JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Film ini mengusung cerita mistis yang berlatar di sebuah pabrik gula tua dan menggabungkan unsur horor dengan kritik sosial. Film ini diadaptasi dari utas cerita viral karya SimpleMan, yang sebelumnya dikenal lewat kisah KKN di Desa Penari. Latar dan Sinopsis Cerita Pabrik Gula berlatar pada tahun 2003 dan mengikuti sekelompok buruh musiman yang dipekerjakan di sebuah pabrik gula tua di Jawa Timur. Para karakter utama, antara lain Endah (diperankan oleh Ersya Aurelia), Fadhil (Arbani Yasiz), Dwi (Arif Alfiansyah), Naning (Erika Carlina), Franky (Benidictus Siregar), Wati (Wavi Zihan), dan Hendra (Bukie B. Mansyur), mulai mengalami peristiwa mistis yang mengganggu keseharian mereka. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyadari bahwa pabrik tempat mereka bekerja menyimpan rahasia kelam dari masa lalu, termasuk isu kerja paksa dan tragedi yang belum terungkap. Teror datang tidak hanya dari makhluk gaib, tapi juga dari kenyataan sejarah yang gelap. Fakta Produksi Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi, yang juga menyutradarai KKN di Desa Penari dan Danur. Penulisan skenario dilakukan oleh Lele Laila, penulis yang juga terlibat dalam adaptasi film SimpleMan sebelumnya. Lokasi syuting dilakukan di pabrik gula tua di wilayah Yogyakarta dan Jawa Timur, yang memberikan nuansa otentik dan atmosfer kelam khas bangunan peninggalan kolonial. Produksi film memakan waktu sekitar 2 bulan dan melibatkan ratusan kru serta pemeran figuran dari daerah setempat. Format dan Versi Penayangan Pabrik Gula hadir dalam dua versi penayangan: 1. Versi Jam Kuning (17+) – versi reguler yang diperbolehkan untuk penonton remaja ke atas. 2. Versi Jam Merah (21+) – versi uncut dengan durasi lebih panjang dan konten yang lebih eksplisit serta intens. Strategi ini pertama kali diterapkan oleh MD Pictures dan mendapat perhatian luas karena memberikan pilihan pengalaman menonton yang berbeda. Penerimaan Penonton Dalam lima hari pertama penayangannya, Pabrik Gula berhasil menarik lebih dari 2 juta penonton, berdasarkan data dari akun resmi MD Pictures dan platform tiket bioskop online. Film ini juga menjadi trending di media sosial, dengan banyak netizen membagikan pengalaman menonton dan membandingkan versi Jam Kuning dan Jam Merah. Ulasan awal menyebutkan bahwa film ini berhasil menghadirkan suasana horor yang konsisten, meski beberapa pengamat menganggap alur cerita masih menyimpan unsur klise. Kritik dan Apresiasi Beberapa media film dan penonton memberikan apresiasi terhadap: • Nuansa mistis yang dibangun dengan kuat lewat visual dan tata suara. • Pemanfaatan bangunan pabrik tua sebagai elemen horor yang otentik. • Upaya menyisipkan pesan sosial tentang eksploitasi buruh dan warisan kolonialisme dalam alur cerita. Namun, kritik juga diarahkan pada: • Karakterisasi yang dianggap kurang berkembang. • Beberapa elemen horor yang dinilai terlalu mengandalkan efek kejut (jumpscare). Sebagai film horor lokal terbaru di tahun 2025, Pabrik Gula berhasil mengangkat cerita rakyat yang dikemas dengan gaya modern. Film ini menyuguhkan lebih dari sekadar teror hantu, tetapi juga menyentuh luka-luka sosial dan sejarah yang masih relevan hingga hari ini. Dengan strategi pemasaran yang inovatif dan kekuatan cerita lokal, film ini menjadi salah satu horor Indonesia yang layak mendapat tempat istimewa di bioskop tahun ini.