YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kajian ilmiah terbaru dari mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Gizi dan Dietetika Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta menyoroti potensi pangan fungsional dalam pencegahan gangguan pembekuan darah, khususnya hiperkoagulasi primer. Dalam tugas akademiknya, Jihan Rahmalia Sanputri mengulas sebuah penelitian uji klinis yang membandingkan efektivitas ekstrak tomat larut air, Fruitflow, dengan aspirin dosis rendah pada individu sehat. Penelitian yang menjadi objek kajian berjudul “A Randomised Controlled Trial Comparing a Dietary Antiplatelet, the Water-Soluble Tomato Extract Fruitflow, with 75 mg Aspirin in Healthy Subjects” yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition tahun 2017. Studi ini dilakukan oleh N. O’Kennedy dan tim, serta telah terindeks Scopus dengan kategori Q1, menandakan kualitas ilmiah yang tinggi. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kebutuhan akan alternatif antiplatelet yang lebih aman dibandingkan aspirin. Meski aspirin dosis rendah (75 mg per hari) efektif dalam mencegah penyakit kardiovaskular, penggunaannya dalam jangka panjang diketahui berisiko menyebabkan perdarahan gastrointestinal. Dalam konteks ini, Fruitflow muncul sebagai kandidat pangan fungsional yang telah mendapatkan persetujuan klaim kesehatan dari European Food Safety Authority (EFSA), namun masih memerlukan pembuktian klinis langsung. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas Fruitflow dosis tunggal 3 gram dengan aspirin 75 mg, baik dalam penggunaan akut maupun selama tujuh hari. Parameter yang diukur meliputi aktivitas agregasi platelet, produksi tromboksan A2 (TXA2), serta waktu hemostasis primer menggunakan alat standar medis seperti PFA-100, lumi-aggregometry, dan ELISA TXB2. Metode yang digunakan adalah uji klinis acak crossover double-blind dengan tiga periode intervensi dan masa wash-out selama 14 hari. Sebanyak 47 responden sehat berusia 45–75 tahun dilibatkan, terdiri dari 20 pria dan 27 wanita, dengan indeks massa tubuh rata-rata 26,6 kg/m². Seluruh peserta tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular dan tidak merokok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fruitflow dosis tunggal mampu menurunkan agregasi platelet secara signifikan, yakni 26 persen pada uji ADP, 10 persen pada kolagen, dan 16 persen pada asam arakhidonat. Selain itu, terjadi penurunan produksi TXA2 sebesar 19,6 persen serta perlambatan pembentukan gumpalan darah hingga 48 persen. Efek ini dinilai setara dengan aspirin dosis tunggal, meskipun aspirin yang dikonsumsi selama tujuh hari menunjukkan efek tiga kali lebih kuat. Yang menjadi keunggulan utama Fruitflow adalah sifatnya yang reversible atau sementara. Efeknya hilang dalam waktu sekitar 18 jam dan tidak menumpuk di dalam tubuh. Hal ini berbeda dengan aspirin yang memberikan efek permanen pada platelet. Dengan karakteristik tersebut, Fruitflow dinilai lebih aman karena tidak meningkatkan risiko perdarahan, khususnya pada saluran pencernaan. Secara komposisi, Fruitflow mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti nukleotida, fenol sederhana (asam klorogenat dan asam kafeat), serta flavonoid seperti naringenin. Senyawa ini bekerja secara sinergis dalam menghambat aktivasi platelet melalui beberapa tahapan, mulai dari pengurangan sinyal awal, penurunan produksi TXA2, hingga menghambat proses adhesi antar platelet. Dalam mekanisme kerjanya, Fruitflow menargetkan kondisi hiperkoagulasi primer, yaitu keadaan ketika platelet terlalu aktif dan mudah membentuk gumpalan darah. Senyawa aktif dalam Fruitflow mampu menekan respons platelet terhadap kerusakan ringan pembuluh darah, mengurangi sinyal penggumpalan, serta menghambat protein perekat yang diperlukan untuk pembentukan trombus. Temuan ini diperkuat oleh berbagai studi pendukung. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa Fruitflow mampu menghambat jalur sinyal penting dalam aktivasi platelet. Studi pada hewan membuktikan adanya penurunan pembentukan plak dan risiko penyumbatan pembuluh darah. Sementara itu, studi pada manusia menunjukkan bahwa konsumsi rutin Fruitflow dapat menurunkan aktivitas platelet tanpa mengganggu proses pembekuan darah normal. Dalam analisis kritisnya, Jihan menilai bahwa penelitian ini memiliki keunggulan dari sisi desain yang menggunakan metode emas uji klinis, serta penggunaan alat ukur yang akurat dan relevan secara klinis. Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan, seperti penggunaan subjek sehat yang belum merepresentasikan populasi berisiko tinggi, serta belum adanya data jangka panjang. Selain itu, penelitian ini dilakukan pada populasi Kaukasia di Inggris, sehingga diperlukan studi lanjutan pada populasi Asia, termasuk Indonesia, untuk memastikan kesesuaian hasil dengan kondisi genetik dan pola makan yang berbeda. Secara keseluruhan, kajian ini menyimpulkan bahwa Fruitflow memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional dalam pencegahan pembekuan darah, khususnya pada tahap awal. Dengan efektivitas mencapai sepertiga aspirin harian namun dengan risiko yang jauh lebih rendah, Fruitflow dapat menjadi alternatif alami yang aman. Temuan ini juga membuka peluang pengembangan produk berbasis tomat di Indonesia, seperti jus fungsional yang difortifikasi, seiring meningkatnya prevalensi penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik. Dengan dukungan penelitian lanjutan yang lebih luas, Fruitflow berpotensi menjadi solusi preventif yang aplikatif di masyarakat. Oleh: Jihan Rahmalia Sanputri Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta