JAKARTA - Lebih kurang sudah 15 tahun sejak saya pensiun dari dinas pada tahun 2005, saya menemukan satu kegiatan yang ternyata memberikan warna tersendiri dalam kehidupan saya yakni bermusik ria. Bersama teman-teman musisi, saya cukup rutin bermain musik di Airman Planet dan kemudian di Qi Lounge, Hotel Sultan Jakarta. Bagi saya, kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu luang setelah pensiun. Bermusik menjadi sebuah ruang untuk bersantai, bertemu banyak orang, menjalin persahabatan, dan tentu saja menikmati kegembiraan yang sederhana. Selama sekitar lebih kurang delapan tahun terakhir sebelum kegiatan itu benar-benar berhenti, saya secara rutin setiap minggu bermain bersama Band The Playsets. Bermusik bersama kelompok ini menjadi bagian yang cukup penting dalam keseharian saya. Ada semacam kebahagiaan tersendiri ketika pada hari tertentu saya datang, membawa gitar, saksofon dan bertemu teman-teman, lalu bersama-sama memainkan lagu-lagu yang kami sukai. Teman Playsets antara lain adalah Alam, Arie, Djoko Pratomo, Finggo, Julius, Nadjib, Roy dan Yance. Untuk Band The Playsets ini saya sempat menerbitkan buku di Penerbit Buku Kompas berjudul Band The Playset di tengah Blantika Musik Indonesia. Menariknya, saya sebenarnya tidak pernah belajar musik secara formal. Saya tidak pernah duduk di bangku sekolah musik atau mengikuti pendidikan khusus untuk menjadi seorang musisi. Saya belajar secara otodidak, terutama melalui pengalaman, mendengarkan musik, mencoba memainkan lagu, dan tentu saja melalui pergaulan dengan para musisi yang jauh lebih berpengalaman. Saya mulai mengenal dan memainkan gitar. Belakangan saya juga mencoba memainkan saksofon. Namun, di antara kedua alat musik itu, gitar tetap menjadi alat musik yang paling dekat dengan saya. Mungkin karena sejak awal saya lebih banyak bermain gitar bersama teman-teman. Belakangan baru saya agak fokus ke Saksofon. Selama bertahun-tahun bermain musik, saya merasakan sendiri bahwa kegiatan ini memberikan banyak manfaat. Musik membuat pikiran menjadi lebih rileks. Setelah menjalani kehidupan yang cukup panjang dalam lingkungan militer yang penuh dengan disiplin, tanggung jawab, dan tekanan, bermain musik memberikan suasana yang sama sekali berbeda. Di depan saya bukan lagi peta operasi, laporan, atau persoalan kedinasan, melainkan gitar, notasi lagu, dan teman-teman yang siap menikmati musik bersama. Musik juga mempertemukan saya dengan banyak orang. Dari kegiatan bermusik itu saya berkenalan dengan cukup banyak musisi profesional Indonesia, khususnya yang berkiprah di Jakarta. Dari merekalah saya belajar bahwa bermain musik bukan hanya soal kemampuan memainkan alat musik, tetapi juga soal rasa, kepekaan, kerja sama, dan kemampuan mendengarkan orang lain. Sayangnya, kegiatan bermusik yang sudah berjalan cukup lama itu harus berhenti ketika pandemi Covid-19 melanda. Aktivitas pertunjukan musik praktis terhenti. Setelah pandemi berlalu, kegiatan tersebut memang sempat berjalan kembali, tetapi tidak pernah benar-benar seperti sebelumnya. Bahkan akhirnya, pada tahun 2025, kegiatan rutin bermusik bersama teman-teman di Hotel Sultan terhenti sama sekali, seiring dengan berbagai persoalan yang dihadapi hotel tersebut. Saya benar benar kehilangan panggung bermusik yang terjadwal. Meski demikian, kenangan selama bertahun-tahun bermusik tetap menjadi bagian yang sangat menyenangkan dalam perjalanan hidup saya setelah pensiun. Dua Maestro Gitar yang Saya Kagumi Di antara banyak musisi dan gitaris ternama Indonesia yang pernah saya kenal, ada dua nama yang secara khusus sangat saya kagumi. Eugene Lodewijk Willem Maulana, yang lebih dikenal sebagai Ireng Maulana, dan Jopie Reinhard Item, yang lebih dikenal sebagai Jopie Item. Keduanya adalah gitaris yang memiliki karakter dan keistimewaan masing-masing. Mereka bukan hanya piawai memainkan gitar, tetapi juga memiliki pemahaman yang sangat dalam terhadap musik, terutama jazz. Dalam beberapa kesempatan, saya beruntung dapat bermain musik bersama mereka. Bagi saya, pengalaman tersebut tentu sangat berharga. Bermain bersama musisi yang memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata membuat saya dapat merasakan secara langsung bagaimana seorang pemain profesional memperlakukan musik. Hubungan saya dengan Jopie bahkan berkembang lebih jauh. Pada tahun 2003, ketika saya mempersiapkan beberapa lagu untuk direkam dalam bentuk CD, Jopie ikut membantu dalam proses rekaman tersebut. Pengalaman bekerja bersamanya di studio menjadi salah satu kenangan bermusik yang sampai sekarang masih saya ingat. Ireng dan Jopie dikenal sebagai gitaris kesohor terutama dalam musik Jazz. Musik Jazz sendiri adalah genre musik yang lahir di Amerika Serikat dan berkembang dari pertemuan berbagai tradisi musik, terutama pengaruh Afrika-Amerika dengan tradisi harmonis Eropa. Salah satu kekuatan utama jazz adalah improvisasi. Di dalam jazz, seorang pemain tidak hanya dituntut mampu memainkan nada dengan benar, tetapi juga harus mampu merasakan musik, berkomunikasi dengan pemain lain, dan memberikan sentuhan pribadinya. Di sinilah saya melihat keistimewaan Ireng Maulana dan Jopie Item. Akan tetapi, dari keduanya, ada satu hal yang secara khusus menarik perhatian saya dari Jopie Item. Ketelitiannya terhadap suara gitar dan keseluruhan tata suara ketika bermain bersama dalam sebuah grup musik. Jopie bukan sekadar seorang gitaris yang piawai. Ia memiliki kepekaan luar biasa terhadap bagaimana sebuah gitar harus terdengar di tengah-tengah permainan sebuah band. Ia sangat memperhatikan keseimbangan suara, karakter instrumen, hingga detail-detail kecil yang bagi orang awam mungkin tidak terdengar. Tidak mengherankan jika banyak rekan musisinya menganggap Jopie bukan hanya seorang gitaris yang handal, tetapi juga memiliki kemampuan seperti seorang sound engineer. Saya sendiri beberapa kali menyaksikan hal itu ketika kami melakukan rekaman di studio. Jopie sering kali terlihat begitu serius mendengarkan hasil permainan band. Ia dapat mengetahui dengan cepat bagian mana yang terdengar kurang pas, instrumen mana yang terlalu dominan, atau bagaimana suara gitar seharusnya ditempatkan dalam keseluruhan komposisi. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Jopie tampak lebih dominan dalam mengatur komposisi suara dibandingkan sound engineer yang bertugas di studio. Hal itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Jopie memang tumbuh dan berkembang sangat dekat dengan dunia rekaman. Ia seakan-akan lahir dari studio rekaman, bukan semata-mata dari panggung pertunjukan. Karena itu, cara pandangnya terhadap musik tidak berhenti pada bagaimana sebuah lagu dimainkan, tetapi juga tentang proses bagaimana lagu tersebut akhirnya terdengar. Bagi saya yang belajar musik secara otodidak, pengalaman seperti itu merupakan pelajaran yang sangat berharga. Saya belajar bahwa musik ternyata memiliki dunia yang sangat luas. Memainkan gitar hanyalah salah satu bagian kecil dari keseluruhan proses. Ada rasa, aransemen, harmoni, ritme, karakter suara, keseimbangan antarinstrumen, dan tentu saja komunikasi di antara para pemain. Musik dan Persahabatan Ada satu hal lain yang membuat pengalaman bermusik menjadi istimewa bagi saya yakni sebuah persahabatan. Ketika bermain musik bersama, latar belakang seseorang seolah menjadi tidak terlalu penting. Di antara para pemain musik, yang berbicara adalah gitar, saksofon, drum, keyboard, bass, dan suara manusia. Pangkat, jabatan, usia, atau profesi menjadi tidak terlalu relevan. Yang penting adalah bagaimana kami bisa memainkan sebuah lagu bersama-sama dan menikmatinya. Mungkin karena itulah saya selalu merasa nyaman berada di tengah-tengah para musisi. Ketika saya menyusun otobiografi pertama saya pada tahun 2005, yang kemudian saya beri judul Dari Segara ke Angkasa, saya merasa perlu menghadirkan sisi lain dari kehidupan saya yang tidak banyak diketahui orang. Saya kemudian meminta Jopie Item untuk menuliskan sesuatu sebagai teman bermain musik saya. Bagi saya, kehadiran tulisan Jopie dalam buku tersebut memiliki arti tersendiri. Ia bukan sekadar seorang musisi terkenal yang saya kenal, melainkan seorang sahabat yang pernah berbagi panggung, berbagi studio rekaman, dan berbagi kegembiraan melalui musik. Kini, ketika kegiatan bermusik itu sudah berhenti, saya justru semakin menyadari betapa besar arti pengalaman tersebut dalam kehidupan saya. Musik telah memberikan saya ruang untuk tetap aktif, bertemu sahabat-sahabat baru, belajar sesuatu yang sama sekali berbeda dari dunia penerbangan dan militer, serta menikmati kehidupan dengan cara yang sederhana. Dan kalau ada yang bertanya apa yang paling saya sukai ketika bermain bersama teman-teman musisi, jawabannya sederhana, gitar, saksofon, bernyanyi dan berbagi cerita lucu. Sejatinya saya bukan seorang musisi yang hebat. Saya hanya kebetulan menemukan kebahagiaan dengan main musik bersama, memainkan lagu-lagu yang saya sukai, dan sesekali mencoba mengikuti permainan para musisi yang jauh lebih handal. Mungkin justru di situlah keindahannya. Musik tidak selalu membutuhkan kesempurnaan. Musik membutuhkan hati, rasa, dan kebersamaan. Saya senang berteman dengan banyak musisi dan berjumpa dengan banyak teman teman penggemar musik. Itu sebabnya , ketika saya menyusun buku otobiografi saya di tahun 2005, berjudul Dari Segara ke Angkasa saya secara khusus minta Jopie Item untuk turut menulis tentang apa kesan nya terhadap saya sebagai pribadi. Berikut ini adalah tulisan Jopie Item: Pertama kali saya mengenal beliau dalam sebuah acara "Lepas Sambut" yang biasa diadakan oleh Perwira Tinggi Angkatan Bersenjata saat terjadi pergantian pucuk pimpinan di lingkungan TNI. Jika tidak salah ingat, ketika itu beliau masih berpangkat Marsekal Muda TNI. Di tengah acara, muncullah seorang pria gagah dengan kemeja lengan panjang bermotif batik warna biru, membawa alat musik tiup, lalu naik ke atas panggung. Ia menyapa saya dengan ramah dan mengatakan ingin menyumbangkan beberapa lagu dengan saxophone-nya. Sebagai pengisi hiburan dalam acara tersebut, saya tentu mempersilakan. Namun dalam hati saya sempat bergumam, "Heh, ada juga ya orang yang nekat begini, hehehe..." Akhirnya, dari alat tiupnya mengalirlah beberapa lagu. Ternyata hasilnya lumayan dan sama sekali tidak mengecewakan. Beberapa tahun kemudian, kami bertemu kembali. Hanya saja bedanya, pangkat saya tidak pernah naik, tetap sebagai pemain musik, sementara beliau sudah menduduki jabatan sebagai Kepala Staf TNI AU (Kasau). Yang lebih mengagumkan, di samping kegemarannya di bidang olahraga, hobi bermain musiknya tidak pernah ditinggalkan. Di waktu-waktu senggang, beliau sering bermain musik dengan saya, dan kami sempat membuat rekaman lagu-lagu bersama. Kecintaannya terhadap musik juga dibuktikan dengan pemberian beberapa set alat musik lengkap dengan sound system kepada sejumlah Pangkalan TNI AU, untuk menggantikan alat-alat musik yang sudah sangat tua. Beliau tahu bahwa banyak perwira, staf, dan para penerbang tempur yang suka dan bisa bermain musik serta bernyanyi dengan baik. Sungguh, berbahagialah TNI AU memiliki sosok Kasau seperti Chappy Hakim. Beliau adalah sosok yang gagah, berwibawa, rendah hati, pemurah, pemaaf, berjiwa seniman, namun juga tegas! Ada pula sisi kocaknya yang kadang membuat suasana lebih santai. Hehehe... Berkenalan, berteman, dan bermain musik bersama beliau adalah pengalaman yang sangat menyenangkan. Ya, itulah kesan saya tentang seorang Chappy Hakim. Jopie Item - Bekasi, Januari 2005 Demikianlah, belakangan ini, sejak Hotel Sultan ditutup, saya sudah tidak lagi bermain musik secara rutin. Sesekali saya kumpulkan teman teman penggemar musik untuk bermusik ria di rumah saja. Jakarta, 30 Agustus 2026 Penulis: Chappy Hakim