KOTA MALANG, NETRALNEWS.COM- Lahirnya media sosial telah mengubah cara kita berkomunikasi dan manusia saling terkoneksi antar satu sama lain. Seperti konsep “Global Village” yang dikemukakan oleh Marshall McLuhan, perkembangan teknologi komunikasi telah mengubah dunia menjadi sebuah desa global, di mana jarak fisik sudah bukan lagi menjadi penghalang yang signifikan dalam kita berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial memungkinkan kita untuk berbagi pengalaman, pemikiran, foto, dan video dengan teman, keluarga, bahkan orang asing di seluruh dunia. Hal ini menciptakan jaringan hubungan sosial yang lebih luas dan terbentuknya ruang publik digital yang memainkan peran penting dalam kehidupan sosial saat ini. Media sosial memberikan peluang bagi individu dan kelompok untuk berpatisipasi dalam dialog publik yang sebelumnya hanya terbatas pada ruang fisik. Tidak hanya sebagai media komunikasi dan informasi, media sosial telah digunakan sebagai sarana mengekspresikan diri, menggiring opini publik, bahkan tempat untuk berkeluh kesah. Salah satu media sosial yang sering diakses oleh para warganet saat ini adalah Twitter/X. Terdapat fenomena unik di dalamnya yang hanya ada di Indonesia seperti munculnya akun-akun autobase atau yang sering disebut dengan akun menfess. Menfess sendiri merupakan singkatan dari mention confession. Secara sederhana, akun menfess ini merupakan perantara atau media bagi pengguna Twitter/X untuk menyampaikan pesan yang kemudian pesan tersebut akan diposting oleh akun menfess tanpa mengungkapkan identitas pengirim pesan. Hal ini menjadi daya tarik utama menfess karena pengirim pesan merasa bebas untuk berbicara tentang hal pribadi, berbagi perasaan, atau memberikan pujian tanpa khawatir identitasnya diketahui. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan pendapat serta solusi yang beragam atau dalam kasus tertentu, pengirim pesan ingin mendapatkan empati atau simpati dari pembaca. Hal ini membantu orang agar merasa terdengar dan mendapatkan dukungan emosional. Selain itu, akun menfess memberikan rasa kebebasan bagi seseorang untuk membicarakan isu-isu yang mungkin tabu di lingkungan sehari-hari dan isu-isu sensitif seperti kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, dan permasalahan sosial lainnya. Mengirim pesan secara anonim ini menciptakan ruang yang aman untuk berbicara tentang isu-isu yang sulit. Tetapi, mengirim pesan secara anonim melalui menfess ini juga terdapat sisi negatif. Karena pengirim pesan bersifat anonim, beberapa pengirim pesan merasa bebas untuk melakukan cyberbullying atau mengirim pesan yang mengandung unsur pelecehan atau penghinaan kepada individu atau kelompok tertentu. Kemudian dalam beberapa kasus, pengirim pesan memanfaatkan anonimitasnya untuk menyebarkan berita palsu atau tidak benar. Hal ini dapat membingungkan atau mempengaruhi pemahaman publik tentang berita atau isu tertentu. Selain itu, kehilangan akuntabilitas juga menjadi masalah besar dalam penggunaan menfess karena pengirim pesan tidak perlu menghadapi konsekuensi atas pesan mereka, hal ini dapat mengurangi rasa tanggung jawab and etika dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, perlu diingat bahwa anonimitas merupakan pisau bermata dua. Meskipun dapat memberikan kebebasan dalam berbicara, juga membawa risiko tertentu. Sehingga, penting untuk menghormati etika dan pedoman komunitas saat menggunakan menfess ataupun platform media sosial lainnya, serta melaporkan perilaku yang tidak etis atau merugikan kepada penyedia platform. Selain itu, memiliki literasi media digital yang baik juga penting agar kita, sebagai pengguna media sosial tidak termakan berita palsu atau hoaks.