SEMARANG, NETRALNEWS.COM — Apa yang membuat nasi goreng babat begitu diburu saat malam hari di Semarang? Bukan hanya porsinya yang melimpah, tetapi juga perpaduan bumbu, tekstur jeroan, dan aroma khas dari proses memasaknya. Nasi goreng babat gongso berporsi melimpah masih menjadi salah satu kuliner yang menarik perhatian warga lokal maupun wisatawan. Bumbu rempah yang pekat berpadu dengan rasa legit gula jawa dan potongan babat yang diolah hingga empuk. Proses memasak menggunakan anglo atau kompor bertekanan tinggi serta wajan besi tebal menghasilkan aroma smoky atau sangit yang menjadi salah satu karakter hidangan. “Sensasi gurih, manis, dan pedasnya langsung meledak di mulut. Potongan babatnya sangat empuk, dan aroma sangit dari wajan besi itulah yang membuat nasi goreng babat Semarang tidak ada duanya,” ujar salah seorang pecinta kuliner malam. Bagi yang ingin berburu nasi goreng babat dengan porsi melimpah, terdapat sejumlah warung yang dikenal dengan karakter sajian masing-masing. Nasi Goreng Babat Pak Karmin Mberok berada di dekat Jembatan Mberok, kawasan Kota Lama. Warung yang telah berdiri selama puluhan tahun ini menyajikan potongan babat tebal dengan bumbu gongso merah kecokelatan. Nasi Goreng Babat Hengky di kawasan Puri Anjasmoro mempertahankan penggunaan anglo dan kayu bakar. Potongan babat berukuran besar berpadu dengan rasa gurih, manis, dan aroma smoky. Sementara Nasi Goreng Babat Pak Sumarman di Jalan Veteran memiliki warna nasi yang lebih gelap karena penggunaan kecap dan proses karamelisasi bumbu. Jeroannya diolah hingga bumbu meresap dan teksturnya lembut. Di sekitar Stadion Citarum, Nasi Goreng Babat Pak Taman menawarkan racikan gongso yang berani pedas. Pilihan porsi komplet dapat berisi babat, usus, paru, serta telur bebek dadar. Adapun Nasi Goreng Babat Akbar menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa dan anak muda. Sajian dengan porsi melimpah tersebut memiliki nasi bertekstur kering namun tetap berpadu dengan bumbu, serta potongan jeroan yang disajikan secara royal. Ragam warung tersebut memperlihatkan bagaimana nasi goreng babat telah menjadi bagian dari pengalaman kuliner malam di Kota Semarang. Perpaduan bumbu, jeroan, nasi, serta aroma dari proses memasak menggunakan panas tinggi menjadi karakter yang melekat pada hidangan tersebut.