JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tidak sedikit orang yang salah mengira psoriasis dan eksim sebagai penyakit kulit yang sama. Sekilas keduanya memang mirip kulit tampak merah, bersisik, dan terasa gatal. Namun, dibalik gejala yang serupa, psoriasis dan eksim memiliki penyebab, tampilan, serta cara penanganan yang sangat berbeda. Memahami perbedaan keduanya penting agar penderita mendapat perawatan yang tepat. Asal-usul dan Penyebab Psoriasis adalah penyakit autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel kulit sehat dan mempercepat proses regenerasi kulit. Akibatnya, sel-sel kulit menumpuk terlalu cepat, membentuk lapisan tebal yang kering dan bersisik. Menurut National Psoriasis Foundation (NPF), psoriasis bukanlah penyakit menular dan umumnya dipicu oleh stres, infeksi, cuaca dingin, atau penggunaan obat tertentu. Sementara eksim atau yang sering disebut dermatitis atopik bukanlah penyakit autoimun, melainkan gangguan inflamasi kulit yang biasanya berkaitan dengan alergi dan kelemahan fungsi pelindung kulit. Faktor pemicunya bisa berupa sabun, detergen, suhu ekstrem, atau debu. Eksim cenderung muncul sejak masa kanak-kanak dan sering disertai riwayat alergi atau asma. Ciri Fisik yang Berbeda Meskipun sama-sama menyebabkan peradangan dan rasa gatal, ada perbedaan visual yang cukup jelas antara keduanya. Psoriasis umumnya muncul sebagai bercak merah tebal bersisik putih keperakan. Permukaannya terasa kaku dan bisa berdarah jika digaruk. Lokasi yang paling sering terkena adalah kulit kepala, siku, lutut, dan punggung bagian bawah. Eksim lebih sering tampak sebagai ruam merah yang basah, gatal, dan kadang disertai lepuhan kecil. Bagian tubuh yang sering terkena adalah lipatan siku, belakang lutut, wajah, dan leher. Selain itu, rasa gatal pada eksim biasanya lebih intens dibandingkan psoriasis. Pada anak-anak, eksim bahkan bisa membuat gangguan tidur karena rasa perih dan gatal yang terus-menerus. Siapa yang Rentan Mengalaminya Psoriasis dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun dewasa, namun paling sering muncul antara usia 15-35 tahun. Faktor genetik memiliki peran besar jika salah satu orang tua mengidap psoriasis, risiko anak mengalaminya meningkat hingga 10%. Eksim lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Data World Allergy Organization tahun 2023 Menyebutkan sekitar 15-20% anak di seluruh dunia mengalami eksim, dan sekitar 60% kasus muncul sebelum usia satu tahun. Perbedaan Penanganan Perawatan kedua penyakit ini juga berbeda. Psoriasis biasanya ditangani dengan obat topikal (krim atau salep kortikosteroid), terapi cahaya (fototerapi), atau obat sistemik yang menekan sistem kekebalan, tergantung tingkat keparahannya. Eksim, lebih fokus pada pelembap intensif untuk menjaga lapisan pelindung kulit, serta obat antiradang ringan dan penghindaran terhadap pemicu alergi. Dalam beberapa kasus, dokter juga menyarankan penderita eksim untuk mengelola stres dan menjaga pola makan, karena faktor emosional dan asupan tertentu dapat memperlambat kondisi kulit. Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter Baik psoriasis maupun eksim sama-sama memerlukan diagnosis dari dokter kulit. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan karena gejala keduanya bisa tumpang tindih. Bila ruam tidak membaik setelah penggunaan pelembap biasa atau malah menyebar, segera konsultasikan dengan dokter. Penanganan dini dapat mencegah infeksi sekunder dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Psoriasis dan eksim sama-sama bukan penyakit menular, namun berbeda dari segi penyebab dan cara penanganannya. Psoriasis bersifat autoimun dan menghasilkan sisik tebal keperakan, sementara eksim lebih condong pada alergi dan kelemahan kulit, dengan gejala gatal yang parah dan ruam basah. Mengetahui perbedaannya membantu masyarakat tidak hanya mengenali kondisi kulit dengan lebih akurat, tetapi juga mencari perawatan yang sesuai sejak awal. Kulit yang sehat bukan sekadar soal penampilan, melainkan cerminan keseimbangan tubuh secara keseluruhan.