JAKARTA, NETRLNEWS.COM - Ada orang yang kalau cerita hidupnya, kamu bakal bingung harus ketawa bareng atau ikut sedih. Soalnya dia sendiri yang pertama kali ketawa kencang waktu ngungkit kisah pahitnya. Bukan karena lucu. Tapi karena kalau dipikir-pikir, hidupnya udah kayak sinetron receh yang sialnya terus bersambung. "Aku pernah ditinggal tanpa pamit, lucu banget ya? Aku sempat nungguin dia balas pesan selama tiga bulan, padahal ternyata dia udah nikah," katanya sambil ketawa, dan kamu cuma bisa senyum kaku, karena nggak tahu mana yang lebih nyesek, kisahnya, atau caranya mengemas semua itu seperti bahan stand-up comedy. Tapi begitulah dia. Dia terlalu sering kecewa sampai tangis pun sudah tidak terasa melegakan. Jadi dia ubah semuanya jadi cerita. Jadi lelucon. Jadi bahan becandaan, karena itu satu-satunya cara buat bikin beban di dadanya terasa ringan, walau cuma beberapa menit. Orang seperti itu bukan sedang mencari simpati. Dia cuma butuh ruang untuk bicara tanpa diburu-buru untuk sembuh. Ketawanya itu bukan tanda dia udah ikhlas, tapi mungkin dia udah terlalu capek untuk marah atau nangis lagi. Ketawa jadi penanda: “Lihat nih, aku masih bisa hidup walau semuanya absurd.” Dan tahu tidak, orang-orang seperti ini sebenarnya menyimpan lautan luka yang dalam. Tapi dia sudah terlalu sering merasa sendirian dalam duka, sampai-sampai satu-satunya pelarian adalah menjadikannya tontonan. Bahkan penderitaan pun dia bungkus rapi biar bisa dikasih tawa, bukan iba. Kalau suatu hari kamu bertemu orang seperti itu, yang cerita tentang patahnya sambil ketawa lepas, jangan buru-buru mikir dia baik-baik saja. Mungkin itu cuma cara terakhirnya buat bilang, “Tolong jangan tanya aku kuat atau nggak. Aku cuma nggak tahu lagi harus gimana.”