MELBOURNE - Anak-anak dan remaja yang memiliki tingkat kebugaran kardiorespirasi lebih baik berpeluang mengalami risiko depresi yang lebih rendah ketika memasuki usia dewasa. Temuan tersebut terungkap dalam penelitian yang dipimpin oleh tim peneliti Australia. Berdasarkan keterangan yang dirilis Universitas Tasmania (UTAS) pada Kamis (1/10), penelitian itu memanfaatkan data dari studi Childhood Determinants of Adult Health. Studi tersebut mengikuti lebih dari 1.000 warga Australia yang pada 1985 berusia antara 7 hingga 15 tahun. Para peserta menjalani pengukuran kebugaran kardiorespirasi dan kebugaran otot pada masa kanak-kanak. Lebih dari tiga dekade kemudian, mereka kembali dievaluasi saat berusia 36 hingga 49 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebugaran kardiorespirasi pada masa kanak-kanak memiliki kaitan paling kuat dan konsisten dengan rendahnya risiko depresi ketika dewasa. Kebugaran jenis ini terbentuk melalui aktivitas fisik yang membuat seseorang bernapas lebih berat atau terengah-engah. Hubungan tersebut juga ditemukan lebih menonjol pada kelompok perempuan. Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Affective Disorders itu, tingkat kebugaran peserta dinilai melalui sejumlah tes, seperti lari sejauh 1,6 kilometer dan lompat jauh dari posisi berdiri. Sebagian peserta juga menjalani tes bersepeda serta pengukuran kekuatan genggaman tangan. Saat memasuki usia dewasa, para partisipan mengikuti wawancara diagnostik yang dikembangkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) guna menilai riwayat depresi yang pernah mereka alami sepanjang hidup. Penulis utama penelitian tersebut, Kylie Smith dari Menzies Institute for Medical Research UTAS, menegaskan bahwa hasil studi tidak membuktikan kebugaran yang rendah pada masa kanak-kanak secara langsung menyebabkan depresi saat dewasa. Menurut Smith, temuan itu justru mengindikasikan bahwa kebugaran pada usia dini kemungkinan memberikan manfaat yang lebih luas dibandingkan sekadar menjaga kesehatan fisik. "Kebugaran mungkin menjadi salah satu bagian dari teka-teki," dan depresi memiliki banyak faktor yang berkontribusi, ujar Smith. Ia menambahkan bahwa masih diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami secara lebih mendalam mekanisme hubungan antara kebugaran pada masa kanak-kanak dan risiko depresi ketika dewasa.