JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang pemuda bernama Kiki Putra atau juga dikenal dengan Kiki Kong ungkap, ada "lingkaran setan" yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Siapakah dia? Kiki mengaku saat SMP pernah dihina dan dianggap sebagai pahlawan kesiangan karena membongkar praktik kecurangan Ujian Nasional (UN). Singkat cerita, Kiki memutuskan untuk putus sekolah karena merasa muak daj marah dengan sistem pendidikan di Indonesia yang terjadi tindak korupsi. Kiki kemudian mengambil Paket C, kerja keras, belajar otodidak dan membuktikan bahwa dirinya bisa mendapatkan pendidikan meski tidak sekolah. Alhasil, Kiki lulus SMA hanya satu tahun, tembus Universitas Indonesia (UI) hanya tiga tahun dan cum laude serta jadi mahasiswa berprestasi. Kiki bekerja di usia 19 tahun, independen finansial di usia 20 tahun dan mendirikan sekolah gratis di usia 21 tahun untuk mereka yang putus sekolah. Meski demikian Kiki tidak berhenti belajar, Kiki melanjutkan S2 pertama di Boston University dengan IPK 3,86 dari skala IPK 4. Kiki kembali bil S2, diterima di perguruan tinggi ternama seperti Columbia University, Cornell University dan Standford University. Dia dapat beasiswa di Stanford Business School dan lulus dan semua proses pendidikan itu sedari kecil hingga kuliah, ditempuh secara gratis alias dapat beasiswa serta uang pribadi. "Kebayang nggak sih, paket C bisa tembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Artinya apa? Stanford tidak melihat hasil ujian saja dan tidak peduli dengan cerita saya di masa lalu," kata Kiki di podcast Novel Baswedan, dikutip pada Jumat (26/1/1024). Kini Kiki bisa keliling dunia, ketemu peraih nobel dan ajak sang ibu keliling Amerika. Maka dari itu dia memberikan semangat kepada anak Indonesia agar tidak menyerah dan mendengarkan isi hati. "Buat lu semua yang patah hati dengan sistem pendidikan kita, jangan nyerah dengerin kata hati lu, karena lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan," katanya. Lingkaran Setan Pendidikan Indonesia Kiki jelaskan, di masa SMP dirinya pernah berkelahi dengan kepala sekolah dan guru. Padahal saat sekolah, dia dikenal sebagai anak berprestasi, dapat beasiswa, selalu masuk tiga besar dan selalu mewakili sekolah di setiap ajang kompetisi pendidikan. Ketika mau lulus SMP, dirinya akan melewati masa Ujian Nasional (UN) dirinya baru melihat ada fenomena guru-guru memberikan kunci jawaban kepada seluruh murid. Bahkan biasanya murid 10 besar, saat H-5 sebelum UN dikumpulkan untuk kerjasama memberikan kunci jawaban kepada murid-murid yang gagal di try out. "Saya kan kaget luar biasa, itu buruk sekali dan saya kaget dan ini apakah pengawas saya nggak becus membiarkan ada contekan, bahkan ada yang menaruh contekan di papan tulis kunci jawabannya, ada yang buka handphone dan sebagainya," kenang dia. Kiki terkejut, mengapa sistem pendidikan Indonesia seperti ini dan di sekolah ada tindakan demikian. Kiki marah, ke ruang kepala sekolah, tadinya mau ajak teman-teman "yang pintar" lainnya tapi mereka tidak berani. Ketika Kiki ketemu kepala sekolah sendiri, dikira kepala sekolah tidak mengetahuinya. Ternyata responnya mengimbau Kiki untuk jaga nama baik sekolah dan ternyata tindakan demikian terjadi di sekolah negeri lain, berdasarkan kesaksian teman-temannya. Alasannya bila kunci jawaban tidak dibocorkan, takut tidak ada yang lulus dan reputasi sekolah tercoreng. Belum lagi predikat sekolah unggulan, sekolah favorit, persyaratannya adalah nilai hasil UN rata-rata harus tinggi. Kalau ada murid tidak lulus, image sekolah jatuh dan jeblok tidak jadi sekolah unggul, tidak dapat bantuan pemerintah sehingga banyak mafia di sistem UN.