JAKARTA - Di era digital saat ini, membuka media sosial sering kali menjadi aktivitas yang lebih mudah dilakukan daripada membuka buku. Ketika baru bangun tidur, banyak orang langsung meraih telepon genggam untuk memeriksa notifikasi. Niat awal yang hanya ingin melihat pesan atau informasi terbaru sering berubah menjadi aktivitas menggulir media sosial selama puluhan menit tanpa disadari. Sementara itu, buku atau bahan bacaan yang tersedia justru sering terabaikan. Padahal, bagi mahasiswa, membaca merupakan salah satu kebiasaan penting yang mendukung proses belajar. Dunia perkuliahan tidak hanya menuntut mahasiswa untuk hadir di kelas, mencatat materi, dan mengerjakan tugas. Mahasiswa juga dituntut untuk mampu mencari informasi, memperluas wawasan, serta belajar secara mandiri. Salah satu cara paling sederhana untuk memperoleh pengetahuan tersebut adalah melalui kegiatan membaca. Membaca tidak selalu berarti harus menyelesaikan buku dengan ratusan halaman. Artikel, berita, jurnal ilmiah, e-book, maupun berbagai tulisan yang berkaitan dengan bidang studi juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat. Yang terpenting adalah membiasakan diri untuk membaca informasi yang mampu menambah wawasan dan pengetahuan baru. Pernah merasa kesulitan memahami materi ketika dosen membahas suatu topik yang belum pernah didengar sebelumnya? Salah satu penyebabnya bisa jadi karena kurangnya kebiasaan membaca. Semakin sering seseorang membaca, semakin banyak pula informasi yang dimilikinya. Seorang mahasiswa yang saya temui mengatakan, “Kalau kita rajin membaca, kita jadi lebih mudah memahami sesuatu dan nggak gampang percaya sama informasi yang belum jelas.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa membaca tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga membantu seseorang memahami dan menilai informasi secara lebih baik. Bagi mahasiswa, wawasan yang luas tentu memiliki banyak manfaat. Sebagai contoh, mahasiswa Sistem Informasi tidak hanya perlu memahami materi tentang pemrograman atau basis data, tetapi juga perlu mengikuti perkembangan teknologi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), keamanan siber, dan transformasi digital. Dengan banyak membaca, mahasiswa dapat menghubungkan materi yang dipelajari di perkuliahan dengan perkembangan yang terjadi di dunia nyata. Selain memperluas wawasan, membaca juga membantu membentuk pola pikir yang lebih kritis. Ketika membaca berbagai sumber informasi, seseorang belajar membedakan fakta, opini, dan informasi yang belum tentu kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan ini sangat penting mengingat arus informasi di era digital berkembang dengan sangat cepat. Tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat langsung dipercaya. Oleh karena itu, mahasiswa perlu membiasakan diri membaca dari berbagai sumber agar mampu melakukan verifikasi sebelum mempercayai maupun menyebarkan suatu informasi. Dengan demikian, membaca tidak hanya membuat seseorang lebih berpengetahuan, tetapi juga lebih bijaksana dalam menggunakan dan menyikapi informasi. Kebiasaan membaca juga memberikan manfaat dalam menyelesaikan tugas perkuliahan. Ketika dosen memberikan tugas berupa makalah, artikel, laporan, atau presentasi yang memerlukan sumber referensi yang jelas, mahasiswa yang terbiasa membaca biasanya akan lebih mudah mencari bahan pendukung yang relevan. Selain itu, membaca berpengaruh positif terhadap kemampuan menulis. Semakin banyak bahan bacaan yang dikonsumsi, semakin banyak pula kosakata, gaya bahasa, serta cara penyampaian informasi yang dapat dipelajari. Akibatnya, proses menuangkan ide ke dalam tulisan menjadi lebih mudah karena didukung oleh berbagai referensi dan pemahaman yang lebih luas. Hal tersebut juga dirasakan oleh salah satu mahasiswa yang saya wawancarai. Menurutnya, membaca memang terkadang terasa membosankan, tetapi manfaatnya sangat terasa ketika mengerjakan tugas maupun memahami materi perkuliahan. Ia juga berpendapat bahwa mahasiswa tidak harus selalu membaca buku yang tebal. Artikel, berita, jurnal, maupun informasi lain yang relevan dengan bidang studi tetap dapat memberikan tambahan wawasan yang berharga. Meskipun demikian, membangun kebiasaan membaca bukanlah hal yang mudah. Kesibukan kuliah, tugas akademik, kegiatan organisasi, hingga penggunaan media sosial sering kali membuat waktu untuk membaca menjadi terabaikan. Namun, membentuk kebiasaan membaca tidak harus dimulai dengan target yang besar. Mahasiswa tidak perlu memaksakan diri untuk menyelesaikan satu buku dalam waktu singkat. Kebiasaan membaca dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membaca beberapa halaman buku setiap hari, satu artikel, atau satu jurnal yang sesuai dengan minat dan bidang studi. Jika dilakukan secara konsisten, kebiasaan tersebut akan berkembang secara perlahan dan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Pada akhirnya, membaca merupakan investasi pengetahuan yang memberikan manfaat jangka panjang. Di tengah derasnya arus informasi dan dominasi media sosial, kebiasaan membaca dapat membantu mahasiswa memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, mendukung proses belajar, serta mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan di masa depan.