JAKARTA - Aku tidak pernah menyangka akan kehadiranmu kala itu. Aku hanya membuka pintu, lalu membiarkanmu masuk dengan caramu sendiri. Aku tidak menarik lenganmu, tidak memaksamu tinggal, bahkan tidak pernah meminta hal yang lebih yang belum sanggup kamu beri. Tapi entah mengapa, pada akhirnya kamulah yang keluar sebagai pemenang sementara aku sibuk memunguti serpihan diriku sendiri. Aku percaya, dan itu kesalahanku yang paling mahal. Aku percaya pada kata-kata yang tidak pernah benar-benar ingin ditepati, pada sikap hangat yang ternyata hanya persinggahan, dan pada kehadiranmu yang rupanya tidak pernah berniat menetap. Kamu datang dengan nyaman, tinggal tanpa beban, lalu pergi tanpa perlu menjelaskan apa pun. Seolah-olah kehadiranku hanyalah jeda, bukan bagian dari perjalananmu. Dan menunggu dalam diam sering kali lebih melelahkan daripada ditolak secara terang-terangan. Aku belajar menenangkan diri dari kebingungan yang kamu tinggalkan, belajar memahami sikapmu tanpa penjelasan, dan belajar berdamai dengan kalimat-kalimat yang tak pernah selesai kita bicarakan. Kamu tidak pernah benar-benar salah di ceritamu sendiri. Karena kamu tidak pernah menganggap apa yang kita jalani sebagai sesuatu yang perlu dipertanggungjawabkan. Di kepalamu, mungkin aku hanya singgah. Tapi di hidupku, kamu sempat menjadi rumah meski hanya sebentar, meski tanpa janji, meski tanpa status yang jelas. Dan di situlah letak ketimpangannya. Aku hadir dengan hati, kamu hadir dengan kemungkinan. Aku berbagi ruang terdalam, kamu hanya berbagi waktu luang. Saat aku jatuh, kamu sudah lebih dulu berjalan pergi—ringan, tanpa menoleh, tanpa merasa perlu memastikan aku baik-baik saja. Aku tidak membencimu... Aku hanya lelah memaafkan sesuatu yang tidak pernah kamu akui sebagai kesalahan. Aku lelah menjadi orang yang selalu mengerti, sementara perasaanku sendiri dibiarkan tanpa perlindungan. Kamu mungkin tidak bermaksud melukai, tapi ketidaksengajaan yang berulang tetap saja bernama luka. Tidak semua yang datang dengan tenang berniat tinggal. Tidak semua yang terlihat tulus siap bertanggung jawab. Dan tidak semua kehilangan layak diperjuangkan untuk kembali. Aku tidak mengejarmu—tapi kamu tetap pemenangnya. Karena kamu pergi tanpa kehilangan apa pun, sementara aku harus membangun ulang diriku dari reruntuhan yang kamu tinggalkan. Namun dengarkan ini baik-baik, Jika suatu hari kamu membaca kisah ini dan merasa tersentuh, jangan buru-buru menyangkal. Ini bukan serangan. Ini hanya cermin. Cermin untuk seseorang yang ingin dikenang sebagai “yang berarti”, tapi menolak bertanggung jawab saat keberadaannya benar-benar berarti bagi orang lain. Kamu mungkin lolos dari percakapan yang sulit, dari klarifikasi yang seharusnya, dari permintaan maaf yang layak. Tapi kamu tidak akan pernah lolos dari satu fakta: kamu pernah dipilih dengan tulus, lalu memilih pergi tanpa adab. Aku tidak menunggumu menyadari kehilanganku. Aku hanya berharap, pada orang berikutnya, kamu tidak lagi membangun hubungan yang tidak sanggup kamu jaga. Karena luka yang kamu anggap sepele, pernah menjadi titik hancur seseorang yang mencintaimu tanpa cadangan. Dan jika kamu masih menganggap dirimu pemenang—menanglah sendirian.Aku sudah selesai menjadi bagian dari permainanmu