BANJARNEGARA, NETRALNEWS.COM – Menjadi tukang cat mobil maupun motor membutuhkan keterampilan mumpuni. Selain kesabaran dan ketelatenan, seorang tukang cat juga dituntut mampu meracik warna sesuai keinginan pelanggan. Selain itu, diperlukan keterampilan reparasi ketika kendaraan konsumen mengalami kerusakan yang cukup parah. Di Kabupaten Banjarnegara, meskipun banyak tukang cat mobil yang mulai merambah hingga ke sejumlah pelosok desa, tidak semuanya memiliki keterampilan yang sama, terutama dalam melakukan pengaplikasian cat. Akibatnya, tidak sedikit konsumen yang tergiur harga murah, tetapi mendapatkan hasil yang mengecewakan. Untuk mendapatkan informasi mengenai usaha pengecatan mobil, Netralnews mencoba mendatangi Dayat, warga Desa Mantranom, Kecamatan Bawang. Pria yang memiliki tiga anak tersebut mengaku telah puluhan tahun menekuni pekerjaan yang penuh dengan risiko tersebut. Sembari memoles mobil milik konsumen, Dayat menceritakan bahwa keahliannya diperoleh saat dirinya merantau dan bekerja dengan orang lain di bidang pengecatan mobil selama sekitar 10 tahun. “Awalnya ikut bos dulu saat masih muda, zaman masih suka merantau. Awal buka sendiri itu modal nekat karena saat itu berpikir, masa harus ikut orang terus. Akhirnya pulang dan buka sendiri dengan modal seadanya,” ungkap Dayat, Jumat (2/10/2026). Dayat juga secara terbuka mengungkapkan bahwa tarif pengecatan yang ditawarkan kepada konsumen bervariasi, tergantung pada kondisi dan tingkat kerusakan mobil. “Tergantung tingkat kesulitan dan lebar objek yang akan dicat. Contohnya mobil sedan ini, ini diguyur cat total dan memperbaiki beberapa bagian yang rusak atau keropos. Saya minta Rp7,5 juta. Kalau hanya seperti luka goresan, lecet bekas serempetan, tergantung parah tidaknya, berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp1 juta,” jelas Dayat. Dalam menjalankan usahanya, Dayat dibantu oleh dua anak laki-lakinya. Saat ditanya mengenai penghasilan, dirinya mengaku hal tersebut bergantung pada banyaknya pelanggan setiap hari. “Tidak bisa diprediksi, namanya pekerjaan seperti ini, kadang ada, kadang tidak. Tapi Alhamdulillah, meski sedikit, ada untuk keperluan setiap hari,” beber Dayat. Ditanya terkait ada tidaknya pelanggan atau konsumen yang nakal dengan cara berutang setelah pekerjaan selesai, Dayat secara lugas menjawab, “Banyak, Mas. Bahkan sampai sekarang masih ada yang belum bayar hingga jutaan. Malahan tidak hanya satu dua orang. Tapi ya, ikhlaskan saja, berarti itu belum rezeki keluarga saya,” ujarnya. Meskipun demikian, Dayat yang juga memiliki keahlian membuat gazebo dari bambu tersebut tidak merasa pusing dengan orang-orang yang membohonginya. “Biar Allah yang membuka pintu hatinya, Mas. Kalau rezeki keluarga saya dan orang itu sadar, pasti datang sendiri membayar tanpa dikejar,” pungkas Dayat.