BANJARNEGARA - Apa yang membuat seseorang bertahan dalam sebuah hubungan atau organisasi? Tidak selalu target. Tidak selalu keuntungan. Bahkan tidak selalu materi. Ada kalanya, alasan paling sederhana justru adalah karena seseorang merasa nyaman berjalan bersama orang-orang di dalamnya. Hubungan yang baik tidak hanya kuat ketika ada kepentingan. Hubungan yang baik membuat kehadiran satu sama lain menjadi sumber kebahagiaan, energi dan makna. Gagasan ini penting ketika kita berbicara tentang kepemimpinan. Sebab pemimpin tidak hanya berurusan dengan angka, target dan pencapaian. Pemimpin juga berurusan dengan manusia. Organisasi Dibangun oleh Manusia Sistem yang bagus memang penting bagi organisasi. Tetapi sistem tidak berjalan dengan sendirinya. Ada manusia yang menjalankan sistem tersebut. Karena itu, efektivitas organisasi sangat berkaitan dengan bagaimana manusia di dalamnya bekerja bersama. Di sinilah kepercayaan menjadi fondasi. Trust membuat kebersamaan menjadi tempat yang aman. Kepercayaan memungkinkan seseorang bekerja tanpa terus-menerus merasa dicurigai atau harus membuktikan dirinya. Namun kepercayaan tidak bisa hanya diminta. Kepercayaan harus dibangun dan diberikan. Ketika kepercayaan tumbuh, hubungan dapat bergerak lebih cepat. Kolaborasi menjadi lebih mudah dan eksekusi pekerjaan dapat berjalan dengan lebih baik. Pemimpin Perlu Membangun Manusia Pemimpin besar tidak hanya berpikir tentang bagaimana mencapai tujuan organisasi. Ia juga perlu memikirkan siapa saja orang yang akan diajak mencapai tujuan tersebut. Membangun orang yang tepat menjadi bagian penting sebelum membawa organisasi menuju tujuan besar. Sebab manusia cenderung lebih bersedia mengikuti orang yang mereka percaya dan hormati. Dari sini kita dapat melihat bahwa kepemimpinan pada dasarnya bukan hanya persoalan posisi. Jabatan dapat memberikan kewenangan, tetapi kepercayaan harus dibangun melalui hubungan. Belajar dari Kebersamaan Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar Pelajaran tentang kepemimpinan dan kebersamaan juga dapat direnungkan melalui sirah Nabawiyah. Hubungan Rasulullah ﷺ dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi salah satu gambaran kedekatan dalam perjalanan perjuangan. Ketika hijrah membawa keduanya ke Gua Tsur, Abu Bakar bukan sekadar seseorang yang mengikuti perjalanan Rasulullah ﷺ. Ia adalah sahabat perjalanan, sahabat perjuangan dan sahabat kehidupan. Kebersamaan itu tidak berlangsung hanya ketika keadaan mudah. Mereka bersama dalam perjalanan yang penuh tantangan dan risiko. Dalam berbagai fase perjuangan, Rasulullah ﷺ juga bersama para sahabatnya. Mereka bermusyawarah, makan bersama, menghadapi kesulitan bersama dan menjalani perjalanan perjuangan bersama. Ada pelajaran penting di sana: tujuan besar membutuhkan hubungan yang kuat antarmanusia. Jangan Membuat Orang Hanya Hadir karena Gaji Dalam organisasi, job description, KPI dan gaji tentu memiliki fungsi masing-masing. Namun, hubungan kerja akan terasa berbeda ketika manusia di dalamnya merasa dihargai, dipercaya dan diterima. Ketika seseorang merasa menjadi bagian dari perjalanan, muncul sesuatu yang tidak selalu bisa dibeli dengan kompensasi. Loyalitas. Rasa memiliki. Kesediaan berkorban. Dan hati yang diberikan untuk pekerjaan yang diyakini bermakna. Karena itu, menarik jika sebuah organisasi tidak hanya bertanya, “Berapa target yang sudah dicapai?” Tetapi juga bertanya: “Bagaimana perasaan orang-orang yang mencapai target tersebut?” Apakah mereka merasa tumbuh? Apakah mereka merasa dihargai? Apakah mereka merasa dipercaya? Dan apakah mereka bahagia berjalan bersama orang-orang di dalam organisasi tersebut? Kepemimpinan yang Membuat Perjalanan Layak Diperjuangkan "Kepemimpinan Tertinggi adalah ketika kehadiran kita membuat mereka merasa bahwa perjalanan menuju tujuan itu layak diperjuangkan bersama." — Abi Darwis Kalimat tersebut membawa kita pada pemahaman bahwa pemimpin tidak hanya bertugas menunjukkan tujuan. Pemimpin juga memiliki peran membuat perjalanan menuju tujuan tersebut terasa layak. Visi besar hampir tidak pernah dibangun sendirian. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia masuk ke dalam perjalanan yang sama. Karena itu, pemimpin perlu menciptakan ruang di mana manusia merasa dihargai, dipercaya, bertumbuh dan bahagia karena berjalan bersama. Pada akhirnya, keberhasilan kepemimpinan bukan hanya tentang seberapa jauh organisasi bergerak. Ada pertanyaan lain yang juga layak diajukan: Apakah orang-orang yang berjalan bersama kita menikmati perjalanan tersebut? Sebab kepemimpinan yang bermakna bukan hanya membawa manusia menuju tujuan. Ia juga membuat manusia mampu menikmati, memaknai dan mencintai perjalanan bersama menuju tujuan itu. Dan mungkin, di situlah kita menemukan bentuk kepemimpinan yang membuat seseorang bukan sekadar diikuti karena jabatan, tetapi dirindukan karena kehadirannya.