuntungan tahunan alih-alih menjadi beban biaya. Kita akan segera menyaksikan persaingan sehat di antara para wanita yang telah menikah untuk melihat siapa yang mampu membawa anak paling gemuk ke pasar. Para suami akan menjadi sangat menyayangi istri-istri mereka yang sedang hamil, sama seperti perhatian mereka saat ini terhadap kuda betina yang sedang bunting, sapi yang sedang mengandung, atau induk babi yang siap melahirkan; mereka tidak akan lagi memukul atau menendang istri mereka (seperti yang saat ini sering terjadi) karena takut menyebabkan keguguran. Masih banyak keuntungan lain yang bisa disebutkan. Misalnya, penambahan ribuan karkas dalam ekspor daging sapi kemasan tong kita; pengembangan peternakan babi serta peningkatan keahlian dalam mengolah bakon berkualitas—sesuatu yang sangat kita butuhkan mengingat banyaknya babi yang dimusnahkan dan sering tersaji di meja makan kita. Padahal, daging babi itu sama sekali tidak bisa menandingi cita rasa maupun kemewahan daging anak manusia berusia satu tahun yang gemuk dan tumbuh sehat; yang jika dipanggang utuh, akan menjadi hidangan istimewa nan megah dalam jamuan Wali Kota ataupun acara hiburan publik lainnya. Namun, hal ini dan berbagai poin lainnya tidak akan saya jabarkan lebih lanjut demi menjaga keringkasan tulisan. Umpama seribu keluarga di kota ini akan menjadi pelanggan tetap daging bayi —di samping mereka yang mungkin menikmatinya dalam acara-acara perayaan, khususnya pesta pernikahan dan pembaptisan— saya memperkirakan Dublin akan menyerap sekitar 20.000 jenazah bayi setiap tahunnya; sementara wilayah kerajaan lainnya (di mana harganya mungkin sedikit lebih murah) akan menyerap 80.000 sisanya. Saya tidak melihat adanya keberatan yang mungkin diajukan terhadap usulan ini, kecuali jika ada yang memaksakan argumen bahwa jumlah penduduk kerajaan ini akan berkurang drastis karenanya. Hal ini saya akui sepenuhnya, dan memang merupakan salah satu tujuan utama saya dalam mengajukan usulan ini kepada dunia. Saya berharap pembaca memerhatikan bahwa saya merancang solusi ini khusus untuk Kerajaan Irlandia saja, dan bukan untuk kerajaan lain mana pun yang pernah ada, sedang ada, atau, menurut hemat saya, mungkin akan ada di muka bumi ini. Oleh karena itu, jangan ada yang berbicara kepada saya tentang cara-cara alternatif lain: seperti mengenakan pajak lima shilling per pound kepada mereka yang tinggal di luar negeri; melarang penggunaan pakaian atau perabotan rumah tangga selain yang merupakan hasil bumi dan buatan kita sendiri; menolak bahan dan peralatan yang mendorong gaya hidup mewah ala asing; mengatasi pemborosan akibat kesombongan, kesia-siaan, kemalasan, dan kegemaran berjudi di kalangan perempuan kita; menanamkan sikap hemat, bijaksana, dan bersahaja; belajar mencintai tanah air —suatu hal yang membedakan kita dari warga Lapland maupun penduduk Topinamboo; mengakhiri permusuhan dan perpecahan antarkelompok, serta berhenti bertindak seperti orang Yahudi yang saling membunuh justru saat kota mereka sedang ditaklukkan; bersikap sedikit lebih hati-hati agar tidak menjual tanah air dan hati nurani kita dengan harga murah; atau mengimbau para pemilik tanah agar memiliki sedikit belas kasihan terhadap penyewa mereka. Terakhir, menanamkan semangat kejujuran, kerajinan, dan kecakapan pada para pedagang kita yang seandainya diperintahkan untuk hanya membeli produk dalam negeri, mereka justru akan segera bersekongkol untuk mencurangi dan memeras kita dalam hal harga, takaran, maupun kualitas barang, serta tidak pernah mau mengajukan satu pun tawaran yang adil dan jujur, meskipun sering dan sungguh-sungguh diajak untuk