JAKARTA - Bagi banyak orang Indonesia, India mungkin pertama kali hadir bukan melalui buku pelajaran geografi, melainkan melalui cerita. Cerita yang hadir dari layar televisi yang diiringi lagu, tarian, kisah cinta dan tokoh-tokoh yang perlahan terasa akrab di kehidupan masyarakat Indonesia. Ada sesuatu yang khas dari cara India memperkenalkan dirinya, ia tidak selalu datang melalui angka atau penjelasan, tetapi melalui cerita. Dari kisah cinta dalam film Bollywood hingga kisah para dewa yang telah diwariskan selama berabad-abad, India seakan selalu memiliki cara untuk membuat orang lain berhenti sejenak dan mendengarkan. Hubungan itu bahkan bukan sesuuatu yang sepenuhnya baru bagi Indonesia mencatat bahwa hubungan Indonesia dan India telah terjalin selama ribuan tahun dan meninggalkan pengaruh kedalam bahasa serta kebudayaan Indonesia. Salah satu pintu paling populer untuk memasuki cerita India adalah Bollywood. Melalui film, India tidak hanya memperlihatkan kisah cinta, tetapi juga kehidupan keluarga, persahabatan, hubungan antara anak dan orang tua, pernikahan, musik, tarian, serta keberagaman masyarakatnya. Kisah-kisah itu sering kali membuat budaya hadir bukan sebagai sesuatu yang harus dipelajari, melainkan sesuatu yang harus dirasakan. Sebuah pesta pernikahan dalam film misalnya, dapat memperlihatkan pakaian, musik, tarian, makanan, sekaligus hubungan antarkeluarga dalam satu adegan. Di situlah kekuatan cerita bekerja, penonton mungkin datang untuk mengikuti kisah para tokohnya, tetapi tanpa sadar turut mengenal dunia tempat kisah itu berlangsung. Kemudian ada musik. Muungkin kita tidak selalu memahami bahasa Hindi yang dinyanyikan, tetapi lagu-lagu India memiliki kemampuan untuk menyampaikan emosi melampaui bahasa. Lagu seperti Mast Magan, Tum Hi Ho ataupun Kal Ho Naa Ho dapat membawa pendengarnya pada perasaan cinta, kerinduan, kebahagiaan atau kehilangan meskipun tida semua liriknya kita pahami. Musik juga bukan unsur yang berdiri sendiri dalam kebudayaan India. Tradisi pertunjukkan India memperlihatkab betapa eratnya hubungan antara musik, tari, cerita dan kehidupan masyarakat. UNESCO misalnya, mencatat Ramlila sebagai pertunjukkan Ramayana yang memadukan lagu, narasi, dialog dan pementasan; sementara itu, tari Chhau di India Timur menghidupkan episode-episode dari Mahabharata dan Ramayana melalui gerak, musik dan pertunjukkan. Jauh sebelum Bollywood memenuhi layar dengan kisah cinta, India telah memiliki cerita-cerita yang diwariskan selama berabad-abad. Mahabharata dan Ramayana bukan sekadar kisah masa lalu India, melainkan bagian dari tradisi yang terus ditafsirkan dan dipentaskan dalam berbagai bentuk. Menariknya perjalanan kedua epos tersebut juga sampai ke Indonesia. Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kemdikbdud menjelaskan bahwa cerita wayang di Indonesia bersumber antara lain dari Mahabharata dan Ramayana yang bernafaskan kebudayaan dan filsafat Hindu-India, tetapi kemudian diserap ke dalam kebudayaan Indonesia. Cerita India juga tidak hanya hidup di dalam film, buku atau pertunjukkan. Ia tertanam dalam tempat-tempat yang berdiri sebagai saksi perjalanan sejarah. Taj Mahal misalnya bukan hanya bangunan yang sering muncul dalam gambar tentang India. UNESCO mencatat bahwa bangunan tersebut didirikan oleh Kaisar Mughal Shah Jahan untuk mengenang sang Istri, Mumtaz Mahal. Sementara itu, Jaipur yang didirikan pada 1727 oleh Sawai Jai Singh II memperlihatkan pertemuan gagasan arsitektur Hindu, Mughal dan pengaruh perencanaan Barat dalam sebuah kota yang dirancang sebagai pusat perdagangan. Bahkan tempat-tempat seperti itu seakan mengatakan bahwa untuk memahami India terkadang kita hanya perlu melihat bangunannya dan bertanya: cerita apa yang membuat semua hal ini ada? Cerita tersebut kemudian hidup kembali setiap kali masyarakat India merayakan festival. Holi misalnya, dikenal sebagai festival warna dan perayaan musim semi, tetapi di balik warna-warni itu terdapat kisah tentang Prahlada dan Holika serta kisah cinta Radha dan Krishna. Diwali juga membawa cerita tentang kemenangan cahaya atas kegelapan dan dalam salah satu tradisi utamanya berkaitan dengan kepulangan Rama setelah masa pengasingan dan kemenangannya atas Ravana. Mungkin itulah yang membuat India terasa seperti negeri yang tak pernah kehabisan cerita. Kita dapat mengenalnya melalui layar Bollywood, melalui lagu yang bahkaan tidak sepenuhnya kita pahami, melalui kisah Mahabharata dan Ramayana yang telah menyeberang hingga ke Nusantara, melalui Taj Mahal dan kota Jaipur atau melalui festival yang setiap tahun kembali memenuhi jalanan dengan warna, cahaya, musik dan doa. India bukan hanya sebuah tempat dengan sejarah yang panjang, ia adalah sebuah peradaban yang terus menemukan cara untuk menceritakan dirinya. Mungkin kita datang karena sebuah film, bertahan karena sebuah lagu, lalu perlahan menemukan bahwa di balik semuanya terdapat kisah yang jauh lebih tua dan lebih luas. Dan selama cerita-cerita itu masih dinyanyikan, dipentaskan, dirayakan dan diwariskan, India tampaknya memang belum akan kehabisan cerita. Referensi Incredible India. (n.d.). Holi: Celebrate the festival of colours. Ministry of Tourism, Government of India https://www.incredibleindia.gov.in/en/festivals-and-events/holi? UNESCO. (n.d.). Ramlila, the traditional performance of the Ramayana. UNESCO Intangible Cultural Heritage https://ich.unesco.org/en/RL/ramlila-the-traditional-performance-of-the-ramayana-00110 Rindu, T. (21 Agt 2026). Mahabharata dan Ramayana: Dari India hingga menjadi wayang Jawa. Kompasiana. https://www.kompasiana.com/theresarindu7720/6a867f1f34777c491738fee4/mahabharata-dan-ramayana-dari-india-hingga-menjadi-wayang-jawa#goog_rewarded