JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pernahkah Anda makan siang di depan laptop atau sambil scrolling media sosial di ponsel, lalu tiba-tiba piring sudah bersih tanpa sempat benar-benar menikmati rasanya? Di tengah ritme hidup yang serba cepat, makan sering kali hanya dianggap sebagai kegiatan untuk “mengisi bahan bakar” tubuh sesegera mungkin. Kita mengunyah seadanya, menelan terburu-buru, lalu kembali sibuk dengan pekerjaan. Padahal, kebiasaan makan tergesa-gesa dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan. Sejumlah ahli di bidang gastroenterologi menjelaskan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk mengenali rasa kenyang. Jika seseorang makan terlalu cepat, ia berisiko mengonsumsi makanan lebih banyak sebelum sinyal kenyang dirasakan secara optimal. Kebiasaan makan berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan gangguan pencernaan. Dunia psikologi dan kesehatan modern kemudian mempopulerkan konsep yang dikenal sebagai mindful eating, yaitu kebiasaan makan secara sadar dengan memberikan perhatian penuh pada setiap suapan serta menikmati aroma, tekstur, dan rasa makanan tanpa terdistraksi oleh layar ponsel. Uniknya, jauh sebelum istilah mindful eating dikenal luas oleh praktisi kesehatan, Islam telah mengajarkan pola makan yang tidak berlebihan melalui Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Sains Modern Mengaminkan Petunjuk Nabi Al-Qur’an telah memberikan prinsip dasar mengenai konsumsi makanan: “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31) Ayat tersebut mengajarkan pentingnya tidak berlebihan dalam makan dan minum. Untuk menerapkan prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari, Nabi Muhammad ﷺ juga mengajarkan pentingnya mengatur porsi makan. “Tidak ada wadah yang dipenuhi manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tubuhnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. Tirmidzi) Prinsip sepertiga tersebut mengajarkan seseorang untuk tidak memenuhi perut secara berlebihan. Ketika makan dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, seseorang juga dapat lebih mudah mengenali rasa kenyang. Selain itu, terdapat sejumlah adab makan dalam sunah yang dapat membantu seseorang lebih sadar ketika menyantap makanan. Mengunyah dengan Tenang Mengunyah makanan dengan baik sebelum menelannya membantu proses pencernaan dan membuat seseorang memiliki waktu untuk menikmati makanan dengan lebih sadar. Tidak Meniup Makanan Panas Dalam ajaran Islam terdapat adab untuk tidak meniup makanan atau minuman yang masih panas. Secara praktis, hal tersebut dapat mengajarkan seseorang untuk lebih sabar menunggu makanan berada pada suhu yang nyaman untuk disantap. Duduk Saat Makan dan Minum Makan dan minum sambil duduk merupakan salah satu adab yang dikenal dalam sunah. Kebiasaan tersebut juga dapat membantu seseorang makan dengan lebih tenang dan tidak terburu-buru. Cara Sederhana Memulai Mindful Eating Hari Ini Mengubah kebiasaan makan yang tergesa-gesa memang membutuhkan latihan. Anda bisa mulai menerapkan beberapa langkah sederhana berikut di sela-sela kesibukan. Jauhkan Layar Ponsel dan Laptop Saat waktu makan tiba, sisihkan gawai selama 15–20 menit. Fokuskan perhatian pada makanan yang ada di hadapan Anda. Nikmati Setiap Suapan Rasakan tekstur, aroma, dan cita rasa makanan. Kunyah secara perlahan sebelum melanjutkan ke suapan berikutnya. Awali dengan Bismillah dan Doa Membaca Bismillah dan doa sebelum makan bukan hanya bagian dari ibadah, tetapi juga dapat menjadi pengingat untuk bersyukur atas makanan yang tersedia. Berhenti Sebelum Terlalu Kenyang Ingat prinsip untuk tidak berlebihan. Berhentilah ketika tubuh sudah merasa cukup, bukan ketika perut terasa sangat penuh. Makan bukan sekadar aktivitas biologis untuk menghilangkan rasa lapar. Makan juga dapat menjadi momen untuk beristirahat, bersyukur, dan merawat tubuh yang telah dianugerahkan kepada kita. Mulai hari ini, cobalah memperlambat cara mengunyah, meletakkan ponsel, dan menikmati makanan dengan penuh kesadaran. Dengan makan secara lebih tenang dan tidak berlebihan, kita dapat membangun kebiasaan yang lebih baik sekaligus mengamalkan adab makan yang diajarkan dalam Islam.