melakukannya. Oleh karena itu, saya tegaskan kembali: jangan ada seorang pun yang berbicara kepada saya mengenai cara-cara semacam itu, kecuali jika ia memiliki setidaknya secercah harapan bahwa akan ada upaya yang sungguh-sungguh dan tulus untuk mewujudkannya. Namun, bagi diri saya sendiri, setelah bertahun-tahun lelah melontarkan gagasan-gagasan yang sia-sia, kosong, dan sekadar angan-angan hingga akhirnya benar-benar kehilangan harapan, saya beruntung menemukan usulan ini. Usulan ini bukan hanya benar-benar baru, melainkan juga memiliki dasar yang kuat dan nyata. Pelaksanaannya tidak memakan biaya dan hanya sedikit merepotkan, sepenuhnya berada dalam kendali kita, serta tidak menimbulkan risiko menyinggung Inggris. Sebab, komoditas semacam ini tidak cocok untuk diekspor —mengingat tekstur dagingnya yang terlalu lunak untuk diawetkan dalam garam dalam waktu lama— meskipun mungkin saya bisa menyebutkan satu negara yang justru akan dengan senang hati melahap seluruh bangsa kita tanpa perlu proses pengawetan semacam itu. Lagipula, saya tidaklah begitu keras mempertahankan pendapat sendiri hingga menolak semua tawaran dari orang-orang bijak, asalkan tawaran itu terbukti sama-sama tidak berbahaya, murah, mudah, dan efektif. Namun, sebelum ada gagasan semacam itu yang diajukan untuk menentang rencana saya —atau menawarkan alternatif yang lebih baik— saya berharap sang penggagas bersedia mempertimbangkan dua hal secara matang. Pertama, dalam situasi saat ini, bagaimana mereka akan mampu menyediakan pangan dan sandang bagi 100.000 orang yang tidak berguna. Kedua, mengingat ada satu juta jiwa berwujud manusia di kerajaan ini yang jika seluruh sumber penghidupan mereka digabungkan justru akan menyisakan utang sebesar dua juta poundsterling —setelah memperhitungkan para pengemis serta golongan petani, penghuni gubuk, dan buruh beserta istri dan anak-anak mereka yang pada kenyataannya hidup layaknya pengemis— saya meminta para politisi yang tidak menyukai usulan saya (dan mungkin cukup berani untuk mencoba memberikan tanggapan) agar terlebih dahulu bertanya kepada orang tua dari orang-orang ini: apakah saat ini mereka tidak akan bahagia jika mereka telah dijual sebagai bahan pangan pada usia satu tahun —sesuai cara yang saya usulkan— sehingga terhindar dari rentetan kemalangan tiada akhir yang mereka alami selama ini? Kemalangan itu meliputi penindasan oleh tuan tanah, ketidakmungkinan membayar sewa tanpa uang atau pekerjaan, kekurangan kebutuhan pokok, serta tidak adanya rumah maupun pakaian untuk melindungi diri dari cuaca buruk, ditambah lagi dengan prospek tak terelakkan untuk mewariskan penderitaan serupa atau bahkan lebih parah kepada keturunan mereka selamanya. Saya menyatakan dengan tulus bahwa saya sama sekali tidak memiliki kepentingan pribadi dalam upaya memajukan usul yang penting ini. Satu-satunya motif saya adalah demi kesejahteraan publik di negara kita, yakni dengan meningkatkan perdagangan, menyejahterakan anak-anak, meringankan beban kaum miskin, serta memberikan kepuasan bagi kaum kaya. Saya tidak memiliki anak yang dapat diharapkan mendatangkan keuntungan sedikit pun bagi saya; anak bungsu saya sudah berusia sembilan tahun, dan istri saya sudah melewati masa suburnya. ----------------------- *Istilah "Papist" merujuk pada kaum Katolik yang mendukung Paus dari Gereja Katolik Roma. Mayoritas penduduk asli Irlandia menganut Katolik, sedangkan penjajah Inggris menganut Kristen Protestan di bawah Gereja Inggris. **Sang "Pretender" dalam esai ini merujuk pada James Francis Edward Stuart, putra Raja James II yang mengklaim berhak atas takhta Britania. Ia menganut agama Katolik Roma.