KINSHASA - Organisasi medis internasional Medecins Sans Frontieres (MSF) memperkirakan jumlah korban sebenarnya dalam wabah Ebola yang masih berlangsung di Republik Demokratik (RD) Kongo kemungkinan melampaui angka resmi yang telah dilaporkan. MSF pada Kamis (1/10) menyebut adanya kesenjangan dalam pengawasan dan pendeteksian kasus sebagai salah satu faktor yang membuat jumlah korban sulit diketahui secara menyeluruh. Kondisi tersebut semakin diperburuk oleh meningkatnya ketidakamanan yang menghambat berbagai upaya pengendalian epidemi. Sejak wabah tersebut pertama kali muncul, lebih dari 8.000 kasus telah dikonfirmasi dan sekitar 4.000 kematian dilaporkan. MSF menyatakan wabah itu merupakan yang terbesar sekaligus paling mematikan yang pernah tercatat di RD Kongo. Dalam pernyataannya, MSF juga mengonfirmasi seorang staf yang terlibat dalam penanganan Ebola dinyatakan positif terinfeksi virus Bundibugyo. Staf tersebut kini menjalani proses evakuasi medis menuju Belanda dengan mengikuti protokol medis yang ketat. "Tenaga kesehatan termasuk di antara mereka yang paling berisiko," kata MSF. Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa kekerasan yang terus meningkat di wilayah timur RD Kongo turut menyulitkan penanganan wabah Ebola. Hambatan tersebut bertambah setelah kebakaran menghancurkan sebuah pusat transit utama yang digunakan untuk pasien yang diduga terinfeksi. Fasilitas itu berada di kamp pengungsi Kigonze, Provinsi Ituri. Wabah yang diumumkan pada Mei tersebut kini tercatat sebagai wabah Ebola terbesar kedua di dunia setelah epidemi yang melanda Afrika Barat pada 2014-2016.