PINGYAO - Sejumlah karya sineas muda dari Asia Tenggara menjadi salah satu daya tarik utama dalam Festival Film Internasional Pingyao ke-10 yang berlangsung di Provinsi Shanxi, Tiongkok utara. Film-film dari Filipina, Kamboja, hingga Malaysia mendapat perhatian besar berkat pendekatan visual yang kuat serta pengangkatan isu-isu sosial yang dekat dengan realitas masyarakat setempat. Berbagai karya tersebut menghadirkan perspektif lokal mengenai kehidupan sosial kontemporer dan menampilkan gaya penceritaan yang khas. Kombinasi tersebut membuat sejumlah film Asia Tenggara menjadi perbincangan di antara peserta dan penonton festival. Salah satu yang mencuri perhatian adalah "Filipinana", film panjang perdana karya sutradara Filipina Rafael Manuel. Film tersebut menjalani penayangan perdana tingkat Asia di Pingyao dan seluruh tiket pemutarannya terjual habis. Sebelumnya, "Filipinana" dipilih sebagai wakil Filipina untuk kategori Film Panjang Internasional Terbaik Academy Awards. Adapun versi film pendeknya pernah meraih penghargaan Silver Bear dalam Festival Film Internasional Berlin. Mengambil latar sebuah lapangan golf, film itu menjadikan lokasi tersebut sebagai representasi masyarakat Filipina dalam skala kecil. Melalui komposisi gambar yang simetris dan sangat bergaya, karya tersebut mengangkat berbagai persoalan seperti ketimpangan kelas sosial serta perampasan lahan dalam konteks pascakolonial. "Latar cerita film ini menarik. Tokoh utama perempuannya, yang bekerja sebagai pramugolf, bertemu dengan orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat di lapangan golf. Orang-orang dari kelas sosial dan latar belakang kebangsaan yang berbeda seolah membentuk sebuah gambaran alegoris tentang masyarakat pascakolonial Filipina," ujar seorang penonton usai pemutaran film tersebut. Dalam konferensi pers, Manuel menjelaskan bahwa tujuan artistiknya bukan sekadar menghadirkan visual yang indah, melainkan memperlihatkan realitas yang tersembunyi di balik keindahan tersebut. Dia juga menceritakan masukan yang diperoleh dari sineas Tiongkok Jia Zhangke yang berperan sebagai produser eksekutif film tersebut. Pada hari pertama proses syuting, Jia menyarankan agar minggu pertama dimanfaatkan untuk menyesuaikan ekspektasi dengan kondisi nyata di lapangan. Menurut Manuel, saran itu memberikan dampak positif bagi proses produksi. Film lain yang turut menarik perhatian adalah "Promised Spaces", produksi lintas negara yang melibatkan sejumlah pihak, termasuk dari Kamboja dan Serbia. Karya tersebut mengambil latar di tengah laju urbanisasi yang berkembang pesat. Melalui dua alur cerita yang berjalan paralel, film itu memperlihatkan kontras antara kehidupan masyarakat di sekitar proyek pembangunan dengan kawasan hunian mewah yang kosong. Cerita tersebut sekaligus menyoroti kesenjangan sosial yang muncul akibat pemisahan ruang di kawasan perkotaan. Sutradara Ivan Markovic mengungkapkan bahwa lanskap perkotaan di Tiongkok turut menjadi inspirasi dalam pengembangan film tersebut. Seorang penonton menilai penggambaran mengenai "dua dunia yang dipisahkan oleh satu tembok" dalam film itu sangat relevan dengan kondisi yang terjadi di banyak kota yang tengah berkembang pesat. Sementara itu, sineas Malaysia berbahasa Mandarin, Kethsvin Chee, menghadirkan film "Dead Tide". Film tersebut mengisahkan perjalanan seorang mantan narapidana yang berusaha menebus kesalahannya di sebuah desa nelayan. Selain menyajikan kisah personal, karya itu juga memperlihatkan potensi dan perkembangan baru dalam perfilman berbahasa Mandarin di kawasan Asia Tenggara. Festival Film Internasional Pingyao ke-10 resmi dibuka pada 24 September di Kota Pingyao. Sebanyak 50 film dari hampir 40 negara dan kawasan masuk dalam program resmi festival tahun ini. Dari keseluruhan film yang terpilih, sebanyak 75 persen merupakan penayangan perdana tingkat Asia. Sementara itu, film yang melakukan penayangan perdana di Tiongkok mencapai 90,6 persen dan seluruh film terpilih melakukan penayangan perdana di Tiongkok Daratan. Sejak didirikan pada 2017, Festival Film Internasional Pingyao berfokus pada promosi karya sineas muda dari negara-negara dengan industri perfilman yang sedang berkembang maupun baru tumbuh. Dalam kurun satu dekade, lebih dari 6.000 sineas dari lebih dari 50 negara dan kawasan telah berpartisipasi, dengan total kunjungan yang melampaui 10 juta orang. Sebagai ajang internasional yang memberikan ruang bagi negara-negara produsen film yang sedang berkembang, festival tersebut terus menjadi wadah penting bagi sineas muda Asia Tenggara untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun jejaring dan pertukaran budaya. Bagi publik Tiongkok, kehadiran film-film tersebut membuka kesempatan untuk memahami kehidupan masyarakat Asia Tenggara dari sudut pandang yang lebih dekat. Di sisi lain, festival itu juga menunjukkan keragaman perfilman berbahasa Mandarin yang berkembang melintasi batas negara. Melalui medium sinema, para pembuat film dan penonton dari berbagai latar budaya dapat saling bertukar gagasan dan pengalaman. Dengan demikian, cerita-cerita yang berakar dari komunitas lokal memiliki peluang untuk menjangkau audiens yang jauh lebih luas di berbagai belahan dunia.