SURABAYA, NETRALNEWS.COM - Dampak krisis demografi Jepang terus meluas. Bukan hanya kekurangan tenaga kerja, Jepang kini juga terancam kehilangan beragam festival tradisional yang telah menjadi bagian dari budaya bangsa selama berabad-abad. Asahi Shimbun melaporkan keberlanjutan festival tradisional di seluruh Jepang kini menghadapi tantangan serius. Penurunan populasi muda telah memaksa penyelenggara berbagai festival budaya untuk mengubah aturan atau bahkan mengakhiri tradisinya. Kuil Kokusekiji di Kota Oshu, Prefektur Iwate, menggelar festival Somin-sai untuk terakhir kalinya pada bulan Februari 2024. Masalahnya, festival yang berusia lebih dari 1000 tahun tersebut kehilangan penerus. Hanya tersisa 14 keluarga yang mendukung festival Somin-sai. Sebagian besar anggotanya berusia 60-70 tahun dan tidak memiliki keturunan yang dapat melanjutkan tradisi. Kuil Isobe Hachimangu di Kota Hikari, Prefektur Yamaguchi, telah menyelenggarakan festival musim panas selama 230 tahun. Dahulu, partisipan festival bergotong-royong mengangkat mikoshi (miniatur kuil Shinto) dan menabuh genderang. Namun, mikoshi dalam arak-arakan festival yang diadakan pada bulan Juli tahun ini "diangkut" oleh truk pikap. Komunitas setempat tidak dapat menemukan cukup orang untuk mengangkat mikoshi karena populasi yang menua. Persentase demografi yang berusia 65 tahun ke atas di wilayah ini sudah mencapai lebih dari 65%. Bahkan, tidak ada siswa SMP dan SMA yang bertempat tinggal di sekitar kuil tersebut. Festival Minazuki Matsuri di Kota Wajima, Prefektur Ishikawa, terpaksa menghapus prosesi arak-arakan mikoshi dalam agenda acara setelah populasinya merosot dari 740 menjadi 540 pasca-gempa Semenanjung Noto. Mereka menggantinya dengan parade anak-anak mengusung lentera dan menabuh genderang dengan harapan generasi muda tetap menjaga tradisi ini. Kuil Susanoojinja di Kota Kurume, Prefektur Fukuoka, juga menghadapi masalah kekurangan pengusung mikoshi. Demi mengatasinya, mereka meminta bantuan pemerintah dan merekrut partisipan dari luar wilayah. Beberapa penyelenggara festival lain mengalami krisis serupa meski tidak memiliki agenda angkat mikoshi. Mereka pun terpaksa mengubah peraturan demi menjaga eksistensinya. Festival Soma-Nomaoi di Minami-Soma, prefektur Fukushima, mencabut batas umur peserta perempuan demi mempertahankan acara yang telah diadakah sejak era Heian (794-1185). Sebelumnya, festival hanya memperbolehkan perempuan belum menikah di bawah usia 20 tahun untuk berpartisipasi dalam parade samurai berkuda. Mulai tahun 2025, semua perempuan boleh berpartisipasi tanpa mempedulikan syarat usia dan status pernikahan.