TANGERANG SELATAN — Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan pola konsumtif di kalangan remaja menjadi perhatian serius bagi mahasiswa/i Jurusan Akuntansi (Perpajakan) Universitas Pamulang (Unpam). Melihat banyaknya remaja yang kesulitan mengendalikan pengeluaran akibat terpikat tren media sosial, sekelompok mahasiswa Unpam menggelar program edukasi bertajuk “Kendali Diri dan Isi Dompet” di SMP Raudlatul Falah, pada Senin, 03 November 2025. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang rutin dilaksanakan setiap semester. Dalam pemaparan materi, menjelaskan bahwa remaja merupakan kelompok yang paling rentan terpapar tekanan sosial digital. Paparan konten gaya hidup, tren fashion, makanan kekinian, hingga gadget terbaru di media sosial sering memicu keinginan berlebih yang tidak selaras dengan kemampuan finansial mereka. FOMO menjadi faktor pendorong yang membuat remaja membeli sesuatu hanya karena takut dianggap tertinggal. “Banyak remaja belum memahami bagaimana mengelola uang saku secara sederhana. Mereka cenderung fokus pada keinginan sesaat, bukan kebutuhan jangka panjang,” ujar salah satu mahasiswa pemateri. Fenomena tersebut yang kemudian mendorong diselenggarakannya program edukasi ini. Materi utama dalam kegiatan PKM ini menyoroti literasi cashflow, yaitu kemampuan mengelola arus kas masuk dan keluar secara pribadi. Para siswa diperkenalkan pada konsep mencatat pemasukan, mengelompokkan pengeluaran, hingga membedakan prioritas kebutuhan dan keinginan. Mahasiswa Universitas Pamulang juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan sederhana seperti menuliskan pengeluaran harian, membuat batasan uang jajan, dan mengevaluasi penggunaan uang setiap akhir minggu. Kegiatan ini dilakukan melalui sesi simulasi pengelolaan uang saku yang diikuti dengan antusias oleh siswa. Dalam salah satu sesi, siswa diberikan uang jajan fiktif selama satu minggu dan diminta mengalokasikan dana untuk kategori kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Model pembelajaran berbasis simulasi ini terbukti efektif, karena siswa dapat melihat langsung bagaimana keputusan belanja berdampak pada sisa uang saku mereka. Selain aspek teknis pengelolaan keuangan, program ini juga memberikan pemahaman psikologis tentang bagaimana FOMO bekerja. Dalam penjelasannya, mahasiswa pemateri memaparkan bahwa FOMO mendorong remaja untuk terus mengikuti berbagai tren viral tanpa mempertimbangkan kebutuhan maupun kemampuan finansial. Sesi edukasi juga disertai diskusi mengenai bagaimana media sosial memengaruhi cara pandang seseorang terhadap diri sendiri dan kelompok sebaya. Para siswa diajak mengenali tanda-tanda mereka sedang terdampak FOMO, seperti sulit menolak ajakan teman, sering merasa ketinggalan, atau melakukan pembelian impulsif karena dorongan emosional. “Mereka bukan hanya butuh pengetahuan tentang uang, tapi juga pemahaman tentang psikologi yang memengaruhi perilaku belanja,” ungkap salah satu mahasiswa. Sebagai bagian dari solusi, mahasiswa Universitas Pamulang memberikan beberapa teknik sederhana untuk meningkatkan kontrol diri dalam berbelanja. Di antaranya adalah: Delay Gratification: Menunda keputusan pembelian selama beberapa jam atau hari sebelum memutuskan membeli. Membuat daftar kebutuhan: Daftar ini membantu siswa memilah mana yang benar-benar penting. Batas pengeluaran: Menetapkan batas belanja mingguan untuk menghindari pengeluaran berlebih. Mengurangi paparan konten konsumtif: mengatur waktu layar atau memilih mengikuti akun yang lebih edukatif. Tips ini disampaikan melalui permainan interaktif sehingga siswa lebih mudah memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan dinamis. Selama sesi tanya jawab, banyak siswa mengungkapkan pengalaman pribadi, mulai dari uang saku yang cepat habis hingga perasaan “harus punya” barang tertentu karena tren TikTok atau ajakan teman. Para siswa mengaku sering tidak sadar bahwa kebiasaan tersebut termasuk perilaku impulsif yang dipengaruhi FOMO. Dari kegiatan yang kita jalankan Guru-guru SMP Raudlatul Falah menyambut baik kegiatan ini dan berharap program serupa dapat diadakan secara berkelanjutan. Menurut salah satu guru, edukasi literasi keuangan sangat relevan diberikan kepada siswa sejak dini agar mereka tidak terjebak pada kebiasaan belanja berlebihan di kemudian hari. Di akhir kegiatan, mahasiswa Universitas Pamulang melakukan evaluasi kecil yang menunjukkan bahwa mayoritas siswa mulai memahami pentingnya pencatatan arus kas dan lebih sadar terhadap dampak FOMO. Banyak dari mereka menyatakan akan mencoba mengurangi kebiasaan mengikuti tren yang tidak diperlukan serta berkomitmen mencatat pengeluaran harian sebagai langkah awal pengelolaan keuangan pribadi. Program edukasi “Kendali Diri dan Isi Dompet” menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa Universitas Pamulang terhadap peningkatan literasi keuangan di tingkat sekolah menengah pertama. Melalui pendekatan edukatif, simulatif, dan psikologis, kegiatan ini berhasil memberikan pemahaman komprehensif kepada para siswa mengenai bagaimana mengelola arus kas pribadi sekaligus menahan diri dari perilaku konsumtif yang dipicu FOMO. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan remaja Indonesia semakin mampu mengambil keputusan finansial yang bijak, tidak mudah terpengaruh tekanan sosial, dan tumbuh sebagai generasi yang melek keuangan.