JAKARTA - Di banyak masyarakat Indonesia, ada satu budaya yang masih kuat melekat: anggapan bahwa orang tua atau yang lebih berpengalaman selalu benar, sementara yang lebih muda sebaiknya patuh. Pola pikir ini sering dianggap wajar karena berakar dari nilai kekeluargaan, penghormatan pada yang lebih tua, dan norma sosial yang diwariskan turun-temurun. Contoh Budaya Patriarki: “Buat Apa Sekolah Tinggi-Tinggi?” Siti (23 tahun) pernah mendapat komentar dari orang tuanya, saudaranya, bahkan tetangganya ketika ia berencana melanjutkan studi S2. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi? Yang penting kan sudah kerja, sudah bisa cari uang sendiri,” begitu kata mereka yang seakan-akan benar sendiri. Bagi generasi orang tua, pendidikan sering dipandang hanya sebagai pintu masuk dunia kerja. Kalau sudah ada gaji tetap, artinya sudah cukup. Tapi bagi Siti dan banyak generasi Z lainnya, pendidikan lebih dari itu. Ia melihat pendidikan sebagai modal untuk berkembang, memperluas wawasan, bahkan membuka peluang karier yang lebih baik di masa depan. Benturan pemahaman ini sering membuat anak muda dilema. Di satu sisi, mereka ingin menghargai pandangan orang tua. Di sisi lain, mereka sadar bahwa dunia sekarang jauh lebih kompetitif. Tanpa pendidikan dan keterampilan tambahan, sulit rasanya bersaing. Namun, apakah pola seperti ini masih relevan di era sekarang, terutama ketika generasi Z tumbuh dengan cara pandang yang lebih kritis dan terbuka? Generasi Z dikenal lebih melek teknologi, punya akses informasi luas, dan berani menyampaikan pendapat-baik di media sosial maupun diskusi sehari-hari. Mereka tidak segan mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja, termasuk tradisi “yang tua pasti benar.” Bagi mereka, pengalaman memang penting, tapi bukan berarti menutup ruang dialog atau menolak perspektif baru. Meski begitu, perubahan pola pikir tidak terjadi instan. Norma “menghormati yang tua dengan cara diam dan patuh” sudah lama mengakar dalam keluarga maupun masyarakat. Tidak jarang, ketika generasi Z mencoba mengajukan argumen, mereka dianggap kurang ajar atau tidak tahu diri. Inilah benturan nilai yang membuat perubahan terasa lambat. Kalau ingin budaya ini bisa bergeser, perlu ada kesadaran bersama. Orang tua atau generasi sebelumnya tetap penting sebagai penjaga tradisi dan pemberi pengalaman. Tapi generasi muda juga butuh ruang untuk didengar. Edukasi formal dan informal harus mendorong dialog dua arah, bukan satu arah. Media dan tokoh publik juga bisa berperan menghadirkan narasi bahwa menghormati orang tua tidak berarti mengabaikan suara anak muda. Generasi Z bisa menjadi penggerak perubahan karena mereka terbiasa berpikir kritis. Tapi mereka tidak bisa berjalan sendirian. Yang dibutuhkan adalah jembatan antara pengalaman generasi lama dan ide segar generasi baru. Singkatnya, budaya “orang tua selalu benar” memang tidak bisa hilang dalam sekejap. Tapi jika generasi muda dan tua mau membuka ruang dialog, pelan-pelan budaya ini bisa bergeser menjadi hubungan yang lebih setara: saling menghargai, saling belajar, dan saling mendukung.