KEEROM - Pagi itu suasana di SMKS YPK Betlehem Arso 1 terasa berbeda. Di ruang praktik jurusan Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT), belasan siswa kelas XII tampak serius dan antusias memperhatikan arahan guru produktif. Kabel jaringan tersusun rapi di meja, perangkat komputer menyala, dan diskusi kecil terdengar di beberapa sudut ruangan, menandakan para siswa sedang mempersiapkan diri menghadapi satu tahapan penting dalam perjalanan pendidikan mereka, yakni Uji Kompetensi Keahlian (UKK). Sebanyak 25 peserta didik dari kelas XII jurusan TJKT memulai pembekalan UKK sejak minggu pertama di awal bulan Maret yang direncang berlangsung selama satu bulan penuh. Sementara itu, jurusan Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) dijadwalkan memulai pembekalan pada minggu berikutnya. Pembekalan ini menjadi bagian dari komitmen sekolah untuk memastikan setiap siswa benar-benar siap, bukan hanya secara teknis, tetapi juga secara mental. Bagi siswa SMK, UKK bukan sekadar ujian akhir biasa. UKK merupakan indikator utama penguasaan kompetensi sesuai standar dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Dalam prosesnya, kemampuan teknis dan profesional siswa diuji langsung oleh penguji dari instansi atau lembaga yang telah menjalin kerja sama resmi (MoU) dengan sekolah. Artinya, standar yang diterapkan adalah standar industri sesungguhnya. Guru produktif TJKT yang juga menjabat sebagai Wakasek Humas, Valentino Salves Raya Hala, menegaskan bahwa sekolah tidak ingin siswa menghadapi UKK tanpa persiapan matang. “Kami berharap seluruh siswa dapat mengikuti UKK dengan baik dan lulus sehingga memperoleh sertifikat kompetensi. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa mereka benar-benar siap bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan,” tutur salves dengan penuh optimis. Pembekalan yang diberikan tidak hanya berfokus pada penguasaan materi praktik, seperti instalasi jaringan, konfigurasi perangkat router mikrotik, maupun simulasi layanan perkantoran. Lebih dari itu, siswa dilatih untuk bekerja sesuai standar operasional prosedur (SOP) industri, menjaga kedisiplinan waktu, serta membangun sikap profesional. Guru-guru juga menanamkan pentingnya belajar bersama dan saling mendukung, guna membangun kepercayaan diri saat menghadapi penguji eksternal. Di antara para peserta, Mariana Kristiana Rika Tahu, salah satu siswi kelas XII TJKT yang mengikuti, merasakan campuran antara gugup dan antusias. Baginya, UKK adalah momen penentu sekaligus pembuktian diri. “Ada rasa gugup karena UKK sangat menentukan, tetapi kami juga merasa siap karena sudah dibimbing dan dilatih dengan baik oleh bapak dan ibu guru. Kami juga saling mendukung satu sama lain agar bisa lulus bersama,” ungkapnya sambil tersenyum. Dukungan antar teman seangkatan menjadi kekuatan tersendiri. Mereka belajar bersama, saling mengoreksi kesalahan, dan berbagi pengalaman selama praktik. Suasana kompetitif berubah menjadi kolaboratif karena tujuan mereka sama, yakni lulus dengan hasil terbaik dan membawa nama baik sekolah. Bagi Mariana dan teman-temannya, sertifikat kompetensi bukan hanya selembar dokumen. Itu adalah pintu menuju masa depan, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun langsung terjun ke dunia kerja sesuai bidang keahlian. Lebih dari itu, ada harapan sederhana namun bermakna, yaitu membanggakan orang tua dan almamater tercinta. Dengan dukungan penuh tenaga pendidik dan mitra industri, SMKS YPK Betlehem Arso 1 optimistis pelaksanaan UKK tahun 2026 akan berjalan lancar dan dapat mencetak lulusan, sekaligus mempersiapkan generasi muda keerom yang kompeten, profesional, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja yang terus berkembang dan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan daerah.