JAKARTA, NETRALNEWS – Profesi License Officer (LO) masih sering dianggap sebatas penerjemah bagi artis mancanegara. Padahal, tanggung jawab seorang LO jauh lebih luas dan kompleks dibandingkan sekadar membantu komunikasi bahasa. Hal tersebut disampaikan Bang Ken saat menjadi bintang tamu dalam podcast Wibu TV. Pria yang telah lama berkecimpung sebagai LO berbagai musisi internasional itu mengungkapkan bahwa dirinya kerap menangani kedatangan artis Jepang ke Indonesia. "Paling gampang kalau lo sering denger band-band Jepang, rata-rata LO-nya gue," ujar Bang Ken. Sepanjang kariernya, ia pernah mendampingi sejumlah nama besar dari Jepang, seperti L'Arc~en~Ciel, Da Pump, Gackt, Spyair, Ado, LiSA, hingga Hatsune Miku. Selain itu, ia juga terlibat dalam penanganan artis internasional lain, termasuk Coldplay, Bruno Mars, dan Maroon 5. Perbedaan Penanganan Artis Jepang dan Barat Menurut Bang Ken, terdapat perbedaan mencolok antara kebutuhan artis Jepang dan artis Barat saat berkunjung ke Indonesia. Ia menjelaskan bahwa artis Jepang biasanya sangat detail dalam menyampaikan kebutuhan mereka sejak awal proses persiapan. "Dia nanya sedetail mungkin sampai ada yang nanya jenis kasurnya apa. Spring bed apa enggak. Makannya apa, alerginya apa," jelasnya. Sebaliknya, artis Barat umumnya telah memberikan daftar kebutuhan maupun larangan secara jelas sejak awal, misalnya tidak mengonsumsi kacang (no peanuts) atau makanan laut (no seafood). LO Bertugas Menjaga Kenyamanan Artis Bang Ken menekankan bahwa tugas LO bukan hanya menerjemahkan bahasa. Seorang LO merupakan bagian dari tim hospitality yang bertanggung jawab mengatur berbagai kebutuhan artis, mulai dari urusan hotel, transportasi, bandara, visa, hingga konsumsi. Menurutnya, salah satu tugas terpenting seorang LO adalah memastikan suasana hati atau mood artis tetap terjaga selama berada di Indonesia. Ia juga mengungkapkan adanya etika kerja yang mengharuskan LO lebih banyak berkomunikasi dengan manajer artis dibandingkan langsung dengan sang artis. "Kita LO itu nggak ngobrol ke artisnya. Kita ngobrolnya tuh ke manajer. Kita ngobrol ke artis saat artis ngobrol ke kita," ungkapnya. Tekanan terbesar biasanya muncul ketika pihak manajemen artis tiba-tiba meminta perubahan rencana setelah tiba di lokasi, misalnya ingin pindah hotel. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan negosiasi dan pengambilan keputusan menjadi sangat penting. Bang Ken mengatakan seorang LO harus mampu mempertimbangkan berbagai aspek, seperti jarak hotel ke lokasi acara, kondisi lalu lintas, hingga dampaknya terhadap jadwal penampilan artis. Pengalaman Bersama L'Arc~en~Ciel dan ONE OK ROCK Salah satu pengalaman yang paling menantang baginya adalah saat menangani L'Arc~en~Ciel. Setiap personel band tersebut memiliki manajer dan LO masing-masing, ditambah seorang manajer khusus untuk grup. "Saking strict-nya, salah satu LO-nya Hyde hari pertama ga selesai langsung dipecat," ujar Bang Ken yang saat itu bertugas sebagai LO untuk gitaris Ken. Meski merupakan penggemar berat L'Arc~en~Ciel, ia mengaku harus menjaga sikap profesional selama menjalankan tugas. "Gue main gitar, dia juga main gitar. Gue bener bener ngejaga banget nggak boleh ngomong kalau gue tuh fans. Dan itu susah sekali," ujarnya. Di sisi lain, pengalaman paling berkesan menurutnya terjadi ketika mendampingi ONE OK ROCK. Ia mengaku memiliki interaksi yang sangat nyaman dengan sang vokalis, Taka, hingga suasana kerja terasa jauh lebih santai. "Itu satu-satunya dalam sejarah gue kerja, gue minta foto bareng sama Taka. Ngobrolnya udah kayak kedatangan tamu dari Jepang, pressure-nya nggak ada. The whole member very very nice guy," tutupnya. LO Membutuhkan Lebih dari Sekadar Kemampuan Bahasa Di akhir perbincangan, Bang Ken mengingatkan para promotor agar tidak menyamakan profesi LO dengan penerjemah biasa. Menurutnya, kemampuan bahasa memang diperlukan, tetapi seorang LO juga harus memiliki keterampilan mengelola waktu, memahami detail operasional, mengatur data, serta menjaga kenyamanan dan suasana hati artis selama menjalani rangkaian kegiatan. Karena itu, profesi LO menuntut kombinasi kemampuan komunikasi, koordinasi, dan manajemen yang tidak selalu dimiliki oleh seorang penerjemah.