JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dokter Umum dan Edukator Kesehatan dr Adam Prabata ungkap sebuah kasus dan studi baru. Ada kasus Covid-19 yang sebabkan komplikasi bekuan darah pada pembuluh darah Mr P, alias kemaluan pria. Kata dr Adam, ada kasus seorang pria yang mengalami nyeri pada kemaluannya akibat terkena Covid-19 ringan, tiga minggu sebelumnya. "Covid-19 menyebabkan komplikasi bekuan darah pada pembuluh darah di kemaluan pria tersebut, sehingga menyebabkan nyeri," ujar dr Adam, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis (20/1/2022). Dokter Adam akui, ini merupakan laporan kasus pertama adanya komplikasi pembekuan darah pada pembuluh darah di kemaluan pria akibat Covid-19. Dijelaskan dr Adam, keluhan nyeri pada kemaluan dan gangguan saat berhubungan baru benar-benar selesai setelah menjalani pengobatan selama dua bulan. "Jadi Covid-19 ringan pun berpotensi menyebabkan keluhan seperti ini dan kita tidak pernah tahu apakah masalah ini akan terjadi pada kita," ujar dr Adam. Kasus Komplikasi Bekuan Darah pada Pembuluh Darah Mr P Kasus komplikasi bekuan darah pada pembuluh darah Mr P yang disampaikan dr Adam bersumber dari Wiley Online Library. Studi kasus dikhususkan untuk menyelidiki nyeri Mr P pada pria menikah berusia 41 tahun. Menurut evaluasi medis, rasa sakit meluas ke daerah perineum dan inguinal dan dilaporkan lebih akut saat ereksi. Pasien dirujuk oleh ahli urologi untuk evaluasi sonografi penis dan testis. Nyeri dirasakan 3 hari sebelum pemeriksaan urologi, setelah ereksi penuh pertama kali untuk hubungan seksual, setelah tes polymerase chain reaction (PCR) positif Covid-19. Pasien tidak memiliki gejala urologi lain. Dia menyangkal adanya trauma pada penis, tumor panggul sebelumnya, operasi panggul dan riwayat imobilisasi baru-baru ini. Dia juga tidak menggunakan obat vasokonstriksi. Pasien melaporkan tes usap nosofaring positif untuk Covid-19 tiga minggu sebelumnya. Dia memiliki gejala ringan infeksi Covid-19 termasuk nyeri otot, demam, batuk, dan kelelahan. Dia telah menerima pengobatan konservatif dan tidak menggunakan antikoagulan, antivirus, dan kortikosteroid. Riwayat medisnya tidak menunjukkan penyakit mendasar yang signifikan dan faktor risiko apa pun untuk penyakit kardiovaskular. Dia juga tidak memiliki riwayat trombosis vena (bekuan darah) sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik penis dan testis, tidak ditemukan temuan patologis seperti perubahan jaringan kulit, perubahan warna, edema dan nyeri. Disimpulkan, infeksi Covid-19 dapat menyebabkan koagulopati (gangguan pendarahan) karena pelepasan sitokin dan reaksi imunopatologis. Pada beberapa pasien rawat inap dapat menyebabkan emboli paru atau deep vein thrombosis, tetapi pada pasien non rawat inap dapat menyebabkan small deep vein thrombosis. Penting bagi klinisi untuk menyelidiki risiko trombosis pada pasien Covid-19 terutama yang memiliki faktor risiko atau trombosis vena dalam sebelumnya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dan menyadari perlunya penambahan antikoagulan profilaksis pada regimen pengobatan pasien Covid-19 yang tidak dirawat inap atau tidak.