JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Publik di media sosial tengah dihebohkan dengan diskusi mengenai Ramalan Ali bin Abi Thalib tentang Indonesia yang dikaitkan akan terbukti pada tahun 2026. Ramalan ini berpusat pada nubuat tentang sebuah negeri di timur yang akan mencapai puncak kejayaannya di akhir zaman. Diskusi ini mencuat berdasarkan kajian berbagai riwayat dan kitab kuno yang diyakini memuat prediksi dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Pertanyaannya, apakah negeri yang dimaksud benar-benar Nusantara (Indonesia), dan apakah tahun 2026 akan menjadi titik awal dari era baru ini? Mengurai Ramalan Negeri 'Alyaban' Sumber utama diskusi ini adalah ramalan yang dikaitkan dengan Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai 'Babul Ilmi' (Gerbang Ilmu) dan merupakan sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Prediksi ini diyakini berasal dari ilmu yang diwariskan Rasulullah kepadanya mengenai peristiwa-peristiwa akhir zaman. Informasi ini, sebagaimana disebutkan dalam berbagai literatur, sering merujuk pada kitab yang dinisbahkan kepada beliau, seperti Al-Jafr Al-Azam atau buku Ramalan Akhir Zaman Imam Ali bin Abi Thalib karya Sayid Ali Asyur. Dalam riwayat tersebut, disebutkan adanya sebuah negeri bernama 'Alyaban' yang akan menjadi simbol kejayaan Islam di masa akhir zaman, khususnya pada era kemunculan Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa. Ciri-ciri Negeri yang Dinubuatkan Negeri Alyaban tersebut digambarkan memiliki ciri-ciri spesifik yang oleh para pengkaji diyakini sangat cocok dengan kondisi geografis dan demografis Indonesia: - Mayoritas penduduknya adalah orang-orang yang beriman. - Penduduknya berasal dari kelompok 'Azam' (non-Arab). - Dikenal sebagai orang-orang baik dan banyak yang fasih membaca Al-Quran. - Memiliki wilayah yang sangat luas dan menjadi tujuan hijrah (migrasi). - Memiliki banyak gunung yang menjulang tinggi. - Kerap dilanda gempa. - Menjalin hubungan luar negeri dengan Cina dan negeri di belakang laut kuning (disebut 'Korio' atau Korea). Benarkah 'Alyaban' adalah Jepang atau Jawa? Selama ini, banyak yang keliru menerjemahkan 'Alyaban' sebagai Jepang (Japan) karena kemiripan pelafalan. Namun, para pengkaji berargumen bahwa 'Alyaban' adalah pelafalan Arab untuk 'Alyafan'. Secara linguistik, perubahan ini dinilai lazim, sama seperti 'Swarna Dwipa' (Sanskerta) yang diucapkan dalam bahasa Arab menjadi 'Suarnadip'. Argumen ini diperkuat oleh Dr. Muhammad Ali dalam bukunya Afrosemitic Philology. Ia menyatakan bahwa istilah 'Abraham' (Ibrani) kemungkinan diadopsi dari bahasa Veda (Sanskerta) 'Yavan Vipam', yang kemudian mengalami transliterasi menjadi 'Java Vipa' atau Pulau Jawa. Bukti Sejarah dan Linguistik 'Yafan' Kaitan antara 'Yafan' dan Nusantara (Jawa) ditelusuri lebih jauh melalui berbagai catatan sejarah dan linguistik: 1. Daniel M. Campbell (1915): Dalam bukunya Java, Past and Present, ia menyebut 'Javana' atau 'Yavana' tidak hanya merujuk pada Pulau Jawa, tetapi juga Sumatera, sebagian Kalimantan, dan Semenanjung Malaysia (mencakup seluruh Kepulauan IndoCina). 2. Henry Philips (1822): Menyebut 'Javan' (Indonesia) sebagai asal 'kalamus' (jenis bambu) dalam literatur kuno 595 SM, merujuk pada Javan, cucu Nabi Nuh. 3. Wali Songo: Para wali penyebar Islam di Nusantara, seperti Syekh Jumadil Kubro (kakek Sunan Ampel), menyebut wilayah penyebaran Islam ini sebagai 'Jawi'. Kaitan 'Jawi' dengan Keturunan Nabi Nuh Hubungan 'Javan' (Yafan) dengan 'Jawi' ditemukan dalam teks Masoret (Perjanjian Lama berbahasa Ibrani) yang merinci keturunan Nabi Nuh pasca-Air Bah. Dikutip dari teks tersebut, keturunan Yafet (anak Nabi Nuh) adalah Gomer, Magok, Madai, Javan, Tubal, Meseh, dan Tiras. Mereka disebut menghuni 'Kepulauan Goim'. Para ahli linguistik spiritual meyakini kata 'Goim' dalam bahasa Ibrani kuno dibaca sebagai 'Jawi'. Ini dinilai sebagai alasan kuat mengapa Wali Songo sangat tepat menyebut wilayah Nusantara sebagai 'Jawi', merujuk pada keturunan Javan bin Yafet bin Nuh. Triangulasi dari Berbagai Kitab Kuno Menariknya, ramalan kejayaan Nusantara di akhir zaman tidak hanya berasal dari satu sumber. Para pengkaji menemukan adanya kesamaan nubuat dalam tiga kitab besar dari peradaban berbeda: - Kitab Al-Jafr Al-Azam (Ali bin Abi Thalib): Menyebut kejayaan 'Alyaban'. - Kitab Sunan Sendang Duwur (Wali Songo): Menyebut kejayaan 'Jawi'. - Kitab Bhavishya Purana (Hindu): Menyebut bahwa 'Yavana' akan menguasai peradaban dunia di akhir zaman (Kali Yuga). Ketiga kitab tersebut, meski dari tradisi berbeda, sama-sama merujuk pada negeri di timur (Yafana, Alyafan, Yafadwipa, atau Jawi) yang akan memimpin peradaban dunia. Publik kini mengaitkan momentum ini dengan tahun 2026, berharap ramalan ini menjadi kenyataan yang membawa kebaikan dan kemajuan bagi Nusantara, khususnya Indonesia yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa ramalan adalah bagian dari khazanah tafsir dan interpretasi. Islam, sebagaimana ditekankan dalam diskusi tersebut, hadir sebagai kabar gembira, bukan doktrin yang menebar ketakutan. Informasi ini menjadi pengingat untuk terus membangun peradaban yang baik, terlepas dari kapan nubuat tersebut akan terwujud. Apa pendapat Anda mengenai kaitan 'Alyaban' dengan Indonesia?Tulis di kolom komentar. Sumber: Youtube/Kisah Trending